<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569</id><updated>2012-02-16T16:16:02.681+07:00</updated><title type='text'>.:: B O N D A N   P A L E S T I N ::.</title><subtitle type='html'>JURNAL KEPERAWATAN dan PENELITIAN KESEHATAN</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-8447908045668027112</id><published>2008-07-03T20:58:00.002+07:00</published><updated>2008-07-03T21:44:53.550+07:00</updated><title type='text'>PERAWAT KOMUNITAS SEBAGAI PERAWAT EDUKATOR DIABETES</title><content type='html'>Perawat memiliki peran kunci sebagai edukator dalam model PKPDM bagi lansia diabetisi (Diabetes Control and Complications Trial Research Group, 1993, 1995; Franz, Callahan, &amp;amp; Castle, 1994; Levetan, Salas, Wilets, &amp;amp; Zurnoff, 1995). Perawat edukator diabetes merupakan salah satu bidang spesialisasi keperawatan komunitas yang memiliki peran sebagai instruktur PKPDM. Tugas perawat edukator diabetes adalah (1) memberikan pendidikan kesehatan mengenai pengelolaan diabetes secara mandiri secara berkala, (2) intervensi perilaku, dan (3) konseling dan coaching pengelolaan diabetes secara mandiri (Mensing et al., 2007). Berdasarkan hal tersebut penulis memberikan batasan pengertian perawat komunitas sebagai perawat edukator diabetes, yaitu praktik profesi sebagai sintesis dari ilmu keperawatan, kesehatan masyarakat (Hitchcock, Schubert &amp;amp; Thomas, 1999), dan sosial (Helvie, 1998; Ervin, 2002) yang diterapkan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan diabetisi secara menyeluruh (Helvie, 1998; Ervin, 2002).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perawat komunitas sebagai edukator diabetes memiliki dua tingkat, yaitu perawat generalis dan perawat spesialis. Helvie (1998) berpendapat bahwa perawat generalis memiliki latar belakang pendidikan S1 dengan batasan kompetensi pada asuhan keperawatan diabetisi di tingkat individu dan keluarga. Sedangkan menurut Ervin (2002), batasan kompetensi perawat generalis pada asuhan keperawatan diabetisi di tingkat individu, keluarga, kelompok dan ketrampilan dasar menangani agregat diabetisi. Helvie dan Ervin sepakat bahwa perawat spesialis dengan latar belakang pendidikan master (S2) dan doktoral (S3) harus memiliki kompetensi klinis dan mengelola agregat diabetisi dari tingkat individu sampai dengan populasi. Seorang spesialis keperawatan komunitas harus mampu melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program serta pelayanan kesehatan bagi agregat diabetisi di tingkat populasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karakteristik keperawatan komunitas sebagai perawat edukator diabetes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keperawatan komunitas dalam konteks asuhan keperawatan pada agregat lansia diabetisi memiliki beberapa karakteristik, yaitu: (1) berfokus pada populasi lansia baik yang sehat maupun yang berisiko menderita DM; (2) berorientasi pada peningkatan peran serta aktif lansia dalam pengelolaan DM secara mandiri; (3) berfokus pada upaya promotif dan preventif baik pencegahan primer, sekunder dan tersier; (4) intervensi pendidikan kesehatan dalam pengelolaan diabetes secara mandiri (PKPDM) di tingkat komunitas atau populasi; dan (5) memiliki perhatian terhadap peningkatan derajat kesehatan pada semua kelompok umur terutama kelompok berisiko DM (Stanhope &amp;amp; Lancaster, 2004). Selanjutnya spesialis keperawatan komunitas memiliki enam area pokok praktik keperawatan dalam pendekatan PKPDM, yaitu: (1) upaya promosi kesehatan melalui gaya hidup sehat; (2) upaya pencegahan primer, sekunder dan tersier pada agregat diabetisi; (3) intervensi keperawatan lansia diabetisi; (4) rehabilitasi lansia diabetisi dengan permasalahan khusus, misalnya pasca hospitalisasi atau penurunan kapasitas fungsional; (5) evaluasi program PKPDM di tingkat populasi; dan (6) riset keperawatan tentang lansia diabetisi (Allender &amp;amp; Spradley, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Strategi Intervensi dan Pengorganisasian Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi intervensi keperawatan komunitas dalam pendekatan PKPDM adalah (1) kemitraan (partnership), (2) pemberdayaan (empowerment), (3) pendidikan kesehatan, dan (4) proses kelompok (Hitchcock, Schubert, &amp;amp; Thomas 1999; Helvie, 1998). Strategi intervensi pendidikan kesehatan dalam pengelolaan diabetes secara mandiri juga diuraikan pada bagian berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;spahttp: com="" img="" gifn="" style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/spahttp:&gt;, kemitraan memiliki definisi hubungan atau kerja sama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau memberikan manfaat (Depkes RI, 2005). Perawat spesialis komunitas perlu membangun dukungan, kolaborasi, dan koalisi sebagai suatu mekanisme peningkatan peran serta aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi implementasi PKPDM. Anderson dan McFarlane (2000) dalam hal ini mengembangkan model keperawatan komunitas yang memandang masyarakat sebagai mitra (community as partner model). Fokus dalam model tersebut menggambarkan dua prinsip pendekatan utama keperawatan komunitas, yaitu (1) lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang menekankan anggota masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan, dan (2) proses keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi dasar mekanisme kolaborasi perawat spesialis komunitas dengan masyarakat tersebut adalah hubungan kemitraan yang dibangun memiliki dua manfaat sekaligus yaitu meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dan keberhasilan program kesehatan masyarakat (Kreuter, Lezin, &amp;amp; Young, 2000).  Mengikutsertakan masyarakat dan partisipasi aktif mereka dalam pembangunan kesehatan dapat meningkatkan dukungan dan penerimaan terhadap kolaborasi profesi kesehatan dengan masyarakat (Schlaff, 1991; Sienkiewicz, 2004). Dukungan dan penerimaan tersebut dapat diwujudkan dengan meningkatnya sumber daya masyarakat yang dapat dimanfaatkan, meningkatnya kredibilitas program kesehatan, serta keberlanjutan kemitraan perawat spesialis komunitas dengan masyarakat (Bracht, 1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemitraan dalam PKPDM dapat dilakukan perawat komunitas melalui upaya membangun dan membina jejaring kemitraan dengan pihak-pihak yang terkait (Robinson, 2005) dalam upaya penanganan DM pada lansia diabetisi baik di  level keluarga, kelompok, maupun komunitas. Pihak-pihak tersebut adalah profesi kesehatan lainnya, stakes holder (Puskesmas, Dinas Kesehatan Kota, Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Pemerintah Kota), donatur/sponsor, sektor terkait, organisasi masyarakat (TP-PKK, Lembaga Lansia Indonesia/LLI, Perkumpulan Diabetisi, atau Klub Jantung Sehat Yayasan Jantung Indonesia), dan tokoh masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru (Hitchcock, Scubert, &amp;amp; Thomas, 1999). Pemberdayaan, kemitraan dan partisipasi memiliki inter-relasi yang kuat dan mendasar. Perawat spesialis komunitas ketika menjalin suatu kemitraan dengan masyarakat maka dirinya juga harus memberikan dorongan kepada masyarakat. Kemitraan yang dijalin memiliki prinsip “bekerja bersama” dengan masyarakat bukan “bekerja untuk” masyarakat, oleh karena itu perawat spesialis komunitas perlu memberikan dorongan atau pemberdayaan kepada masyarakat agar muncul partisipasi aktif masyarakat (Yoo et. al, 2004). Membangun kesehatan masyarakat tidak terlepas dari upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan dan partisipasi masyarakat (Nies &amp;amp; McEwan, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemandirian agregat lansia diabetisi dalam PKPDM berkembang melalui  proses pemberdayaan. Tahapan pemberdayaan yang dapat dilalui oleh agregat lansia diabetisi (Sulistiyani, 2004), yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan kemampuan dalam mengelola DM secara mandiri. Dalam tahap ini, perawat komunitas berusaha mengkondisikan lingkungan yang kondusif bagi efektifitas proses pemberdayaan agregat lansia diabetisi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tahap transformasi kemampuan berupa pengetahuan dan ketrampilan dalam pengelolaan DM secara mandiri agar dapat mengambil peran aktif dalam lingkungannya. Pada tahap ini agregat lansia diabetisi memerlukan pendampingan perawat komunitas. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tahap peningkatan pengetahuan dan ketrampilan sehingga terbentuk inisiatif dan kemampuan inovatif untuk mengantarkan pada kemandirian mengelola DM. Pada tahap ini lansia diabetisi dapat melakukan apa yang diajarkan secara mandiri. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, strategi utama upaya prevensi terhadap kejadian DM adalah dilakukannya kegiatan pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mengurangi disabilitas serta mengaktualisasikan potensi kesehatan yang dimiliki oleh individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat (Swanson &amp;amp; Nies, 1997). Pendidikan kesehatan dapat dikatakan efektif apabila dapat menghasilkan perubahan pengetahuan, menyempurnakan sikap, meningkatkan ketrampilan, dan bahkan mempengaruhi perubahan di dalam perilaku atau gaya hidup individu, keluarga, dan kelompok lansia diabetisi (Pender, Murdaugh, &amp;amp; Parsons, 2002). Pendidikan kesehatan diharapkan dapat mengubah perilaku lansia diabetisi untuk patuh terhadap saran pengelolaan DM secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan kesehatan dapat dilakukan secara individu, kelompok, maupun komunitas. Upaya pendidikan kesehatan di tingkat komunitas penting dilakukan dengan beberapa alasan, yaitu: individu akan mudah mengadopsi perilaku sehat apabila mendapatkan dukungan sosial dari lingkungannya terutama dukungan keluarga, intervensi di tingkat komunitas dapat mengubah struktur sosial yang kondusif terhadap program promosi kesehatan, unsur-unsur di dalam komunitas dapat membentuk sinergi dalam upaya promosi kesehatan (Meillier, Lund, &amp;amp; Kok, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi keperawatan melalui pendidikan kesehatan untuk menurunkan risiko DM dan komplikasinya dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) pencegahan primer, (2) pencegahan sekunder, dan (3) pencegahan tersier. Pendidikan kesehatan dalam tahap pencegahan primer bertujuan untuk menurunkan risiko yang dapat mengakibatkan DM. Pendidikan kesehatan dalam tahap pencegahan sekunder bertujuan untuk memotivasi kelompok berisiko melakukan uji skrining dan penatalaksanaan gejala DM yang muncul, sedangkan pada tahap pencegahan tersier, perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan yang bersifat readaptasi, pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi DM terulang dan memelihara stabilitas kesehatan lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, proses kelompok merupakan salah satu strategi intervensi keperawatan yang dilakukan bersama-sama dengan masyarakat melalui pembentukan sebuah kelompok atau kelompok swabantu (self-help group). Intervensi keperawatan di dalam tatanan komunitas menjadi lebih efektif dan mempunyai kekuatan untuk melaksanakan perubahan pada individu, keluarga dan komunitas apabila perawat komunitas bekerja bersama dengan masyarakat. Berbagai kelompok di masyarakat dapat dikembangkan sesuai dengan inisiatif dan kebutuhan masyarakat setempat, misalnya Posbindu, Bina Keluarga Lansia, atau Karang Lansia. Kegiatan pada kelompok ini disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai oleh lansia agar lansia dapat mencapai masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna, dan produktif selama mungkin (Depkes RI, 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelitian, lansia yang mengikuti secara aktif sebuah kelompok sosial dan menerima dukungan dari kelompok tersebut akan memperlihatkan kondisi kesehatan fisik dan mental yang lebih baik daripada lansia yang lebih sedikit mendapatkan dukungan kelompok (Krause, 1997). Bentuk dukungan kelompok ini juga terkait dengan rendahnya risiko morbiditas dan mortalitas lansia (Berkman, Leo-Summers, &amp;amp; Horwitz, 1992). Meskipun penjelasan risiko morbiditas dan mortalitas tersebut tidak lengkap dikemukakan, beberapa laporan menekankan bahwa dukungan yang diterima lansia dapat meningkatkan pemanfaatan dan kepatuhan individu terhadap pelayanan yang diinginkan dengan mengikuti informasi yang diberikan, ikut serta dalam kelompok dan meningkatkan perilaku mencari bantuan kesehatan (Cohen, 1988).&lt;br /&gt;Berdasarkan strategi intervensi yang telah ditentukan oleh perawat komunitas seperti tersebut di atas, selanjutnya dilakukan pengorganisasian masyarakat. Pengorganisasian masyarakat sebagai suatu proses merupakan sebuah perangkat perubahan komunitas yang memberdayakan individu dan kelompok berisiko (agregat) dalam menyelesaikan masalah komunitas dan mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Menurut Helvie (1998), terdapat tiga model pengorganisasian masyarakat yaitu (1) model pengembangan masyarakat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(locality development)&lt;/span&gt;, (2) model perencanaan sosial &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(social planning)&lt;/span&gt;, dan (3) model aksi sosial &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(social action)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Model pengembangan masyarakat&lt;/span&gt; didasarkan pada upaya untuk memaksimalkan perubahan yang terjadi di komunitas, di mana masyarakat dilibatkan dan berpartisipasi aktif dalam menentukan tujuan dan pelaksanaan tindakan. Tujuan dari model pengembangan masyarakat adalah (1) agar individu dan kelompok-kelompok di masyarakat dapat berperan-serta aktif  dalam setiap tahapan proses keperawatan, dan (2) perubahan perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan) dan kemandirian masyarakat yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatannya di masa mendatang (Nies &amp;amp; McEwan, 2001; Green &amp;amp; Kreuter, 1991). Sejalan dengan Mapanga dan Mapanga (2004) tujuan dari proses keperawatan komunitas pada lansia diabetisi adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian fungsional agregat lansia diabetisi melalui pengembangan kognisi dan kemampuan merawat dirinya sendiri. Pengembangan kognisi dan kemampuan agregat lansia diabetisi difokuskan pada dayaguna aktifitas kehidupan, pencapaian tujuan, perawatan mandiri, dan adaptasi lansia diabetisi terhadap permasalahan kesehatan sehingga akan berdampak pada peningkatan partisipasi aktif lansia diabetisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Model perencanaan sosial &lt;/span&gt;dalam pengelolaan agregat lansia diabetisi lebih menekankan pada teknik menyelesaikan masalah kesehatan agregat lansia diabetisi dari pengelola program lansia di birokrasi, misalnya Dinas Kesehatan atau Puskesmas. Kegiatan bersifat kegiatan top-down planning. Tugas perencana program kesehatan lansia adalah menetapkan tujuan kegiatan, menyusun rencana kegiatan, dan mensosialisasikan rencana tindakan kepada masyarakat. Perencana program harus memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks termasuk kemampuan untuk mengorganisasikan lintas sektor terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Model aksi sosial &lt;/span&gt;menekankan pada pengorganisasian masyarakat untuk memperjuangkan isu-isu tertentu terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi agregat lansia diabetisi, misalnya kampanye gaya hidup sehat untuk mencegah penyakit diabetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tingkat dan bentuk intervensi keperawatan komunitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;a. Tingkat pencegahan intervensi keperawatan meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prevensi primer&lt;/span&gt; ditujukan bagi orang-orang yang termasuk kelompok risiko tinggi, yakni mereka yang belum menderita tetapi berpotensi untuk menderita DM. Perawat komunitas harus mengenalkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya DM dan upaya yang perlu dilakukan untuk menghilangkan faktor-faktor tersebut. Sejak masa prasekolah hendaknya telah ditanamkan pengertian tentang pentingnya latihan jasmani teratur, pola dan jenis makanan yang sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk, dan risiko merokok bagi kesehatan.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prevensi sekunder&lt;/span&gt; bertujuan untuk mencegah atau menghambat timbulnya penyulit dengan tindakan deteksi dini dan memberikan intervensi keperawatan sejak awal penyakit. Dalam mengelola lansia diabetisi, sejak awal sudah harus diwaspadai dan sedapat mungkin dicegah kemungkinan terjadinya penyulit menahun. Penyuluhan mengenai DM dan pengelolaannya secara mandiri memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Sistem rujukan yang baik akan sangat mendukung pelayanan kesehatan primer yang merupakan ujung tombak pengelolaan DM. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prevensi tersier&lt;/span&gt;. Apabila sudah muncul penyulit menahun DM, maka perawat komunitas harus berusaha mencegah terjadinya kecacatan/komplikasi lebih lanjut dan merehabilitasi pasien sedini mungkin, sebelum kecacatan tersebut menetap. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk melindungi upaya rekonstitusi lansia diabetisi, yaitu: mendorong lansia untuk patuh mengikuti program PKPDM, pendidikan kesehatan kepada lansia dan keluarga untuk mencegah hipoglikemi terulang dan melihara stabilitas klien (Allender &amp;amp; Spradley, 2005).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;b. Bentuk intervensi keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat komunitas terdiri dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Observasi&lt;/span&gt;. Observasi diperlukan dalam pelaksanaan keperawatan lansia diabetisi. Observasi dilakukan sejak pengkajian awal dilakukan dan merupakan proses yang terus menerus selama melakukan kunjungan (Hitchcock, Schubert &amp;amp; Thomas, 1999). Lingkungan lansia diabetisi yang perlu diobservasi yaitu keadaan lansia diabetisi, kondisi rumah, interaksi antar keluarga, tetangga dan komunitas. Observasi diperlukan untuk menyusun dan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada lansia diabetisi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terapi modalitas&lt;/span&gt;. Terapi modalitas adalah suatu sarana penyembuhan yang diterapkan pada lansia diabetisi dengan tanpa disadari dapat menimbulkan respons tubuh berupa energi sehingga mendapatkan efek penyembuhan (Starkey, 2004). Terapi modalitas yang diterapkan pada lansia diabetisi, yaitu: manajemen nyeri, perawatan gangren, perawatan luka baru, perawatan luka kronis, latihan peregangan, range of motion, dan terapi hiperbarik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terapi komplementer&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;complementary and alternative medicine&lt;/span&gt;/CAM). Terapi komplementer adalah penyembuhan alternatif untuk melengkapi atau memperkuat pengobatan konvensional maupun biomedis (Cushman &amp;amp; Hoffman, 2004; Xu, 2004) agar bisa mempercepat proses penyembuhan. Pengobatan konvensional (kedokteran) lebih mengutamakan penanganan gejala penyakit, sedangkan pengobatan alami (komplementer) menangani penyebab penyakit serta memacu tubuh sendiri untuk menyembuhkan penyakit yang diderita (Sustrani, Alam &amp;amp; Hadibroto, 2005). &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; Ranah terapi komplementer dan bentuk-bentuk terapi komplementer untuk lansia diabetisi (Cushman &amp;amp; Hoffman, 2004):&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pengobatan alternative :  Terapi herbal, akupunktur, pengobatan herbal Cina&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Intervensi tubuh dan pikiran : Meditasi, hipnosis, terapi perilaku, relaksasi Benson, relaksasi progresif, guided imagery, pengobatan mental dan spiritual&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terapi bersumber bahan organik : Terapi diet DM, terapi jus, pengobatan orthomolekuler (terapi megavitamin), bee pollen, terapi lintah, terapi larva&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terapi pijat, terapi gerakan somatis, dan fungsi kerja tubuh : Pijat refleksi, akupresur, perawatan kaki, latihan kaki, senam &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terapi energi : Qigong, reiki, terapi sentuh, latihan seni pernafasan tenaga dalam, Tai Chi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bioelektromagnetik : Terapi magnet&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Bentuk intervensi terapi modalitas dan komplementer memerlukan kajian dan pengembangan yang disesuaikan dengan peran dan fungsi perawat, terutama pada agregat lansia diabetisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peran dan Fungsi Perawat Komunitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawat komunitas memiliki peran dan fungsi (Hitchcock, Schubert &amp;amp; Thomas, 1999; Alllender &amp;amp; Spradley, 2005), sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Advokat. Advokasi pada lansia diabetisi bertujuan untuk membantu lansia agar dapat mengelola DM secara mandiri. Peran advokasi, yaitu: selaku penasehat bagi individu, keluarga dan kelompok lansia diabetisi, memberikan informasi mengenai layanan kesehatan bagi diabetisi, dan mengupayakan sistem pelayanan kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan lansia diabetisi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kolaborator. Perawat komunitas bekerjasama dengan berbagai profesi kesehatan (dokter, ahli gizi, fisioterapis, dokter gigi), organisasi yang berada di komunitas (TP-PKK, posbindu, LLI, Perkumpulan Diabetisi, atau Klub Jantung Sehat Yayasan Jantung Indonesia), sekolah, dan pemerintah (Dinas Kesehatan, Dinas Sosial).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konsultan. Perawat komunitas berlaku sebagai konsultan bagi individu, keluarga, dan kelompok lansia diabetisi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelaksana. Perawat komunitas juga memberikan intervensi keperawatan langsung kepada lansia diabetisi sebagai individu, keluarga, kelompok dan populasi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konselor. Perawat komunitas melakukan konseling untuk membantu lansia diabetisi dalam memilih penyelesaian masalah yang sedang dihadapi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendidik. Perawat komunitas memberikan pendidikan kesehatan baik pada tingkat prevensi primer, sekunder maupun tersier agar lansia diabetisi dapat mengelola DM secara mandiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peneliti. Perawat komunitas berperan sebagai peneliti. Riset keperawatan dilakukan untuk memperkuat dasar-dasar keilmuan dalam kegiatan praktik klinik, pendidikan, dan menejemen keperawatan pada agregat lansia diabetisi (Ross, Mackenzie, &amp;amp; Smith, 2003). Sedangkan praktik keperawatan yang berdasarkan fakta empiris &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(evidence based nursing)&lt;/span&gt; bertujuan untuk memberikan cara menurut fakta terbaik dari riset yang diaplikasikan secara hati-hati dan bijaksana dalam tindakan preventif, pendeteksian, maupun asuhan keperawatan bagi agregat lansia diabetisi (Cullum, 2001). Penerapan hasil penelitian dalam intervensi keperawatan komunitas pada agregat lansia diabetisi bermanfaat untuk memperbaiki pelayanan kesehatan yang berorientasi pada efektifitas pembiayaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(cost effectiveness)&lt;/span&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Case manager. Perawat komunitas dalam mengelola program PKPDM menggunakan pendekatan manajemen kasus. Perawat komunitas melaksanakan lima tahapan dalam pengambilan keputusan, yaitu: pengkajian, perencanaan, mengadakan kerjasama (merujuk, koordinasi dan advokasi), memonitoring dan melakukan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-8447908045668027112?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/8447908045668027112/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=8447908045668027112' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/8447908045668027112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/8447908045668027112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2008/07/perawat-komunitas-sebagai-perawat.html' title='PERAWAT KOMUNITAS SEBAGAI PERAWAT EDUKATOR DIABETES'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-5461294577931494731</id><published>2008-06-22T15:05:00.001+07:00</published><updated>2008-06-22T15:36:13.083+07:00</updated><title type='text'>Perawatan Restoratif Untuk Mencegah Gagal-Pulih Pada Lanjut Usia di Masyarakat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Penuaan adalah suatu proses akumulasi dari kerusakan sel somatik yang diawali oleh adanya disfungsi sel hingga terjadi disfungsi organ dan pada akhirnya akan meningkatkan risiko kematian bagi seseorang.  Apabila dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, proses penuaan merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu.  Corak perkembangan proses penuaan bersifat lambat namun dinamis dan bersifat individual baik secara fisiologis  maupun patologis,  karena banyak dipengaruhi oleh riwayat maupun pengalaman hidup di masa lalu yang terkait dengan faktor biologis, psikologis,  spiritual, fungsional, lingkungan fisik dan sosial.  Perubahan struktur dan penurunan fungsi sistem tubuh tersebut diyakini memberikan dampak yang signifikan terhadap gangguan homeostasis   sehingga lanjut usia mudah menderita penyakit yang terkait dengan usia --misalnya: stroke, Parkinson, dan osteoporosis-- dan berakhir pada kematian.  Penuaan patologis dapat menyebabkan disabilitas pada lanjut usia sebagai akibat dari trauma,  penyakit kronis,  atau perubahan degeneratif yang timbul karena stres yang dialami oleh individu.  Stres tersebut dapat mempercepat penuaan dalam waktu tertentu, selanjutnya dapat terjadi akselerasi proses degenerasi pada lanjut usia apabila menimbulkan penyakit fisik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Proses penuaan terjadi secara linier dan dapat digambarkan melalui tiga tahap, yaitu: (1) kelemahan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (impairment)&lt;/span&gt;, (2) ketidakmampuan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (disability)&lt;/span&gt;, dan (3) kecacatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(handicap)   &lt;/span&gt;yang akan dialami bersamaan dengan munculnya sindroma gagal-pulih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(frailty)&lt;/span&gt;.  Proses gagal-pulih sejalan dengan adanya penurunan kapasitas fungsional yang dapat berkembang menjadi masalah kesehatan serius apabila aksesibilitas dan utilitas skrining kesehatan bagi lanjut usia masih tetap rendah. Gagal-pulih pada lanjut usia merupakan akibat dari bertambahnya umur seseorang dan proses kemunduran yang diikuti dengan munculnya gangguan fisiologis, penurunan fungsi, gangguan kognitif, gangguan afektif, dan gangguan psikososial. Kondisi tersebut dapat mengganggu lanjut usia dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-harinya. Lanjut usia yang mengalami gangguan mood akan mengakibatkan kesulitan dalam memenuhi aktivitas kehidupan sehari-harinya (AKS) atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;activities of daily living&lt;/span&gt; (ADL). Sebaliknya, keterbatasan dalam memenuhi AKS dapat menjadi salah satu faktor penyebab munculnya depresi pada lanjut usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian di Thailand memperlihatkan bahwa prevalensi disabilitas pada lanjut usia sebesar 19% (95%IK 17,8–20,2) dan ketergantungan terhadap pemenuhan AKS sebesar 6,9% (95%IK 6,1 – 7,7). Angka ketidakmampuan (disabilities rate) meningkat sesuai dengan perkembangan usia. Kapasitas fungsional wanita lebih rendah bila dibandingkan pria atau prevalensi kebutuhan untuk mendapatkan bantuan AKS pada wanita selama 21,3 tahun dan pria selama 18,6 tahun.  Meskipun informasi mengenai angka penurunan kapasitas fungsional lanjut usia di Indonesia belum memadai, namun Palestin, Olfah dan Winarso (2005) melaporkan 77,4% lanjut usia di sebuah Panti Wredha sebelum diintervensi masih dibantu sebagian dalam memenuhi AKS-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli telah sepakat menggunakan parameter AKS untuk mengukur kapasitas fungsional seseorang dengan mengklasifikasikannya berdasarkan kepemilikan ketergantungan dalam beraktivitas sehari-hari, misalnya : mandi, memakai baju, berjalan, kebersihan diri, mobilisasi. Kapasitas fungsional merupakan kondisi kesehatan fisik yang sangat penting bagi kualitas hidup dan kesejahteraan lanjut usia. Adanya penurunan kapasitas fungsional dipengaruhi oleh berjalannya proses penuaan, multi penyakit  ,  dan gangguan psikososial.  Kondisi di atas juga dapat terjadi secara berangsur-angsur sebagai akibat dari anggota ekstrimitas tidak difungsikan atau tidak dilatih secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi kesehatan dan keperawatan dalam bentuk latihan fungsional serta dukungan lingkungan yang positif bagi lanjut usia dapat memelihara kapasitas fungsional dan kualitas hidup lanjut usia. Latihan fungsional dengan intensitas sedang dapat meningkatkan kualitas hidup, vitalitas, dan menurunkan gejala depresi pada lanjut usia secara efektif.  Menurut penelitian, program latihan berjalan, mobilitas, dan keseimbangan fleksibel dan statis selama enam minggu dapat meningkatkan kapasitas fungsional lanjut usia.  Bentuk program latihan yang memiliki daya ungkit cukup besar terhadap penurunan sindroma gagal-pulih pada lanjut usia adalah perawatan restoratif.  Perawatan restoratif merupakan salah satu strategi utama dalam mengatasi sindroma gagal-pulih untuk meningkatkan luaran status kesehatan klien,  dan merupakan bentuk intervensi keperawatan yang paling efektif saat ini untuk meningkatkan otonomi dan kemandirian klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sindroma gagal-pulih &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindroma gagal-pulih adalah suatu kondisi tubuh sebagai akibat dari menurunnya kapasitas multisistem yang berisiko tinggi terhadap timbulnya berbagai penyakit, trauma atau kondisi kesehatan negatif lainnya namun kondisi tersebut dapat dicegah melalui intervensi tertentu.  Contoh bentuk gagal-pulih, antara lain: perawatan diri yang tidak terpelihara karena kelemahan dan keletihan (fatigue) atau seseorang yang sering jatuh karena gaya berjalan yang tidak seimbang atau kelemahan. Gejala-gejala sindroma gagal-pulih, antara lain: (1) penurunan berat badan secara progresif, (2) kecepatan berjalan melambat, (3) kekuatan cengke-raman tangan menurun, (4) keletihan atau daya tahan menurun, dan (5) tingkat aktivitas fisik yang rendah.  Apabila seseorang menunjukkan tiga gejala atau lebih disebut “gagal-pulih”, apabila hanya menunjukkan satu atau dua gejala disebut “pregagal-pulih”, sedangkan tidak menujukkan gejala apapun disebut “tak gagal-pulih”. Ketiga level tersebut tergantung pada usia, kondisi penyakit kronis, fungsi kognitif, dan gejala depresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERAWATAN RESTORATIF&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindroma gagal-pulih dianggap sebagai prediktor kejadian jatuh, hospitalisasi, disabilitas yang memburuk dan kematian pada lanjut usia.14 Deteksi dini dan intervensi prevensi primer untuk mengatasi gejala yang timbul dapat mencegah atau menunda timbulnya gagal-pulih. Bentuk intervensi tersebut adalah metode perawatan restoratif atau perawatan pemulihan (restorative care). Perawatan restoratif merupakan bentuk intervensi keperawatan yang berfokus pada upaya membantu lanjut usia dalam proses pemulihan dan atau pemeliharaan kapasitas fungsional fisiknya serta memberikan bantuan agar lanjut usia dapat mengkompensasikan kemunduran fungsional fisiknya sehingga mampu mencapai derajat fungsional yang optimal dan mampu melakukan AKS secara mandiri, misalnya : mandi, memakai baju, berjalan, dan kegiatan lainnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perawatan restoratif sebenarnya telah dikembangkan di era 1950-an, namun mulai diperbincangkan kembali dalam praktik keperawatan di Amerika Serikat pada tahun 1998 untuk mengkalkulasi standar pembayaran jasa pelayanan keperawatan pada program pemulihan pasien di rumah sakit maupun institusi pelayanan keperawatan lainnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Perawatan restoratif bukanlah terapi yang bertujuan untuk mengurangi keterbatasan atau kecacatan (limitation) lanjut usia, meskipun hasil dari upaya pemulihan kapasitas tidak sepenuhnya sama seperti kondisi sediakala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Perawatan restoratif menitikberatkan pada upaya preventif terhadap meluasnya dampak ketergantungan fisik, menurunnya aktivitas dan keterbatasan mobilitas. Oleh karena itu, perawatan restoratif digunakan untuk memaksimalkan kemampuan lanjut usia (ability) melalui peningkatan mekanisme self-care, kemandirian, kualitas hidup, gambaran diri (self-image) dan harga diri (self-esteem).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menurut Resnick (2004), terminologi perawatan restoratif berbeda dengan perawatan rehabilitasi (rehabilitation nursing). Perawatan rehabilitasi lebih berfokus pada upaya rehabilitasi seseorang sebagai akibat dari terjadinya penyakit atau cedera, misalnya: strok, fraktur panggul, atau dislokasi sendi. Tujuan yang ingin dicapai melalui rehabilitasi ditetapkan bersama oleh tim rehabilitasi yang terdiri dari banyak profesi (misalnya: dokter, perawat, psikolog, dokter gigi, fisioterapis, okupasiterapis, prostetik dan ortetik, terapis wicara, dan ahli gizi), namun target hasil intervensi sangat erat kaitannya dengan indikator medis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Aplikasi perawatan restoratif merupakan intervensi keperawatan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas fungsional dengan jalan melatih klien melakukan AKS secara mandiri dan terstruktur. Berbagai studi intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan AKS memperlihatkan bahwa penurunan kapasitas fungsional lanjut usia dapat distabilkan atau dikurangi meskipun tidak dapat pulih seperti sediakala. Hasil pemulihan kapasitas fungsional lanjut usia tergantung dari pola dan jenis intervensi perawatannya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh karenanya perlu diberikan jenis intervensi yang spesifik dan efektif sesuai dengan permasalahannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kelebihan perawatan restoratif adalah metode ini memiliki teknik yang sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun. Sehingga perawatan restoratif dapat dilakukan oleh asisten perawat, keluarga atau orang-orang terdekat klien yang telah dilatih namun tetap dalam pengawasan perawat. Sebuah penelitian telah mengkomparasikan manfaat model perawatan restoratif yang diberikan secara individu dengan pendekatan keperawatan pada umumnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perawatan restoratif memiliki kemungkinan lanjut usia untuk tetap tinggal di rumah lebih besar (82% vs 71%; odds ratio [OR]= 1,99; 95%CI = 1,47-2,69), menurunkan kemungkinan dirujuk ke unit gawat darurat (10% vs 20%; OR = 0,44; 95% CI = 0,32-0,61), lama perawatan di rumah lebih pendek (mean [SD]= 24,8 [26,8] hari vs 34,3 [44,2] hari; p &lt; p =" 0,07" p =" 0,05" p =" 0,02"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Perawatan restoratif memiliki manfaat yang lebih besar terhadap luaran kapasitas fisik dan psikologis lanjut usia dibandingkan dengan intervensi keperawatan yang konservatif. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Menurut laporan Sacre, implementasi perawatan restoratif telah meningkatkan kapasitas fungsional terhadap 86% lanjut usia yang dirawat di panti jompo pada dua minggu pertama perawatan mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tujuan utama perawatan restoratif, adalah : (1) meningkatkan mobilitas fisik yang optimal, (2) meningkatkan atau menjaga kekuatan dan koordinasi otot, (3) meningkatkan pengawasan diri, (4) mencegah kontraktur, (5) meningkatkan kemandirian AKS atau perawatan diri, (6) mencegah terjadinya cedera, (7) meningkatkan aktivitas sosial, (8) meningkatkan kepekaan terhadap pencapaian prestasi (sense of accomplishment), (9) mencegah isolasi sosial dan depresi, (10) meningkatkan kemampuan motorik, (11) meningkatkan kemampuan berkomunikasi, (12) meningkatkan kesempatan untuk melakukan aktivitas yang berarti, (13) meningkatkan martabat dan peran sosial, dan (14) meningkatkan moralitas dan kepuasan dalam bekerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh perawat di saat memberikan perawatan restoratif, adalah : (1) pahami bahwa setiap lanjut usia memiliki keunikan kapasitas dan keterbatasan fisik, kaji kapasitas dalam merawat diri, status mental, motivasi, dan dukungan keluarga; (2) prioritas intervensi lebih difokuskan pada kapasitas yang telah dimiliki atau yang lebih mudah untuk dipulihkan; (3) sesuaikan waktu latihan dengan kebiasaan lanjut usia; (4) berikan penghargaan/pujian apabila lanjut usia mampu melakukan latihan dengan lebih baik; (5) pemberian latihan sesuaikan dengan kondisi penyebab gagal-pulih, apakah disebabkan disabilitas fisik atau disabilitas mental; (6) hindarkan adanya komplikasi atau hal-hal yang berisiko, misalnya cedera, isolasi social, depresi); (7) dorong optimisme dengan harapan yang lebih baik dan rasa humor; dan (8) upaya pemulihan sangat bergantung pada proses individu dan dukungan tim kesehatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disampaikan dalam &lt;b style=""&gt;Temu Ilmiah Geriatri&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Semarang&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt; pada hari Sabtu tanggal 29 Maret 2008 di Hall Instalasi Geriatri Lt. II (Pav. Lanjut Usia Prof. Boedhi Darmojo) RS Dr. Kariadi Semarang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-5461294577931494731?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/5461294577931494731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=5461294577931494731' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/5461294577931494731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/5461294577931494731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2008/06/perawatan-restoratif-untuk-mencegah.html' title='Perawatan Restoratif Untuk Mencegah Gagal-Pulih Pada Lanjut Usia di Masyarakat'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-451836801680507502</id><published>2008-03-23T17:39:00.000+07:00</published><updated>2008-03-23T18:02:53.702+07:00</updated><title type='text'>Perawatan Lanjutan di Rumah Pada Penderita Leukemia Anak</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leukemia merupakan jenis penyakit yang disebabkan adanya proliferasi patologis dari sel pembuat darah atau disebabkan adanya transformasi progenitor hematopoeitik namun bukan sebagai penyakit yang diturunkan. Tipe leukemia terdiri dari leukemia limfositik akut (LLA), leukemia mieloblastik akut (LMA), leukemia limfositik kronik (LLK), leukemia mielositik kronik (LMK), mielosis eritremik (ME), eritroleukemia dan retikulosis. LLA merupakan jenis penyakit keganasan yang paling sering dijumpai pada anak atau seperempat dari semua kasus keganasan pada anak dan LLA memiliki proporsi 75-85% dari semua kasus leukemia pada anak.  Oleh karenanya, fokus tulisan ini lebih banyak membahas mengenai LLA.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;LLA merupakan keganasan pada sel limfoid yang ditemukan di sumsum tulang namun dapat bermigrasi ke semua organ secara sistemik termasuk pada Sistem Syaraf Pusat (SSP).  Gejala dan tanda leukemia mencerminkan derajat supresi eritropoiesis, trombopoiesis, leukopoiesis di sumsum tulang oleh sel leukemia dan penyebarannya di luar sumsung tulang dapat memberikan manifestasi anemia, gangguan perdarahan, trombosis, antikoagulasi, dan kerentanan terhadap infeksi.  , ,  Gejala yang perlu diwaspadai dan sering ditemukan pada leukemia antara lain pucat, demam yang tidak jelas sebabnya, nyeri tulang dan pembengkakan perut. Menurut penelitian tahun 1993 di Jakarta menunjukkan bahwa insidensi leukemia anak adalah 27,6% tiap satu juta anak berusia 1-14 tahun, sedangkan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta telah tercatat sejumlah 35% kasus LLA dan 13% kasus LMA dari penderita kanker anak dalam periode tahun 2000-2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LLA umumnya diderita oleh anak berumur 2-10 tahun dengan puncak insidensi pada usia 3-4 tahun, kemudian insidensinya menurun sesuai dengan perkembangan usia namun memiliki peluang untuk muncul kembali 30 tahun setelah pengobatan LLA. Insidensi LLA di Amerika Serikat lebih sering terjadi pada anak-anak kulit putih daripada kulit hitam, begitu juga pada anak laki-laki daripada anak perempuan.  Sedangkan menurut penelitian di Inggris, insidensi LLA pada kelompok sosial ekonomi yang berbeda tidak memiliki perbedaan yang bermakna.  Meskipun faktor-faktor genetik, lingkungan, virus, dan menurunnya imunitas terkait dengan patogenesis LLA, penyebab utama dari sebagian besar kasus masih belum diketahui secara pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelitian, anak dengan leukemia yang berusia lebih muda memiliki harapan hidup lebih tinggi 61-77% dibanding remaja berusia 20 tahun.  Kurang lebih 80% penderita dengan LLA memiliki peluang hidup lebih lama setelah mendapatkan protokol pengobatan LLA meskipun 40–60% pada kelompok tersebut bergantung pada jenis protokol yang digunakan.  Berdasarkan kewilayahan, penatalaksanaan pengobatan dan perawatan anak dengan LLA di negara-negara maju dapat meningkatkan angka kesembuhan (cure rate) sampai dengan 80%,   sedangkan angka kesembuhan di negara-negara berkembang masih berkisar antara 10-48% karena pasien terlambat mendapatkan pengobatan yang adekuat atau justru tidak taat menyelesaikan protokol pengobatan. Penyebab utama hal tersebut adalah faktor latar belakang pendidikan dan tingkat ekonomi orangtua yang kurang serta sikap tim kesehatan terhadap penatalaksanaan LLA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan utama LLA adalah kemoterapi yang diberikan secara kombinasi dengan lama pengobatan dua tahun melalui beberapa fase, yaitu: fase induksi, konsolidasi, intensifikasi dan pemeliharaan. Monitor terhadap efek samping kemoterapi jangka pendek dan jangka panjang perlu dilakukan.  Keberhasilan penatalaksanaan leukemia anak dalam memperpanjang umur harapan hidupnya perlu sangat dipengaruhi oleh penanganan yang komprehensif dengan upaya perawatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak.  Keterlibatan berbagai pihak dapat memberikan arti bagi peningkatan kualitas hidup penderita LLA, antara lain: keterlibatan berbagai profesi kesehatan, orang tua, psikolog, organisasi social penunjang, faktor risiko, pengobatan penunjang, dan ketaatan pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu komponen utama dalam penatalaksanaan leukemia anak adalah perawatan lanjutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(follow-up) &lt;/span&gt;penderita LLA. Makalah ini akan membahas perawatan lanjutan penderita LLA di rumah dengan menggunakan pendekatan model kualitas hidup penderita leukemia anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Model kualitas hidup penderita LLA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model kualitas hidup penderita LLA dikembangkan dari pemikiran bahwa dengan semakin meningkatnya harapan hidup penderita LLA, petugas kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada hasil dan efektivitas pengobatan saja namun perlu disuplementasikan intervensi perawatan yang komprehensif. Oleh karenanya, indikator-indikator dalam model kualitas hidup penderita LLA mencerminkan dampak penatalaksanaan penderita LLA.  Model di atas terdiri dari empat ranah kualitas hidup anak penderita LLA, yaitu: (1) kesehatan fisik dan mengatasi manifestasi klinis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(physical well-being and symptoms)&lt;/span&gt;; (2) kesehatan psikologis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(psychological well-being)&lt;/span&gt;; (3) kesehatan sosial &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(social well-being)&lt;/span&gt;; dan (4) kesehatan spiritual &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(spiritual well-being)&lt;/span&gt;.  Ranah-ranah tersebut sesuai dengan berbagai publikasi mengenai dimensi kualitas hidup penderita keganasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi asuhan keperawatan penderita leukemia anak di rumah menggunakan strategi untuk menurunkan dampak penyakit leukemia sebagai stresor dan meningkatkan resistensi klien sebagai kualitas hidupnya.  Intervensi keperawatan diberikan untuk menjaga stabilitas klien, ketersediaan sumber energi sistem, dan dukungan terhadap klien untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Intervensi keperawatan terhadap penderita ALL dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu prevensi sekunder dan prevensi tersier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prevensi sekunder bertujuan untuk melakukan penatalaksa-naan berbagai manifestasi leukemia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(prompt treatment) &lt;/span&gt;dan mencegah/membatasi kecacatan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (disability limitation)&lt;/span&gt;. Penatalak-sanaan manifestasi leukemia, misalnya: penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik; pencegahan cedera; penanganan perdarahan, anemia, gangguan hidrasi, perubahan nutrisi, nyeri, mukositis, infeksi sekunder, dan kedaruratan onkologik; penanganan respons terhadap tindakan kemoterapi; dan koping keluarga. Prevensi tersier bertujuan untuk upaya rehabilitasi, pendidikan kesehatan yang bersifat readaptasi, pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi, dan memelihara stabilitas kesehatan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Intervensi keperawatan penderita leukemia anak di rumah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi keperawatan penderita leukemia anak di rumah pada prinsipnya sama dengan penatalaksanaan perawatan akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Aspek kesehatan fisik dan mengatasi manifestasi klinis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (physical well-being and symptoms)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memantau respons anak terhadap pengobatan kemoterapi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diare. &lt;/span&gt;Berikan cairan per oral. Lakukan perawatan kulit pada bokong dan daerah perineum. Pantau efektivitas obat antidiare. Hindari makanan dan buah-buahan tinggi-selulose Beri makan sedikit tapi sering; jika mungkin beri makanan yang disukai anak. Kurangi atau jangan berikan daging. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anoreksia.&lt;/span&gt; Observasi adanya tanda-tanda kekurangan cairan (dehidrasi). Beri makan sedikit tapi sering yang berupa makanan lunak kaya zat gizi dan kalori. Dianjurkan makan makanan yang disukai atau dapat diterima walaupun tidak lapar. Hindari minum sebelum makan. Tekankan pada anak bahwa makan adalah bagian penting dalam program pengobatan. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mulut kering.&lt;/span&gt; Makanan atau minuman diberikan dengan suhu dingin. Bentuk makanan cair. Kunyah permen karet atau hard candy.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mual dan muntah&lt;/span&gt;. Beri makanan kering. Hindari makanan yang berbau merangsang. Hindari makanan lemak tinggi. Makan dan minum perlahan-lahan. Hindari makanan atau minuman terlalu manis. Batasi cairan pada saat makan. Tidak tiduran setelah makan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Retensi cairan&lt;/span&gt;. Pantau asupan dan keluaran cairan. Timbang berat badan harian. Bila ada anak sesak nafas (gawat pernapasan) segera dibawa ke rumah sakit. Ubah posisi tidur anak sesering mungkin. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hiperuremia&lt;/span&gt;. Pantau asupan dan keluaran. Anjurkan anak untuk banyak minum. Lakukan perawatan kulit anak agar rasa gatal berkurang. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Demam dan menggigil&lt;/span&gt;. Catat frekuensi gejala. Berikan rasa nyaman dengan memberinya selimut dan mandi hangat-hangat kuku (tepid sponge). &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sariawan&lt;/span&gt; (stomatitis dan ulkus mulut). Berikan rasa nyaman dengan sering berkumur, memakai cairan pencuci mulut, dan permen yang keras.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rambut rontok&lt;/span&gt; (alopesia). Persiapkan anak dan keluarga untuk menghadapi kerontokan rambut. Yakinkan hati anak dan keluarga bahwa kerontokan rambut tersebut hanya sementara. Siapkan anak dan keluarga tentang tumbuhnya rambut baru yang berbeda warna dan tekstur dari rambutnya semula. Gunakan syal, topi, atau wig sebelum rambut mulai rontok sebagai usaha untuk mengalihkan perhatian. Sering keramas untuk mencegah cradle cap. Cegah penggunaan bahan kimia rambut, seperti larutan pengkriting rambut yang permanen, ketika rambut tumbuh kembali. Bantu anak memilih pakaian yang dapat meningkatkan aspek positif penampilan anak.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Mencegah infeksi sekunder serta memantau adanya tanda dan gejala infeksi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Waspadai bahwa demam dan batuk adalah tanda yang terpenting dari infeksi. Lebih banyak pasien yang meninggal karena infeksi daripada karena penyakitnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buatkan kamar protektif yang semi steril mendekati ruangan isolasi di rumah sakit.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Minta anak memakai masker bila keluar rumah atau bersama orang lain terutama bila sedang menderita neutropenik berat (leukosit kurang dari 1000/mm3).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Cuci tangan dengan alkohol 80%. Gunakan semprotan alkohol untuk cuci tangan sebelum dan sesudah memegang anak.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kurangi kontak dengan orang lain. Pada saat agranulositosis (jumlah total neutrofil &lt;&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perawatan gigi dan mulut harus dikerjakan setiap hari. Setiap habis makan dan terutama kalau mau tidur harus dilakukan sikat gigi (dengan sikat gigi yang harus), kumur betadin dan kumur antijamur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setiap hari diwajibkan memeriksa kulit secara menyeluruh dari ujung rambut kepala sampai ujung kaki. Daerah kemaluan juga harus diperhatikan, daerah tersebut sering terabaikan dan justru di daerah itu pula sering muncul infeksi kulit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Makanan hygienis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jaga kebersihan diri anak termasuk kuku yang bersih. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c. Pantau adanya tanda dan gejala komplikasi  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Somnolens radiasi: Dimulai 6 minggu setelah menerima radiasi kraniospinal, anak menunjukkan keletihan berat dan anoreksia selama kira-kira 1 sampai 3 minggu. Orang tua sering kali merasa khawatir tentang terjadinya kambuhan pada saat ini dan perlu untuk diyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gejala SSP: Sakit kepala, penglihatan kabur atau ganda, muntah. Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan keterlibatan SSP dalam leukemia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gejala pernapasan: Batuk dan sesak nafas. Gejala tersebut mengindikasikan adanya pneumosistitis atau infeksi pernapasan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;d. Mencegah cedera yang dapat menyebabkan perdarahan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pantau adanya tanda dan gejala perdarahan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Periksa adanya memar dan kemerahan pada kulit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Periksa adanya mimisan dan gusi berdarah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jaga agar kuku tetap pendek.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hindari penumpuan beban pada alat gerak yang sakit&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hindari kecelakaan dan cedera. Pastikan lingkungan ruangan termasuk barang-barang yang ada di ruangan agar benar-benar aman dan tidak berisiko mencederai anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Anjurkan aktivitas bermain yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;e. Pemberian nutrisi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tujuan diit. Memberikan makanan yang seimbang sesuai dengan keadaan penyakit serta daya terima anak. Mencegah atau menghambat penurunan berat badan secara berlebihan. Mengurangi rasa mual, muntah, dan diare. Mengupayakan perubahan sikap dan perilaku sehat terhadap makanan oleh pasien dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Syarat-syarat diet di rumah. Energi tinggi, yaitu 36 kkal/kg BB untuk laki-laki dan 32 kkal/kg BB untuk perempuan. Apabila pasien berada dalam keadaan gizi kurang, maka kebutuhan energi menjadi 40 kkal/kg BB untuk laki-laki dan 36 kkal/kg BB untuk perempuan. Protein tinggi, yaitu 1-1,5 g/kg BB. Lemak sedang, yaitu 15-20% dari kebutuhan energi total. Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energi total. Vitamin dan mineral cukup, terutama vitamin A, B kompleks, C dan E. Bila perlu ditambah dalam bentuk suplemen. Bila imunitas menurun (leukosit &lt;&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jenis makanan atau diet yang diberikan hendaknya memperhatikan nafsu makan, perubahan indra kecap, rasa cepat kenyang, mual, penurunan berat badan, dan akibat pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hindari makanan atau minuman yang merangsang batuk, misalnya makanan berminyak, makanan asam, pewarna makanan, MSG.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesuai dengan keadaan pasien, makanan dapat diberikan dalam bentuk makanan padat, makanan cair, atau kombinasi. Untuk makanan padat dapat berbentuk makanan biasa, makanan lunak, atau makanan lumat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apabila terdapat kesulitan mengunyah atau menelan. Minum dengan menggunakan sedotan. Makanan atau minuman diberikan dengan suhu kamar atau dingin. Bentuk makanan disaring atau cair. Hindari makanan terlalu asam atau asin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;f. Mengatasi nyeri dengan teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik yang dikelompokkan menurut umur penderita leukemia, adalah :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Toddler (anak di bawah umur tiga tahun). Teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik pada toddler, antara lain: mainan, buku cerita bergambar, musik, pernafasan terkontrol – meniup air sabun, dan stimulasi kutan: usapan, pemijatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Anak usia prasekolah (3-4 tahun). Teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik pada anak usia prasekolah, antara lain: mainan, buku cerita bergambar, mencari gambar tersamar,  mendengarkan musik atau dongeng melalui headset, menonton video, imajinasi emotif-menggunakan super-hero favorit anak untuk “melawan” nyeri, pernafasan terkontrol, stimulasi kutan, dan latihan perilaku – menjadi akrab dengan prosedur melalui bermain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Anak usia sekolah (5-12 tahun). Teknik penatalaksanaan nyeri nonfarmakologik pada anak usia sekolah, antara lain: imajiner, mendengarkan musik atau dongeng melalui headset, menonton video, bermain play-station atau video-games, pernafasan terkontrol, stimulasi kutan, dan latihan perilaku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;g. Mencegah dan mengatasi mukositis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hindari sikat gigi yang berbulu keras.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hindari makanan keras yang harus dikunyah berlebihan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hindari makanan yang asam dan pedas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hindari makanan yang masih panas h. Berikan cukup istirahat dan tidur &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Aspek kesehatan psikologis&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (psychological well-being)&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berikan pendidikan kesehatan mengenai leukemia terutama prognosis penyakit kepada keluarga untuk mengurangi kecemasan dan depresi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berikan pendidikan kesehatan kepada anak bahwa prosedur pengobatan sangat penting bagi peningkatan kesehatan anak. Hal ini untuk mengurangi stres terhadap prosedur pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Anjurkan anak dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka. Anak dan keluarganya perlu untuk menyesuaikan hidup dengan berbagai fase penyakit yang mengancam hidup.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bantu anak dan keluarga melakukan koping positif. Reaksi anak sebagian besar bergantung pada usianya, informasi yang diberikan kepada anak, dan dampak fisik penyakit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berikan fasilitas permainan yang menghibur namun aman.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;3. Aspek kesehatan sosial &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(social well-being) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beri penyuluhan kepada anak dan keluarga mengenai penatalaksanaan penyakit dan pengobatan termasuk konsekuensi jangka panjang baik rencana perawatan dan finansial keluarga. Dampak jangka panjang kanker masa kanak-kanak: 1) Katarak. Rujuk anak ke spesialis mata dan persiapkan untuk kemungkinan operasi katarak. 2) Hilang pendengaran. Rujuk anak ke dokter THT dan ahli terapi wicara; persiapkan untuk kemungkinan penggunaan alas pendengaran. 3) Fibrosis pulmonal. Anjurkan anak mendapat vaksin flu dan perawatan segera untuk infeksi pernapasan; anjurkan orang tua untuk menghentikan merokok. 4) Kardiorniopati, kerusakan perikardium, aterosklerosis dini, dan aritmia ventrikular. Rujuk anak ke spesialis jantung.  5) Enteritis dan sirosis kronis. Rujuk anak ke ahli nutrisi, mungkin diperlukan modifikasi diet 6) Nefritisisistitis kronis. Rujuk anak ke spesialis penyakit dalam (nefrolog), pertahankan hidrasi, dan persiapkan anak untuk kemungkinan dialisis. 7) Skoliosis/kifosis, wajah asimetris, atau masalah pada gigi. Rujuk anak pada pelayanan rehabilitasi dan dokter gigi; anjurkan perawatan oral yang tepat; beritahu anak untuk menghindari permainan atau olahraga yang berat. 8) Imunosupresi yang memanjang. Anjurkan tindakan pengendalian infeksi, beri antibiotik profilaksis, periksa laboratorium untuk cek hitung darah, dan amati tanda-tanda infeksi. 9) Disfungsi testis atau ovarium. Rujuk anak ke spesialis endokrin. Diskusikan terapi hormon pengganti.  10) Hipotiroidisme atau disfungsi hipotalamus. Rujuk anak ke spesialis endokrin dan persiapkan anak menghadapi postur tubuhnya yang pendek. 11) Gangguan sistem saraf pusat, antara lain leukoensefalopati, neuropati perifer, dan defek kognitif. Pantau perkembangan dan kolaborasi dengan staf sekolah dan keluarga untuk membantu anak melakukan kemampuan yang optimal. 12) Keganasan sekunder. Anjurkan keluarga berpartisipasi dalam perawatan tindak lanjut yang sedang berjalan untuk memantau kemungkinan keganasan sekunder.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beri pendidikan kesehatan pada orang tua secara rinci mengenai aspek-aspek penatalaksanaan medis untuk memantapkan ketaatan orangtua dan anak, yaitu: 1) Proses penyakit -- tanda, gejala, komplikasi, dan aturan pengobatan. 2) Pemberian obat -- respons terapeutik terhadap pengobatan, reaksi terhadap pengobatan yang tidak diinginkan. 3) Prosedur pengobatan—langkah-langkah prosedur dan jadwalnya 4) Aktivitas-aktivitas yang dilarang 5) Kebutuhan alat -- perawatan dan pemeliharaan, nomor telepon kantor yang menjual kebutuyhan alat 6) Nama dan nomor telepon kontak untuk pemeriksaan lanjut (misalnya: rumah sakit, klinik, dokter, perawat)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Minta orang tua untuk mengidentifikasi gejala yang menandakan penurunan kondisi dan yang perlu dilaporkan kepada dokter.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berikan informasi pada anak dan keluarga tentang dukungan sosial kemasyarakatan bagi perawatan jangka-panjang. 1) Dukungan pihak sekolah 2) Kelompok orang tua dengan permasalahan yang sama. Orangtua membutuhkan teman senasib sepenanggungan dalam satu wadah organisasi. Sehingga, para orangtua merasa mendapat dukungan, tidak sendirian, bisa curhat maupun berbagi ilmu/tips dalam membesarkan buah hati mereka. Tidak sedikit yang mengakui, dengan ikut komunitas seperti ini, orangtua tambah pintar dan semakin peduli. Kondisi anak-anak mereka pun mengalami kemajuan hingga memberi harapan untuk bisa lebih baik dan lebih baik lagi.  Organisasi yang berkaitan dengan kanker anak, yaitu:  a) Yayasan Onkologi Anak Indonesia. Sekretariat: RS Kanker Dharmais Lt. 1. Jl. Letjen S. Parman Kav 84-86, Slipi, Jakarta Barat. Telp. (021) 5681612/5681570 ext 2030 Fax. (021) 5681612.   Email: yoai_sekretariat@yahoo.com b) Yayasan Kanker Indonesia. Sekretariat: Jl. DR. Sam Ratulangi 35 Jakarta 10350. Telp.: (021) 3152606, 3152603, 3920568 - Fax : (021) 3108170. E-mail : ykipusat@rad.net.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pantau adanya gangguan dalam fungsi dan peran keluarga. 1) Dasari semua intervensi pada latar belakang budaya, agama, tingkat pendidikan, dan sosial ekonomi keluarga. 2) Libatkan dukungan sosial anggota keluarga lain dalam program pengobatan dan perawatan anak 3) Tingkatkan keutuhan keluarga agar dapat memberikan lingkungan psikologis yang positif bagi anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Fasilitasi ketaatan keluarga dalam penatalaksanaan jangka panjang selama kunjungan pemeriksaan lanjut. Tanyakan berbagai factor pendukung ketaatan pengobatan, misalnya: ketersediaan alat transportasi, sumber-sumber financial keluarga, tingkat motivasi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Cegah adanya isolasi sosial bagi anak. Tingkatkan peran peer-group sebagai sumber pemdukung sosial.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Aspek kesehatan spiritual &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(spiritual well-being)&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek spiritual sangat penting ditekankan agar anak dan keluarga dapat memahami dan memaknai bahwa di balik cobaan penyakit memiliki hikmah kehidupan yang Diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keikhlasan menerima penyakit merupakan modal utama munculnya motivasi, harapan dan optimisme.  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Penutup &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penyakit leukemia pada anak dimana LLA merupakan kasus terbanyak yang ditemui pada kasus kanker anak memiliki protokol pengobatan yang lama. Program pengobatan dan perawatan jangka panjang memerlukan kekuatan dan keberlanjutan berbagai sumber daya keluarga dan pendukungnya. Oleh karenanya, perawatan lanjutan di rumah pada penderita leukemia anak perlu memperhatikan aspek-aspek perawatan yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Naskah lengkap dapat di&lt;a href="http://www.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Materi%20Seminar%20Perawatan%20ALL%20di%20rumah%20Poltekkes.pdf"&gt;klik di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-451836801680507502?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/451836801680507502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=451836801680507502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/451836801680507502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/451836801680507502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2008/03/perawatan-lanjutan-di-rumah-pada.html' title='Perawatan Lanjutan di Rumah Pada Penderita Leukemia Anak'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-117065049840789668</id><published>2007-02-05T11:40:00.000+07:00</published><updated>2007-02-05T11:41:38.600+07:00</updated><title type='text'>Stretching exercises for increasing muscle strength and quality in older adults with Type-2 Diabetes</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Introduction &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Health status is an important factor that has a significant impact on the quality of life of an elderly population. The major elements of health status are perceived health, especially psychological well-being, chronic illnesses, and functional status. Various studies have shown that perceived health declines with age, and the effects of ill health impact on many areas of daily activity (Setiabudhi &amp; Hardywinoto, 1999; Roman, Tatemichi, &amp; Erkinjuntti, 1993; Boyle, Paul, Moser, Zawacki, Gordon &amp; Cohen, 2003; Guralnik, La Croix &amp; Abbott, 1993; Harris, Kovar, Suzman, Kleinman, &amp; Feldman, 1989). According to the statistics and uninfected diseases surveillance in 2002 at Depok (BAPPEDA &amp;amp; BPS Kota Depok, 2003, 2004, 2005), diabetes is becoming increasingly prevalent and undertreated in elderly people. Diabetes mellitus as a long-standing illness has been associated with limitations in activities of daily living among elderly people (Ayis, Gooberman-Hill, Ebrahim, MRC Health Services Research Collaboration, 2003; Parmet, 2004).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;In older adults, diabetes has been associated with a two- to threefold increased risk of developing physical disability (Gregg, Beckles, Williamson, Leveille, Langlois, Engelgau, &amp; Narayan, 2000; Gregg, Mangione, Cauley, Thompson, Schwartz, Ensrud, &amp; Nevitt, 2002; Ryerson, Tierney, Thompson, Engelgau, Wang, Gregg, &amp; Geiss, 2003; Von Korff, Katon, Lin, Simon, Ciechanowski, Ludman, Oliver, Rutter, &amp; Young, 2005). The Health, Aging, and Body Composition (Health ABC) study has reported the association of diabetes with sub clinical functional limitation (De Rekeneire, Resnick, Schwartz, Shorr, Kuller, Simonsick, Vellas, &amp;amp; Harris, 2003). However, one of the most crucial factors determining functional capacity is mobility. As the musculoskeletal system deteriorates with increasing chronic conditions frequently combined with diabetes, such as coronary heart disease, peripheral artery disease, visual impairment, and depression, partially explained the association, but still 40% of excess risk for physical disability remained unexplained (Ciechanowski, Russo, Katon, Von Korff, Ludman, Lin, Simon, &amp; Bush, 2004; Tanaka1 &amp; Seals, 2003).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Low muscle strength, but not muscle mass, is associated with poor physical function in older men and women (Visser, Deeg, Lips, Harris, Bouter, 2000; Visser, Newman, Nevitt, Kritchevsky, Stamm, Goodpaster, &amp; Harris, 2000. Muscle strength measured in midlife or old age is highly predictive of functional limitations and disability up to 25 years later (Rantanen, Guralnik, Foley, Masaki, Leveille, Curb, &amp;amp;amp;amp; White, 1999; Rantanen, Avlund, Suominen, Schroll, Frandin, &amp; Pertti, 2002; Visser, Goodpaster, Kritchevsky, Newman, Nevitt, Rubin, Simonsick, &amp; Harris, 2005). In the present study, diabetes is associated with lower skeletal muscle strength and quality. These characteristics may contribute to the development of physical disability in older adults with diabetes. The Health ABC Study evaluated hand grip and knee extensor strength and muscle quality in community-dwelling older adults with and without diabetes in. Older adults with diabetes had greater arm and leg muscle mass than those without diabetes because they were bigger in body size (Newman, Haggerty, Goodpaster, Harris, Kritchevsky, Nevitt, Miles, &amp;amp; Visser, 2003). Despite this, muscle strength was lower in men with diabetes and not higher in women with diabetes than corresponding counterparts. Muscle quality, defined as muscle strength per unit regional muscle mass, was significantly lower in men and women with diabetes than those without diabetes in both upper and lower extremities. Furthermore, longer duration of diabetes (&gt;6 years) and poor glycemic control (HbA1c &gt;8.0%) were associated with even poorer muscle quality (Park, Goodpaster, Strotmeyer, de Rekeneire, Harris, Schwartz, Tylavsky, &amp; Newman, 2006).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Low muscle strength is one of the most significant changes that adversely affect the ability of older people to cope independently in their communities and to have contacts with other people. Impaired mobility also greatly increases the need for different kinds of services. Interventions at early stages to reduce dysfunctional capacity may preserve function in community-dwelling older adults with diabetes in (Figaro, Kritchevsky, Resnick, Shorr, Butler, Shintani, Penninx, Simonsick, Goodpaster, Newman, Schwartz, &amp;amp; Harris, 2006). Improved strength has been associated with improved muscle and bone mass, balance, and also mobility (Rhodes, Martin, Taunton, Donnelly, Warren, &amp; Elliot, 2000). All of these factors are important in the prevention of fractures and improved quality of life. Studies have also demonstrated that exercise can delay the normal decline in physical performance associated with diabetes (Sriwijitkamol, Christ-Roberts, Berria, Eagan, Pratipanawatr , DeFronzo, Mandarino, &amp;amp; Musi1, 2006). A typical exercise program includes activities aimed at increasing musculoskeletal flexibility, strength, and quality. Exercise training also has favorable effects on the controlled blood sugar, the regulation of blood pressure, and the prevention of excessive weight gain (Fairey, Courneya, Field, Bell, Jones, &amp; Mackey, 2003; Ciechanowski, Russo, Katon, Von Korff, Ludman, Lin, Simon, &amp; Bush, 2004; Booth, Gordon, Carlson, &amp; Hamilton, 2000).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Purpose of the paper&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;The purpose of this paper is to explain a promoting functional capacity through increasing muscle strength and quality in older adults with type-2 diabetes.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Objectives of the paper&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;The objectives of this paper are to:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Describes the decreasing functional capacity especially strength and quality muscle in older adults with type 2 diabetes.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Describes a stretching exercise aimed at increasing musculoskeletal strength and quality.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Describes the implications on promoting functional capacity through increasing muscle strength and quality in older adults with type-2 diabetes exercise program for the community health nursing practice. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Literature Review&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Functional capacity is defined here as the ability to perform the physical tasks of daily life and the ease with which these tasks can be performed. Functional capacity declines at older adults with type 2 diabetes, resulting in a reduced capacity to perform certain physical tasks. This can eventually result in increased incidence of functional disability, increased use of health care services, loss of independence, and reduced quality of life (&lt;br /&gt;Tanaka &amp;amp; Seals, 2003). Moreover, the decline in functional capacity provides a serious threat to individuals engaging in physically demanding occupations (WHO Study Group, 1993).&lt;br /&gt;The capacity of the human body to make use of muscle strength peaks between ages 20 and 30 and from there on steadily declines with age, most significantly between ages 50 and 60. Muscle strength and quality decline can be fasted by diabetes. These changes are the result of a related skeletal muscle with the insulin action. Skeletal muscle is the major site of insulin-mediated glucose disposal and is implicated in the pathogenesis of insulin resistance and diabetes. Several pieces of evidence suggest that insulin action may be related to the oxidative capacity of skeletal muscle (Short, Vittone, Bigelow, Proctor, Rizza, Coenen-Schimke, &amp; Nair, 2003). First, aerobic exercise training improves both insulin sensitivity and activity of oxidative enzymes in muscle (Ryder, Chibalin, &amp;amp; Zierath, 2001). Second, people who are obese and insulin resistant or have type 2 diabetes tend to have lower activity of muscle oxidative enzymes (Simoneau, Veerkamp, Turcotte, &amp; Kelley, 1999).Third, insulin infusion preferentially stimulates the synthesis rate of mitochondrial proteins in skeletal muscle and increases the mRNA abundance genes associated with mitochondria and glucose metabolism (Boirie, Short, Ahlman, Charlton, &amp;amp; Nair, 2001). Fourth, recent work has shown that genes for mitochondrial proteins and the primary glucose transporter in muscle, GLUT4, are regulated by common signals, including elevations in cytosolic calcium and the transcriptional coactivator PGC-1α (peroxisome proliferator–activated receptor [PPAR]-γ coactivator 1α). Muscle mitochondrial function and gene expression are reduced in aging muscle, but the underlying cause and the relationship to insulin action are not yet understood.(Huang, Eriksson, Vaag, Lehtovirta, Hansson, Laurila, Kanninen, Olesen, Kurucz, Koranyi, &amp; Groop, 1999)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;A typical exercise program includes activities aimed at increasing musculoskeletal strength and quality. All of these components are important, and different types of activity are required for each. Exercise objectives can be either therapeutic or preventive in nature. Accomplishing these objectives can be related to specific types of exercise, for examples stretching, strengthening, and endurance.(Burke &amp;amp; Laramie, 2000)&amp;shy;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;In this paper, we suggested the stretching exercises for the older adults with type 2 diabetes. Stretching exercises are intended to maintain or improve joint range of motion (ROM) and flexibility and to prepare individuals for activity and function. It can also be used during an exercise cool-down period. In the older adult with type 2 diabetes lack of flexibility usually limits an activity, rather than decreases strength. The lack of flexibility imposed by years of inactivity can yield an enormous degree of joint and motor limitation. This physiological limitation can cause burdensome functional limitations and, in the extreme, serious subsequent dependency. Activities such as grooming, dressing, sitting at a standard-height toilet or in a straight-back chair, reaching, and even stair climbing can be impaired by the joint limitation caused by lack of flexibility.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Stretching exercise are the only exercises that will increase flexibility. Stretching exercises do not increase strength or cardiovascular fitness. Static stretching is generally recommended as the best way of maintaining muscle length and correcting muscle imbalance. The stretching action can be done at everywhere and should be performed slowly and carefully, maintaining tension on the muscle for 10 to 20 seconds and then slowly releasing the stretch. A stretching session usually centers around 15 to 20 minutes of stretching exercise per day. When used as the warm-up and cool down segments of an exercise program, the stretching session can be limited to 5 to 8 minutes. The optional duration and intensity of stretching and the effects of temperature are still being questioned in the literature.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Figure 1. Examples of stretching exercises&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gently pull chin in while lengthening back of neck. Hold 10 seconds.&lt;br /&gt;Bring arms straight up over head and back as far as possible, causing back to arch gently. Hold 10 seconds.&lt;br /&gt;Place hands behind your head and pull elbows back as far as possible. Hold 10 seconds.&lt;br /&gt;With arms behind doorjamb, gently lean forward. Hold for 10 seconds. Stretch is felt across chest.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Figure 2. Functional solo exercise patterns.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Trunk flexion&lt;br /&gt;Trunk rotation&lt;br /&gt;Left sided modified lunge&lt;br /&gt;Assisted forward modified lunge&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Figure 3. Functional partnered exercise patterns&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Resisted back extension&lt;br /&gt;Resisted arm lifts&lt;br /&gt;Resisted horizontal shoulder abduction/adduction&lt;br /&gt;Resisted arm extension with modified lunge&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Implications for the community health nursing practice&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ultimately the community health nurse has the potential to be cost effective as it encourages a more responsible and independent patient population. This may result in shorter lengths of stay, a reduction in unnecessary utilization of expensive hospital care and greater emphasis on home care with support systems.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;The work group could be developed and implemented as a restorative model of care that integrates the medical treatments for acute disease processes and the personal care and rehabilitative interventions directed toward chronic disabilities, to improve the functional outcomes of older adults receiving home care.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Conclusions&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Muscle strength and quality declines are significant problems for many older adults with type 2 diabetes. Although not all muscle strength and quality declines can be prevented, the stretching exercise program that target specific resident problems with activities of daily living have been shown to increasing musculoskeletal strength and quality related to the insulin action. The greatest contribution to the older adults with type 2 diabetes in functional abilities resulted from improved hand grip and knee extensor strength and muscle quality. This indicates the potential of this exercise program to improve functional abilities that may have implications for an older adults with type 2 diabetes’s ability to continue to live independently in the community.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;In patients with less severe disability, rehabilitation may be conducted and supervised mainly by a single health professional, such as a physiotherapist, who consults with other health professionals about specific issues. An example may be a nurse assisting an older person to become more independent in self-care who consults a physiotherapist or rehabilitation physician for specific help with the patient's mobility retraining.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Reference :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setiabudhi, T. &amp; Hardywinoto. (1999). Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek, Menjaga Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Roman, G.G., Tatemichi, T.K., &amp;amp; Erkinjuntti, T. (1993). Vascular dementia: diagnostic criteria for research studies. Report of the NINDSAIREN International Work Group. Neurology, 43:250–260.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Boyle, P.A., Paul, R., Moser, D., Zawacki, T., Gordon, N. &amp; Cohen, R. (2003). Cognitive and Neurologic Predictors of Functional Impairment in Vascular Dementia. Am J Geriatr Psychiatry, 11:103–106.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Guralnik, JM., La Croix, A., &amp;amp; Abbott, RD. (1993). Maintaining Mobility in Late Life. Demographic Characteristics and Chronic Conditions. Am J Epidemiol, 137:845-857.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Harris, T., Kovar, M.G., Suzman, R., Kleinman, J.C. &amp; Feldman, J.J. (1989). Longitudinal Study of Physical Ability in the Oldest-old. Am J Public Health, 79: 698-702.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BAPPEDA Kota Depok dan Biro Pusat Statistik Kota Depok. (2003). Kota Depok Dalam Angka 2003. Kota Depok: BPS [Katalog 1403.3276].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BAPPEDA Kota Depok dan Biro Pusat Statistik Kota Depok. (2004). Kota Depok Dalam Angka 2004. Kota Depok: BPS [Katalog 1403.3276].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;BAPPEDA Kota Depok dan Biro Pusat Statistik Kota Depok. (2005). Kota Depok Dalam Angka 2005. Kota Depok: BPS [Katalog 1403.3276].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ayis S, Gooberman-Hill R, Ebrahim S, MRC Health Services Research Collaboration. (2003). Long-standing and limiting longstanding illness in older people: associations with chronic diseases, psychosocial and environmental factors. Age and Ageing; 32: 265–272.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Parmet, S., (2004). Weight Gain and Diabetes. JAMA, 292(8): 998.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gregg EW, Beckles GL, Williamson DF, Leveille SG, Langlois JA, Engelgau MM, Narayan KM. (2000). Diabetes and physical disability among U.S. adults. Diabetes Care 23:1272–1277.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gregg EW, Mangione CM, Cauley JA, Thompson TJ, Schwartz AV, Ensrud KE, Nevitt MC. (2002). Diabetes and incidence of functional disability in older women. Diabetes Care 25:61– 67.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ryerson B, Tierney EF, Thompson TJ, Engelgau MM, Wang J, Gregg EW, Geiss LS. (2003). Excess physical limitations among adults with diabetes in the U.S. population, 1997–1999. Diabetes Care 26:206 –210.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Von Korff M, Katon W, Lin EH, Simon G, Ciechanowski P, Ludman E, Oliver M, Rutter C, Young B. (2005). Work disability among individuals with diabetes. Diabetes Care 28:1326 –1332.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;De Rekeneire N, Resnick HE, Schwartz AV, Shorr RI, Kuller LH, Simonsick EM, Vellas B, Harris TB. (2003). Diabetes is associated with subclinical functional limitation in nondisabled older individuals: the Health, Aging, and Body Composition study. Diabetes Care 26:3257–3263.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Visser M, Deeg DJH, Lips P, Harris T, Bouter LM. (2000). Skeletal muscle mass and muscle strength in relation to lower-extremity performance in older men and women. J Am Geriatr Soc 48:381–386.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Visser M, Newman AB, Nevitt MC, Kritchevsky SB, Stamm EB, Goodpaster BH, Harris TB. (2000). Reexamining the sarcopenia hypothesis: muscle mass versus muscle strength. Ann N Y Acad Sci 904:456–461.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rantanen T, Guralnik JM, Foley D, Masaki K, Leveille S, Curb JD, White L. (1999). Midlife hand grip strength as a predictor of old age disability. JAMA 281:558 –560. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rantanen T, Avlund K, Suominen H, Schroll M, Frandin K, Pertti E. (2002). Muscle strength as a predictor of onset of ADL dependence in people aged 75 years. Aging Clin Exp Res 14 (Suppl. 3):10 –15.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Visser M, Goodpaster BH, Kritchevsky SB, Newman AB, Nevitt MC, Rubin SM, Simonsick EM, Harris TB. (2005). Muscle mass, muscle strength, and muscle fat infiltration as predictors of incident mobility limitations in wellfunctioning older adults. J Gerontol Med Sci 60A:324–333.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Newman AB, Haggerty CL, Goodpaster B, Harris TB, Kritchevsky SB, Nevitt M, Miles TP, Visser M. (2003). Strength and muscle quality in a wellfunctioning cohort of older adults: the Health, Aging, and Body Composition study. J Am Geriatr Soc 51:323–330.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Park SW, Goodpaster BH, Strotmeyer ES, de Rekeneire N, Harris TB, Schwartz AV, Tylavsky FA, Newman AB. (2006). Decreased Muscle Strength and Quality in Older Adults With Type 2 Diabetes. The Health, Aging, and Body Composition Study. Diabetes 55:1813–1818.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Figaro MK, Kritchevsky SB, Resnick HE, Shorr RI, Butler J, Shintani A, Penninx BW, Simonsick EM, Goodpaster BH, Newman AB, Schwartz AV, Harris TB. (2006). Diabetes, Inflammation, and Functional Decline in Older Adults Findings from the Health, Aging and Body Composition (ABC) study. Diabetes Care 29:2039–2045.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rhodes EC, Martin AD, Taunton JE, Donnelly M, Warren J, Elliot J. (2000). Effects of one year of resistance training on the relation between muscular strength and bone density in elderly women. Br J Sports Med, 34:18–22. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sriwijitkamol A, Christ-Roberts C, Berria R, Eagan P, Pratipanawatr T, DeFronzo RA, Mandarino LJ, Musi1 N. (2006).Reduced Skeletal Muscle Inhibitor of κBβ Content Is Associated With Insulin Resistance in Subjects With Type 2 Diabetes. Reversal by Exercise Training. Diabetes 55:760–767.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Fairey AS, Courneya KS, Field CJ, Bell GJ, Jones LW, Mackey JR. (2003). Effects of Exercise Training on Fasting Insulin, Insulin Resistance, Insulin-like Growth Factors, and Insulin-like Growth Factor Binding Proteins in Postmenopausal Breast Cancer Survivors: A Randomized Controlled Trial. Cancer Epidemiology, Biomarkers &amp; Prevention, 12; 721–727.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ciechanowski P., Russo J, Katon W, Von Korff M, Ludman E, Lin E, Simon G, Bush T. (2004). Influence of Patient Attachment Style on Self-care and Outcomes in Diabetes. Psychosomatic Medicine 66:720–728.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Booth FW, Gordon SE, Carlson CJ, Hamilton MT. (2000). Waging war on modern chronic diseases: primary prevention through exercise biology. J. Appl. Physiol., 88: 774–787.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tanaka1 H &amp;amp; Seals DR. (2003). Invited Review: Dynamic exercise performance in Masters athletes: insight into the effects of primary human aging on physiological functional capacity. J Appl Physiol, 95: 2152–2162.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;WHO Study Group. (1993). Aging and Working Capacity. Geneva, Switzerland: World Health Organization.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Short KR, Vittone JL, Bigelow ML, Proctor DN, Rizza RA, Coenen-Schimke JM, Nair KS. (2003). Impact of Aerobic Exercise Training on Age-Related Changes in Insulin Sensitivity and Muscle Oxidative Capacity. Diabetes, 52: 1888–1896.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ryder JW, Chibalin AV, Zierath JR. (2001). Intracellular mechanisms underlying increases in glucose uptake in response to insulin or exercise in skeletal muscle. Acta Physiol Scand 171:249–257.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Simoneau JA, Veerkamp JH, Turcotte LP, Kelley DE. (1999). Markers of capacity to utilize fatty acids in human skeletal muscle: relation to insulin resistance and obesity and effects of weight loss. FASEB J 13:2051–2060.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Boirie Y, Short KR, Ahlman B, Charlton M, Nair KS. (2001). Tissue-specific regulation of mitochondrial and sarcoplasmic protein synthesis rates by insulin. Diabetes 56:2652–2658.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Huang X, Eriksson KF, Vaag A, Lehtovirta M, Hansson M, Laurila E, Kanninen T, Olesen BT, Kurucz I, Koranyi L, Groop L. (1999). Insulin-regulated mitochondrial gene expression is associated with glucose flux in human skeletal muscle. Diabetes 48:1508 –1514.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Burke MM, Laramie JA. (2000). Primary Care of the Older Adult a Multidisciplinary Approach. St. Louis: Mosby.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-117065049840789668?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/117065049840789668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=117065049840789668' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/117065049840789668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/117065049840789668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2007/02/stretching-exercises-for-increasing.html' title='Stretching exercises for increasing muscle strength and quality in older adults with Type-2 Diabetes'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-116884578741345183</id><published>2007-01-15T14:20:00.000+07:00</published><updated>2007-01-15T17:48:23.460+07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Kesehatan Dalam Pengelolaan Diabetes Secara Mandiri (Diabetes Self-Management Education) Bagi Diabetisi Dewasa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diabetes mellitus (DM) merupakan kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat tubuh mengalami gangguan dalam mengontrol kadar gula darah. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh sekresi hormon insulin tidak adekuat atau fungsi insulin terganggu (resistensi insulin) atau justru gabungan dari keduanya. Secara garis besar DM dikelompokkan menjadi 2 tipe, yaitu : DM tergantung pada insulin (DM tipe-1) dan non-DM tergantung pada insulin (DM tipe-2) (Stevens, 2002). Perbedaan karakteristik paling mencolok dari penderita DM tipe-1 atau tipe-2 adalah umur saat terjadinya penyakit DM (Soewondo, 2006). Pada umumnya, DM tipe-1 terjadi pada seseorang dengan usia di bawah 40 tahun bahkan separuhnya didiagnosis pada usia kurang dari 20 tahun. Sebaliknya, DM tipe-2 sebagian besar didiagnosis pada usia di atas 30 tahun, separuh dari kasus baru DM tipe-2 terjadi pada kelompok umur 55 tahun atau lebih. Oleh karenanya, DM tipe-2 lebih dikenal sebagai penyakit DM yang menyerang kaum dewasa (Parmet, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko DM meningkat sejalan dengan bertambahnya usia dan memiliki kontribusi yang besar terhadap morbiditas dan mortalitas seseorang (ADA, 1998). DM tipe-2 memiliki hubungan dengan mortalitas pada berbagai kelompok umur bahkan dua kali lipat dibandingkan populasi non-diabetes; umur harapan hidup akan menurun 5 sampai 10 tahun pada kelompok umur pertengahan (Poulsen, 1998). Bahkan menurut penelitian di Inggris, lebih dari 80% pasien berumur ≥ 45 tahun yang baru didiagnosis mengidap DM setelah 10 tahun diobservasi ternyata memiliki risiko komplikasi penyakit jantung koroner &gt;5%, 73% (45% sampai 92%) memiliki penyakit hipertensi, dan 73% (45% sampai 92%) memiliki konsentrasi kholesterol &gt;5 mmol/l (Lawrence et al., 2001).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DM disebut sebagai penyakit kronis sebab DM dapat menimbulkan perubahan yang permanen bagi kehidupan seseorang. Penyakit kronis tersebut memiliki implikasi yang luas bagi lansia maupun keluarganya, terutama munculnya keluhan yang menyertai, penurunan kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas keseharian, dan menurunnya partisipasi sosial lansia. Perawat komunitas sejak awal dapat berperan dalam meminimalisasi perubahan potensial pada sistem tubuh pasien. Beberapa penelitian eksperimental memperlihatkan bahwa perawat mempunyai peran yang cukup berpengaruh terhadap perilaku pasien (Tagliacozzo D.M., et.al., 1974). Salah satu peran yang penting guna mendorong masyarakat terutama lansia adalah agar lansia dan keluarga mampu memahami kondisi lansia diabetisi sehingga dapat melakukan perawatan diri secara mandiri (self-care). Tulisan ini mencoba untuk membahas sebuah model pendidikan kesehatan dalam pengelolaan diabetes secara mandiri (Diabetes self-management education/DSME).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;B. Tujuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Tujuan Umum &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Meningkatkan pengertian dan kemampuan pengelolaan penyakit secara mandiri dalam kontrol metabolisme, mencegah komplikasi akut maupun kronis, serta mengoptimalkan kualitas hidup para lansia diabetisi dan keluarganya (Weerdt, Visser, &amp; Veen, 1989; Clement, 1995). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Tujuan Khusus &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Meningkatkan pengetahuan lansia diabetisi dan keluarganya tentang diabetes mellitus dan pengelolaannya (Padgett et al., 1988; Fernando, 1993). &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Meningkatkan status psikososial lansia diabetisi dan keluarganya: kepercayaan dan sikap terhadap program pengobatan dan mekanisme koping (Padgett et al., 1988; Brown, 1990). &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Meningkatkan perilaku sehat lansia diabetisi dan keluarganya: monitoring kadar gula darah secara mandiri, perencanaan makan (diet), latihan jasmani dan istirahat yang cukup, konsumsi obat hipoglikemik, dan menghindari rokok (Norris et al., 2002; Toobert, et al., 2003). &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;C. Diabetes Self-Management Education (DSME) &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beberapa penelitian mencatat bahwa 50–80% diabetisi memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang kurang dalam mengelola penyakitnya (Norris, Engelgau, &amp; Narayan, 2001; Palestin, Ermawan, &amp; Donsu, 2005), dan kontrol terhadap kadar gula darah ideal (HbA1c&lt;7.0%)&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;DSME merupakan proses pendidikan kesehatan bagi individu atau keluarga dalam mengelola penyakit diabetes (Task Force to Revise the National Standards,1995) yang telah dikembangkan sejak tahun 1930-an oleh Joslin Diabetes Center (Bartlett,1986). DSME menggunakan metode pedoman, konseling, dan intervensi perilaku untuk meningkatkan pengetahuan mengenai diabetes dan meningkatkan ketrampilan individu dan keluarga dalam mengelola penyakit DM (Jack et al., 2004). Pendekatan pendidikan kesehatan dengan metode DSME tidak hanya sekedar menggunakan metode penyuluhan baik langsung maupun tidak langsung namun telah berkembang dengan mendorong partisipasi dan kerjasama diabetisi dan keluarganya (Funnell et al.,1991; Glasgow &amp; Anderson,1999).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Intervensi DSME diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan lansia diabetisi dan keluarganya tentang diabetes mellitus dan pengelolaannya (Padgett et al., 1988; Fernando, 1993) serta meningkatkan status psikososial lansia diabetisi dan keluarganya berkaitan dengan kepercayaan dan sikap terhadap program pengobatan dan mekanisme koping (Padgett et al., 1988; Brown, 1990). Menurut Badruddin et al. (2002), diabetisi yang diberikan pendidikan dan pedoman dalam perawatan diri akan meningkatkan pola hidupnya yang dapat mengontrol gula darah dengan baik. Badruddin et al. sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan kesehatan akan lebih efektif bila petugas kesehatan mengenal tingkat pengetahuan, sikap dan kebiasaan sehari-hari klien tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selanjutnya, intervensi DSME yang dapat meningkatkan aspek kognisi dan afeksi diabetisi dan keluarganya secara simultan akan mempengaruhi peningkatan perilaku sehat diabetisi. Perilaku sehat tersebut terdiri dari monitoring kadar gula darah secara mandiri, perencanaan makan (diet), latihan jasmani dan istirahat yang cukup, konsumsi obat hipoglikemik, dan menghindari rokok. Hasil jangka pendek yang diharapkan adalah terkontrolnya tekanan darah (&lt;140/90&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Skema 1. Kerangka pikir Model Diabetes Self-Management Education&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;Bentuk oval adalah intervensi, kotak dengan sudut lengkung mengindikasikan sebagai hasil antara, dan kotak dengan sudut lancip adalah hasil jangka pendek dan jangka panjang. Sumber : Norris SL, Nichols PJ,&lt;br /&gt;Caspersen CJ, Glasgow RE, Engelgau MM, Jack L, et al. (2002)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jack, et al. (1999) berdasarkan studi review sistematis selanjutnya menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan intervensi DSME dalam konteks komunitas, adalah : faktor komunitas, organisasi, lingkungan fisik, lingkungan sosial, dukungan sosial (keluarga dan jejaring sosial), dan faktor individu (psikologis, biomedis, dan perilaku) (lihat skema 2). Faktor-faktor komunitas, terdiri dari: sosial budaya, sumber daya masyarakat, dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Faktor organisasi yang berpengaruh yaitu pemerintah, sekolah, lembaga swadaya masyarakat, pelayanan kesehatan, dan swasta. Faktor lingkungan fisik terdiri dari lingkungan di dalam dan luar rumah, fasilitas publik, dan sarana transportasi. Faktor lingkungan sosial terdiri dari norma sosial, ekosistem, kondisi ekonomi, budaya setempat, dan kebijakan publik. Faktor dukungan sosial dari keluarga dan sosial. Faktor individu terdiri dari tiga aspek, yaitu kondisi psikologis, biomedis, dan perilaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Skema 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Diabetes Self-Management Education&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;C. Implikasi DSME dalam keperawatan komunitas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peran perawat komunitas adalah mendorong kemandirian lansia diabetisi dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan ketrampilan pengelolaan DM sehingga keluhan dan gejala penyakit DM berkurang serta mencegah komplikasi akut dan kronis yang dapat menyerang pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, syaraf, kulit, kaki, dan sebagainya sehingga kualitas hidup lansia diabetisi lebih optimal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Intervensi keperawatan DSME pada kelompok khusus dapat diimplementasikan pada posbindu atau kelompok lansia diabetisi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pendekatan komunikasi terapeutik dapat berperan sebagai pembangun struktur komunikasi yang terapeutik, sehingga klien akan mudah memahami dan melaksanakan program pengobatan yang telah direncanakan untuknya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Intervensi keperawatan DSME diberikan untuk menjaga stabilitas klien, ketersediaan sumber energi sistem, dan dukungan terhadap klien untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Prevensi primer&lt;/strong&gt;, antara lain deteksi dini DM maupun adanya risiko komplikasi DM, pemeriksaan teratur kadar gula darah secara mandiri, perawatan kaki, latihan kaki dan perencanaan makan (diet). Prevensi primer termasuk melakukan strategi promosi kesehatan bilamana faktor risiko telah terdekteksi namun reaksi klien belum muncul.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Prevensi sekunder&lt;/strong&gt;, yaitu konsumsi obat hipoglikemik sesuai dosis pengobatan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Prevensi tersier,&lt;/strong&gt; yaitu latihan jasmani secara teratur, istirahat yang cukup, menghindari stress, dan menghindari rokok.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;D. Penutup&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. Simpulan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perawat komunitas memiliki peran yang penting guna mendorong masyarakat terutama lansia untuk mampu memahami kondisinya sehingga dapat melakukan perawatan diri secara mandiri (self-care) melalui intervensi DSME. Intervensi DSME berupaya untuk meningkatkan aspek kognisi, afektif dan ketrampilan pengelolaan DM lansia diabetisi dan keluarganya sehingga keluhan dan gejala penyakit DM berkurang serta mencegah komplikasi akut dan kronis sehingga diharapkan kualitas hidup lansia diabetisi dapat lebih optimal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada tahapan ini, perawat komunitas perlu meningkatkan perannya dengan mengambil titik awal pada pemberdayaan kesehatan keluarga. Perawatan komunitas yang berfokus pada keluarga memiliki makna strategis dan berbagai manfaat, yaitu : meningkatnya tanggungjawab sektor publik terhadap peningkatan kesehatan komunitas (Weiner, 2000), pembiayaan perawatan di rumah lebih mudah dikendalikan (Cuellar &amp; Weiner, 2000), serta perawatan berfokus pada keluarga lebih efektif dan bermanfaat bagi kesehatan komunitas (Weissert &amp;amp;amp;amp;amp;amp; Hedrick, 1994; Weissert et al., 1997; Breakwell, 2004).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Saran&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perawat komunitas perlu meningkatkan ketrampilan DSME dan komunikasi terapeutik untuk meningkatkan ketaatan lansia diabetisi dan keluarganya dalam pengelolaan diabetes.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perawat komunitas perlu menentukan indikator keberhasilan intervensi DSME dalam lingkup keluarga maupun komunitas melalui performa aktivitas sehari-hari, pencapaian tujuan intervensi keperawatan, perawatan mandiri, adaptasi, dan partisipasi klien dalam kehidupan sosialnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perawat komunitas harus mampu mengenal dan mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan DSME di tingkat keluarga maupun komunitas. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perawat komunitas harus mampu menggali dan mengelola kekuatan keluarga, sumber daya keluarga serta supra sistem keluarga dalam pelaksanaan DSME. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Referensi :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Almatsier, S. (Ed). (2006). Penuntun Diet Edisi Baru Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;American Diabetes Association. (1998). Economic consequences of diabetes mellitus in the U.S. in 1997. Diabetes Care, 21:296–309. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;American Diabetes Association. (2001a). Standards of medical care for patients with diabetes mellitus (Position Statement). Diabetes Care, 24 (Suppl. 1):S33–S43.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;American Diabetes Association. (2001b). Tests of glycemia in diabetes (Position Statement). Diabetes Care 24 (Suppl. 1):S80–S82.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Badruddin, N., Basit, A., Hydrie, M.Z.I., &amp; Hakeem, R., (2002). Knowledge, Attitude and Practices of Patients Visiting a Diabetes Care Unit, Pakistan Jou of Nut, 1(2): 99-102.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bartlett, E. (1986). Historical glimpses of patient education in the United States. Patient Educ Counsel, 8:135–149.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Breakwell, S. (2004). Connecting New Nurses and Home Care. Home Health Care Management &amp;amp; Practice, 16(2): 117-21.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Brown, S. (1990). Studies of educational interventions and outcomes in diabetic adults: a meta-analysis revisited. Patient Educ Counsel, 16:189 –215. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Clement, S., (1995). Diabetes self-management education. Diabetes Care, 18:1204–1214.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cuellar, AE &amp; J. Weiner. 2000. Can Social Insurance for Long-Term Care Work? The Experience of Germany. Health Affairs 19(3): 8-25.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Elshaw, EB, Young, EA, Saunders, MJ, McGurn, WC, Lopez, LC. (1994). Utilizing a 24-hour dietary recall and culturally specific diabetes education in Mexican Americans with diabetes. Diabetes Educ., 20:228-35. [PMID: 7851238]&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Feeley, N. &amp;amp; Gottlieb, L.N. (2000). Nursing Approaches for Working With Family Strengths and Resources. Journal Of Family Nursing, 6(1), 9-24.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Fernando, D. (1993). Knowledge about diabetes and metabolic control in diabetic patients. Ceylon Med J 38:18 –21.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Funnell, M., Anderson, R., Arnold, M., Barr, P., Donnelly. M., Johnson, P. (1991). Empowerment: an idea whose time has come in diabetes education. Diabetes Educ, 17:37–41.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Glasgow, R., &amp; Anderson R,. (1999). In diabetes care, moving from compliance to adherence is not enough: something entirely different is needed. Diabetes Care, 22:2090–2091. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Harris, MI., Eastman, RC., Cowie, CC., Flegal, KM., &amp;amp; Eberhardt, MS. (1999). Racial and ethnic differences in glycemic control of adults with type 2 diabetes. Diabetes Care, 22:403–408.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jack Jr., L., Liburd, L., Spencer, T., &amp; Airhihenbuwa, C.O. (2004).Understanding the Environmental Issues in Diabetes Self-Management Education Research: A Reexamination of 8 Studies in Community-Based Settings. Ann Intern Med., 140:964-971.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jack, L. Jr, Liburd, L., Vinicor, F., Brody, G., &amp;amp; Murry, VM. (1999). Influence of the environmental context on diabetes self-management: a rationale for developing a new research paradigm in diabetes education. Diabetes Educ., 25:775-7, 779-80, 782 passim. [PMID: 10646474]&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lawrence, JM., Bennett, P., Young, A., &amp; Robinson, AM . (2001). Screening for diabetes in general practice: cross sectional population study. BMJ, 323: 548-551. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mapanga, K.G. &amp;amp; Mapanga, M.B. (2004).A Community Health Nursing Perspective of Home Health Care Management and Practice. Home Health Care Management &amp; Practice, 16(4): 271-279.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Norris, S.L., Engelgau, M.M., &amp;amp; Narayan, K.M.V., (2001). Effectiveness of Self-Management Training in Type 2 Diabetes A systematic review of randomized controlled trials. Diabetes Care, 24(3): 561-587.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Norris, S.L., Lau, J., Smith, S.J., Schmid, C.H., &amp; Engelgau, M.M. (2002). Self-Management Education for Adults With Type 2 Diabetes A meta-analysis of the effect on glycemic control. Diabetes Care, 25:1159–1171.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Norris SL, Nichols PJ, Caspersen CJ, Glasgow RE, Engelgau MM, Jack L, et al. (2002). Increasing diabetes self-management education in community settings. A systematic review. Am J Prev Med., 222(4 Suppl):39-66. [PMID: 11985934]&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Padgett, D., Mumford, E., Hynes, M., &amp;amp; Carter, R. (1988), Meta-analysis of the effects of educational and psycholosocial interventions on management of diabetes mellitus. J Clin Epidemiol, 41:1007–1030.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Palestin, B., Ermawan, B., &amp; Donsu, JDT. (2005). Penerapan Komunikasi Terapeutik Untuk Mengoreksi Perilaku Klien Rawat Jalan Dengan Diabetes Mellitus, Jurnal Teknologi Kesehatan 1(1): 1-10.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Parmet, S., (2004). Weight Gain and Diabetes. JAMA, 292(8): 998. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Stevens, LM. (2002). The ABCs of Diabetes. JAMA, 287(19): 2608.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Soewondo, P. (2006). Hidup Sehat dengan Diabetes. Panduan bagi penyandang diabetes, keluarganya dan petugas kesehatan. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tagliacozzo D.M., Luskin D.B., Lashof J.C. &amp;amp; Ima K., Nurse Intervention and Patient Behavior, Am. Jou. Public Health 1974, Vol. 64 No. 6.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Task Force to Revise the National Standards. (1995). National standards for diabetes self-management education programs. Diabetes Educ, 21:189–193.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Thomas Mandrup&amp;shy;Poulsen. (1998).Recent advances Diabetes. BMJ, 316: 1221-1225.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Toobert, D.J., Glasgow, R.E., Strycker, L.A., Barrera Jr., M., Radcliffe, J.L., Wander, R.C., &amp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagdade, J.D.(2003). Biologic and Quality-of-Life Outcomes From the Mediterranean Lifestyle Program A randomized clinical trial. Diabetes Care,26:2288–2293.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Weerdt, I., Visser, A., &amp;amp; Veen, E. (1989). Attitude behavior theories and diabetes education programmes. Patient Educ Counsel, 14:3–19.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Weiner, J. (2000). Prediction: Long-Term Care in the Next Decade. Caring Magazine (June): 16-8.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Weissert, W &amp; SC Hedrick. (1994). Lessons Learned from Research on Effects of Community-Based Long-Term Care. Journal of the American Geriatrics Society 42: 348-53.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Weissert, W, T Lesnick, M Musliner, &amp;amp; K Foley. (1997). Cost Savings from Home and Community-Based Services: Arizona’s Capitated Medicaid Long-Term Care Program. Journal of Health Politics, Policy and Law 22(6): 1329-57.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-116884578741345183?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/116884578741345183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=116884578741345183' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116884578741345183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116884578741345183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2007/01/pendidikan-kesehatan-dalam-pengelolaan_15.html' title='Pendidikan Kesehatan Dalam Pengelolaan Diabetes Secara Mandiri (Diabetes Self-Management Education) Bagi Diabetisi Dewasa'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-116843652190813003</id><published>2007-01-10T20:41:00.001+07:00</published><updated>2008-08-25T21:39:29.833+07:00</updated><title type='text'>Model Kemitraan Keperawatan Komunitas Dalam Pengembangan Kesehatan Masyarakat</title><content type='html'>&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;1. Latar Belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia yang telah dijalankan selama ini masih memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara pendekatan pembangunan kesehatan masyarakat dengan tanggapan masyarakat, manfaat yang diperoleh masyarakat, dan partisipasi masyarakat yang diharapkan. Meskipun di dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah ditegaskan bahwa tujuan pembangunan kesehatan masyarakat salah satunya adalah meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya. &lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;Oleh karena itu pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian cukup besar terhadap pembangunan kesehatan masyarakat –termasuk perawat spesialis komunitas— perlu mencoba mencari terobosan yang kreatif agar program-program tersebut dapat dilaksanakan secara optimal dan berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu intervensi keperawatan komunitas di Indonesia yang belum banyak digali adalah kemampuan perawat spesialis komunitas dalam membangun jejaring kemitraan di masyarakat. Padahal, membina hubungan dan bekerja sama dengan elemen lain dalam masyarakat merupakan salah satu pendekatan yang memiliki pengaruh signifikan pada keberhasilan program pengembangan kesehatan masyarakat (Kahan &amp; Goodstadt, 2001). Pada bagian lain Ervin (2002) menegaskan bahwa perawat spesialis komunitas memiliki tugas yang sangat penting untuk membangun dan membina kemitraan dengan anggota masyarakat. Bahkan Ervin mengatakan bahwa kemitraan merupakan tujuan utama dalam konsep masyarakat sebagai sebuah sumber daya yang perlu dioptimalkan &lt;i&gt;(community-as-resource)&lt;/i&gt;, dimana perawat spesialis komunitas harus memiliki ketrampilan memahami dan bekerja bersama anggota masyarakat dalam menciptakan perubahan di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat lima model kemitraan yang menurut anggapan penulis cenderung dapat dipahami sebagai sebuah ideologi kemitraan, sebab model tersebut merupakan azas dan nafas kita dalam membangun kemitraan dengan anggota masyarakat lainnya. Model kemitraan tersebut antara lain: kepemimpinan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(manageralism)&lt;/span&gt; (Rees, 2005), pluralisme baru &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(new-pluralism)&lt;/span&gt;, radikalisme berorientasi pada negara &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(state-oriented radicalism)&lt;/span&gt;, kewirausahaan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(entrepreneurialism)&lt;/span&gt; dan membangun gerakan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(movement-building)&lt;/span&gt; (Batsler dan Randall, 1992). Berkaitan dengan praktik keperawatan komunitas di atas, maka model kemitraan yang sesuai untuk mengorganisasi elemen masyarakat dalam upaya pengembangan derajat kesehatan masyarakat dalam jangka panjang adalah model kewirausahaan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(entrepreneurialism)&lt;/span&gt;. Model kewirausahaan memiliki dua prinsip utama, yaitu prinsip otonomi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(autonomy)&lt;/span&gt; –kemudian diterjemahkan sebagai upaya advokasi masyarakat—dan prinsip penentuan nasib sendiri &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(self-determination)&lt;/span&gt; yang selanjutnya diterjemahkan sebagai prinsip kewirausahaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis model kewirausahaan memiliki pengaruh yang strategis pada pengembangan model praktik keperawatan komunitas dan model kemitraan dalam pengorganisasian pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Praktik keperawatan mandiri atau kelompok hubungannya dengan anggota masyarakat dapat dipandang sebagai sebuah institusi yang memiliki dua misi sekaligus, yaitu sebagai institusi ekonomi dan institusi yang dapat memberikan pembelaan pada kepentingan masyarakat terutama berkaitan dengan azas keadilan sosial dan azas pemerataan bidang kesehatan. Oleh karenanya praktik keperawatan sebagai institusi sangat terpengaruh dengan dinamika perkembangan masyarakat (William, 2004; Korsching &amp; Allen, 2004), dan perkembangan kemasyarakatan tentunya juga akan mempengaruhi bentuk dan konteks kemitraan yang berpeluang dikembangkan (Robinson, 2005) sesuai dengan slogan National Council for Voluntary Organizations (NCVO) yang berbunyi : &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;“New Times, New Challenges”&lt;/span&gt; (Batsler dan Randall, 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian lain, saat ini mulai terlihat kecenderungan adanya perubahan pola permintaan pelayanan kesehatan pada golongan masyarakat tertentu dari pelayanan kesehatan tradisional di rumah sakit beralih ke pelayanan keperawatan di rumah disebabkan karena terjadinya peningkatan pembiayaan kesehatan yang cukup besar dibanding sebelumnya (Depkes RI, 2004a, 2004b; Sharkey, 2000; MacAdam, 2000). Sedangkan secara filosofis, saat ini telah terjadi perubahan “paradigma sakit” yang menitikberatkan pada upaya kuratif ke arah “paradigma sehat” yang melihat penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai fokus pelayanan (Cohen, 1996). Sehingga situasi tersebut dapat dijadikan peluang untuk mengembangkan praktik keperawatan komunitas beserta pendekatan kemitraan yang sesuai di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini mencoba untuk: (1) mengidentifikasi model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat; (2) menganalisis kemanfaatan model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat; dan (3) mengidentifikasi implikasi model pada pengembangan kebijakan keperawatan komunitas dan promosi kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;2. Pengembangan Kesehatan Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nies dan Mc. Ewan (2001) mendeskripsikan pengembangan kesehatan masyarakat &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(community health development)&lt;/span&gt; sebagai pendekatan dalam pengorganisasian masyarakat yang mengkombinasikan konsep, tujuan, dan proses kesehatan masyarakat dan pembangunan masyarakat. Dalam pengembangan kesehatan masyarakat, perawat spesialis komunitas mengidentifikasikan kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan kemudian mengembangkan, mendekatkan, dan mengevaluasi tujuan-tujuan pembangunan kesehatan melalui kemitraan dengan profesi terkait lainnya (Nies &amp; Mc.Ewan, 2001; CHNAC, 2003; Diem &amp; Moyer, 2004; Falk-Rafael, et al.,1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang tugas perawat spesialis komunitas tidak bisa terlepas dari kelompok masyarakat sebagai klien termasuk sub-sub sistem yang terdapat di dalamnya, yaitu: individu, keluarga, dan kelompok khusus. Menurut Nies dan McEwan (2001), perawat spesialis komunitas dalam melakukan upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat menggunakan alternatif model pengorganisasian masyarakat, yaitu: perencanaan sosial, aksi sosial atau pengembangan masyarakat. Berkaitan dengan pengembangan kesehatan masyarakat yang relevan, maka penulis mencoba menggunakan pendekatan pengorganisasian masyarakat dengan model pengembangan masyarakat &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(community development)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari penggunaan model pengembangan masyarakat adalah (1) agar individu dan kelompok-kelompok di masyarakat dapat berperan-serta aktif dalam setiap tahapan proses keperawatan, dan (2) perubahan perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan) dan kemandirian masyarakat yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatannya di masa mendatang (Nies &amp; McEwan, 2001; Green &amp; Kreuter, 1991). Menurut Mapanga dan Mapanga (2004) tujuan dari proses keperawatan komunitas adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian fungsional klien / komunitas melalui pengembangan kognisi dan kemampuan merawat dirinya sendiri. Pengembangan kognisi dan kemampuan masyarakat difokuskan pada dayaguna aktifitas kehidupan, pencapaian tujuan, perawatan mandiri, dan adaptasi masyarakat terhadap permasalahan kesehatan sehingga akan berdampak pada peningkatan partisipasi aktif masyarakat (Lihat Gambar 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bondanp.multiply.com/photos/photo/12/1"&gt;Gambar 1. Partisipasi klien sebagai Luaran Kesehatan pada Praktik Keperawatan Komunitas&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : Kudakwashe G. Mapanga dan Margo B. Mapanga (2004) halaman 275&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawat spesialis komunitas perlu membangun dukungan, kolaborasi, dan koalisi sebagai suatu mekanisme peningkatan peran serta aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi implementasi upaya kesehatan masyarakat. Anderson dan McFarlane (2000) dalam hal ini mengembangkan model keperawatan komunitas yang memandang masyarakat sebagai mitra &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(community as partner model).&lt;/span&gt; Fokus dalam model tersebut menggambarkan dua prinsip pendekatan utama keperawatan komunitas, yaitu (1) lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang menekankan anggota masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan, dan (2) proses keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi dasar mekanisme kolaborasi perawat spesialis komunitas dengan masyarakat tersebut adalah hubungan kemitraan yang dibangun memiliki dua manfaat sekaligus yaitu meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dan keberhasilan program kesehatan masyarakat (Kreuter, Lezin, &amp;amp; Young, 2000). Mengikutsertakan masyarakat dan partisipasi aktif mereka dalam pembangunan kesehatan dapat meningkatkan dukungan dan penerimaan terhadap kolaborasi profesi kesehatan dengan masyarakat (Schlaff, 1991; Sienkiewicz, 2004). Dukungan dan penerimaan tersebut dapat diwujudkan dengan meningkatnya sumber daya masyarakat yang dapat dimanfaatkan, meningkatnya kredibilitas program kesehatan, serta keberlanjutan koalisi perawat spesialis komunitas-masyarakat (Bracht, 1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;3. Model Kemitraan Keperawatan Komunitas dalam Pengembangan Kesehatan Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hitchcock, Scubert, dan Thomas (1999) fokus kegiatan promosi kesehatan adalah konsep pemberdayaan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(empowerment)&lt;/span&gt; dan kemitraan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(partnership)&lt;/span&gt;. Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru. Sedangkan kemitraan memiliki definisi hubungan atau kerja sama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau memberikan manfaat (Depkes RI, 2005). Partisipasi klien/masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan (Mapanga &amp; Mapanga, 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan, kemitraan dan partisipasi memiliki inter-relasi yang kuat dan mendasar. Perawat spesialis komunitas ketika menjalin suatu kemitraan dengan masyarakat maka ia juga harus memberikan dorongan kepada masyarakat. Kemitraan yang dijalin memiliki prinsip “bekerja bersama” dengan masyarakat bukan “bekerja untuk” masyarakat, oleh karena itu perawat spesialis komunitas perlu memberikan dorongan atau pemberdayaan kepada masyarakat agar muncul partisipasi aktif masyarakat (Yoo et. al, 2004). Membangun kesehatan masyarakat tidak terlepas dari upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan dan partisipasi masyarakat (Nies &amp;amp; McEwan, 2001), namun perawat spesialis komunitas perlu membangun dan membina jejaring kemitraan dengan pihak-pihak yang terkait (Robinson, 2005), misalnya: profesi kesehatan lainnya, penyelenggara pemeliharaan kesehatan, Puskesmas, donatur / sponsor, sektor terkait, organisasi masyarakat, dan tokoh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hubungan elemen-elemen di atas, maka penulis mencoba untuk merumuskan sebuah model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat yang dijiwai oleh ideologi entrepreneurialisme (Gambar 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bondanp.multiply.com/photos/photo/12/2"&gt;Gambar 2. Model Kemitraan Keperawatan Komunitas dalam Pengembangan Kesehatan Masyarakat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat merupakan suatu paradigma yang memperlihatkan hubungan antara beberapa konsep penting, tujuan dan proses dalam tindakan pengorganisasian masyarakat yang difokuskan pada upaya peningkatan kesehatan (Hickman, 1995 dalam Nies &amp; McEwan, 2001). Konsep utama dalam model tersebut adalah kemitraan, kesehatan masyarakat, nilai dan kepercayaan yang dianut, pengetahuan, partisipasi, kapasitas dan kepemimpinan yang didasarkan pada pelaksanaan prinsip-prinsip kewirausahaan dan advokasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;4. Ideologi Entrepreneurialisme dalam Kemitraan Keperawatan Komunitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi perawat memiliki implikasi pada pengembangan praktik keperawatan yang profesional, etis dan legal (PPNI, 2004) sehingga profesi perawat berhak menyelenggarakan praktik secara mandiri atau berkelompok. Berdasarkan tugas dan fungsi perawat spesialis komunitas tersebut, penulis berpandangan bahwa perawat spesialis komunitas dalam membina kemitraan di masyarakat perlu memiliki ideologi kewirausahaan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(entrepreunership)&lt;/span&gt; sebab segala tindakan dan kebijakan yang diambil selalu berkaitan dinamika perubahan kehidupan masyarakat, baik kehidupan sosial, ekonomi, dan politik (William, 2004; Korsching &amp; Allen, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Batsleer dan Randall (1992) ideologi entrepreneurialisme memiliki dua karakter, yaitu: prinsip otonomi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(autonomy)&lt;/span&gt; dan penentuan nasib sendiri &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(self determination)&lt;/span&gt;. Dalam prinsip otonomi, perawat spesialis komunitas berupaya membela dan memperjuangkan hak-hak dan keadilan masyarakat dalam sistem pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, perawat spesialis komunitas memainkan perannya sebagai advokator (pembela) dan mitra &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(partner)&lt;/span&gt; bagi kliennya (masyarakat) (Stanhope &amp;amp; Lancaster, 1997). Sedangkan dalam prinsip penentuan nasib sendiri, perawat sebagai profesi berhak untuk melaksanakan praktik legal yang dapat diselenggarakan secara mandiri maupun berkelompok sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1239 tahun 2001. Praktik keperawatan komunitas sebagai institusi perlu dijalankan secara profesional agar dapat bertahan menghadapi perkembangan kehidupan sosial, ekonomi dan politik yang dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;4.1. Advokasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun istilah advokasi mempunyai banyak definisi, dua definisi di bawah ini mengandung konsep-konsep utama advokasi hak asasi manusia (hak masyarakat) yang esensial. Pengertian pertama advokasi sebagai segala aktivitas yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran publik di antara para pengambil-keputusan dan khalayak umum atas sebuah masalah atau kelompok masalah, dalam rangka menghasilkan berbagai perubahan kebijakan dan perbaikan situasi (Black, 2002, hal.11). Pengertian kedua, advokasi keadilan sosial, yaitu upaya pencapaian hasil-hasil yang berpengaruh – meliputi kebijakan-publik dan keputusan-keputusan alokasi sumber daya dalam sistem dan institusi politik, ekonomi, dan sosial – yang mempengaruhi kehidupan banyak orang secara langsung (Cohen et al., 2001, hal. 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;4.2. Kewirausahaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi kewirausahaan adalah individu (kelompok) yang dapat mengidentifikasi kesempatan berdasarkan kemampuan, keinginan, dan kepercayaan yang dimilikinya serta membuat pertimbangan dan keputusan yang berkaitan dengan upaya menyelaraskan sumber daya dalam pencapain keuntungan personal (Otuteye &amp; Sharma, 2004). Perawat spesialis komunitas dapat dianggap sebagai institusi penyedia layanan keperawatan. Sehingga untuk menggambarkan faktor-faktor institusi yang dapat mempengaruhi etos kewirausahaan perawat spesialis komunitas, Penulis menggunakan kerangka kerja Douglass C. North dalam Mary Jesselyn Co (2004). Kerangka kerja tersebut menganalisis bagaimana institusi dan perubahan institusi berdampak pada penampilan ekonominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bondanp.multiply.com/photos/photo/12/3"&gt;Gambar 3. Beberapa faktor yang mempengaruhi etos kewirausahaan&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-size:85%;" &gt;Sumber : Mary Jesselyn Co (2004) halaman 188.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemitraan antara perawat spesialis komunitas dan pihak-pihak terkait dengan masyarakat digambarkan dalam bentuk garis hubung antara komponen-komponen yang ada. Hal ini memberikan pengertian perlunya upaya kolaborasi dalam mengkombinasikan keahlian masing-masing yang dibutuhkan untuk mengembangkan strategi peningkatan kesehatan masyarakat. Pihak-pihak terkait yang dapat dibina hubungannya dengan perawat spesialis komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat, adalah :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Profesi kesehatan lainnya, misalnya dokter, ahli gizi, sanitarian, bidan/bidan di desa, atau fisioterapist.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Puskesmas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Organisasi Penyelenggara Pemeliharaan Kesehatan (PPK) atau &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Health Maintenance Organization&lt;/span&gt; (HMO). Organisasi PPK memberikan jaminan pelayanan keperawatan dan pelayanan profesi kesehatan lainnya dengan prinsip managed care. Managed care yaitu suatu integrasi antara pembiayaan dan penyediaan pelayanan kesehatan yang tepat guna untuk menjamin anggota masyarakat (Thabrany, 2000a). Pembiayaan managed care menggunakan sistem kapitasi (Thabrany, 2000b).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Donatur / sponsor, merupakan badan atau lembaga yang dapat memberikan bantuan finansial baik secara sukarela atau mengikat untuk program pengembangan kesehatan masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lintas sektor terkait, merupakan institusi formal (birokrasi) yang terkait dengan upaya pengembangan kesehatan masyarakat dari tingkat teknis lapangan sampai ke tingkat kabupaten/kota. Misalnya: Pemerintah Daerah, Bappeda, Dinas Pertanian / Peternakan, BKKBN, PDAM, Dinas Pekerjaan Umum, dan lain-lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Organisasi masyarakat formal dan informal, misalnya: Organisasi Muhammadiyah/Aisyah, Nahdlatul Ulama/Fatayat NU, Lembaga Swadaya Masyarakat, TP-PKK, kelompok pengajian, kelompok arisan, dasa wisma, dan lain-lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tokoh masyarakat atau tokoh agama yang memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(key persons)&lt;/span&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan masyarakat digambarkan sebagai bangun segitiga beserta unsur partisipasi, kapasitas, dan kepemimpinan (Nies &amp;amp; Mc. Ewan, 2001). Partisipasi berkaitan dengan peran serta aktif seluruh komponen masyarakat, yaitu individu, keluarga, kelompok risiko tinggi, dan sektor terkait lainnya, dalam upaya perencanaan dan peningkatan derajat kesehatan secara komprehensif. Kapasitas memiliki makna tingkat pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan anggota masyarakat secara keseluruhan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Sedangkan kepemimpinan mengindikasikan kemampuan mempengaruhi anggota masyarakat dalam meningkatkan fungsionalnya pada pengembangan kesehatan masyarakat. Masyarakat memerlukan pemimpin yang dapat mengorganisasikan, bertanggungjawab, dan memobilisasi anggota masyarakat lain untuk lebih berperan aktif dalam pengembangan kesehatannya.&lt;br /&gt;Garis panah penghubung masing-masing unsur dalam bangun segitiga menggambarkan tingkat pengetahuan, kepercayaan dan nilai-nilai panutan masyarakat yang berpengaruh terhadap upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Fokus utama model adalah masyarakat atau komunitas secara keseluruhan. Tiga tanda panah yang mengarah pada “Kesehatan Masyarakat” memberikan makna adanya interaksi berbagai unsur dalam model untuk mencapai tujuan bersama yaitu masyarakat yang sehat. Menurut Nies dan Mc. Ewan (2001), terminologi “kesehatan masyarakat” dalam pembangunan kesehatan masyarakat memiliki dua pengertian. Pertama, digunakan untuk menggambarkan pencapaian kualitas kesehatan yang diinginkan atau dampak dari upaya pengembangan kesehatan masyarakat &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(outcome indicators)&lt;/span&gt;. Dan kedua, sebagai perangkat utama untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan masyarakat (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;input indicators&lt;/span&gt; dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;process indicators&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;5. Analisis Kemanfaatan Model Kemitraan Keperawatan Komunitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penjelasan model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan komunitas, maka perlu dianalisis dari beberapa aspek, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;5.1. Keperawatan Spesialis Komunitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dapat dikembangkannya model praktik keperawatan komunitas yang terintegrasi antara praktik keperawatan dengan basis riset ilmiah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengenalkan model praktik keperawatan komunitas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan proses berpikir kritis dan pengorganisasian pengembangan kesehatan masyarakat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan jejaring dan kemitraan dengan masyarakat dan sektor terkait&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan legalitas praktik keperawatan spesialis komunitas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendorong praktik keperawatan komunitas yang profesional&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;5.2. Sistem Pendidikan Keperawatan Komunitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Memperbaiki sistem pendidikan keperawatan spesialis komunitas yang profesional dan aplikatif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan kepercayaan diri perawat pada umumnya dan perawat spesialis komunitas pada khususnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menunjukkan peran baru perawat spesialis komunitas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sejak awal mahasiswa keperawatan komunitas dikenalkan dengan kegiatan intervensi keperawatan pada pengembangan kesehatan masyarakat, yaitu: kolaborasi, kemitraan dan mengembangkan jaringan kerja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan kesiapan mahasiswa pendidikan keperawatan spesialis komunitas dalam praktik keperawatan komunitas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merumuskan bentuk pembelajaran keperawatan komunitas yang inovatif&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;5.3. Regulasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mendorong para pengambil kebijakan dan elemen-elemen yang terkait lainnya untuk memberikan perhatian dan dukungan pada model praktik keperawatan komunitas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendorong pemerintah mengeluarkan regulasi yang dapat memberikan jaminan pada penyelenggaraan praktik keperawatan komunitas yang profesional&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendorong terbentuknya sistem monitoring dan evaluasi yang efisien dan efektif&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;5.4. Sistem Pelayanan Kesehatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Memperkenalkan dan meningkatkan sistem praktik keperawatan komunitas sebagai Sub Sistem Kesehatan Nasional&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan jaringan kerja pelayanan kesehatan yang berbasis rumah sakit dan masyarakat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan jaringan kerja pelayanan keperawatan komunitas dengan elemen-elemen dalam masyarakat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengarahkan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada paradigma sehat atau mengutamakan upaya preventif dan promotif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempercepat pencapaian Indonesia Sehat 2010 melalui Kabupaten/Kota Sehat, Kecamatan Sehat, dan Desa Sehat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menurunkan angka pelayanan di rumah sakit&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membentuk model praktik keperawatan komunitas bagi daerah-daerah lain di Indonesia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan sistem informasi kesehatan masyarakat berbasis pelayanan keperawatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan jaringan kerja dengan spesialisasi keperawatan lainnya&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;5.5. Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan pelayanan pasca kesakitan (pasca hospitalisasi) pada masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan peran serta aktif individu, keluarga, kelompok khusus, dan masyarakat dalam pengembangan kesehatan masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan kapasitas, partisipasi, dan kepemimpinan anggota masyarakat dalam pengembangan kesehatan masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan kolaborasi, kemitraan, dan jaringan kerja antar elemen masyarakat dalam pengembangan kesehatan masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan pengetahuan, kepercayaan dan nilai-nilai masyarakat dalam hidup berperilaku sehat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat masyarakat terutama upaya kesehatan mandiri yang bersifat preventif dan promotif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menurunkan insidensi penyakit menular berbasis masyarakat dan lingkungan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;6. Implikasi Model pada Pengembangan Kebijakan Keperawatan Komunitas dan Promosi Kesehatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;br /&gt;6.1. Implikasi model pada pengembangan kebijakan keperawatan komunitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kompleksitas bidang tugas keperawatan komunitas terutama dalam membangun kolaborasi, kemitraan dan jaringan kerja dengan elemen masyarakat lainnya, maka perlu :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Didorong penyusunan Undang-undang tentang Profesi Perawat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disusun Kode Etik dan Standar Kompetensi Perawat Spesialis Komunitas Indonesia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disusun Standar Pelayanan Praktik Keperawatan Komunitas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disusun Sistem Keperawatan Komunitas termasuk sistem pendidikan berkelanjutan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dibentuk kolegia perawat spesialis komunitas untuk meningkatkan standar mutu pelayanan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dibentuk suasana praktik keperawatan komunitas yang berbasis pada penelitian ilmiah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyusun integrasi antara sistem pendidikan perawat spesialis komunitas dengan praktik perawat spesialis komunitas.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;6.2. Implikasi model pada promosi kesehatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan peran dan fungsi perawat spesialis komunitas sebagai koordinator, kolaborator, penghubung, advokat, penemu kasus, pemimpin, pemberi pelayanan keperawatan, role model, pengelola kasus, referal resource, peneliti, community care agent dan change agent.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan pelayanan keperawatan berupa asuhan keperawatan/ kesehatan Individu, keluarga, kelompok, masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan kesehatan serta pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian di bidang keperawatan/ kesehatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatnya kolaborasi, kemitraan dan jaringan kerja perawat spesialis komunitas dengan masyarakat maupun elemen masyarakat terkait lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatnya upaya preventif dan promotif dibanding upaya kuratif dan rehabilitatif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatnya tiga upaya preventif (tindakan pencegahan)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;7. Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus praktik keperawatan komunitas adalah individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat. Pengorganisasikan komponen masyarakat yang dilakukan oleh perawat spesialis komunitas dalam upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat menggunakan pendekatan pengembangan masyarakat &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(community development).&lt;/span&gt; Intervensi keperawatan komunitas yang paling penting adalah membangun kolaborasi dan kemitraan bersama anggota masyarakat dan komponen masyarakat lainnya, karena dengan terbentuknya kemitraan yang saling menguntungkan dapat mempercepat terciptanya masyarakat yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Model kemitraan keperawatan komunitas dalam pengembangan kesehatan masyarakat” merupakan paradigma perawat spesialis komunitas yang relevan dengan situasi dan kondisi profesi perawat di Indonesia. Model ini memiliki ideologi kewirausahaan yang memiliki dua prinsip penting, yaitu kewirausahaan dan advokasi pada masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan azas keadilan sosial dan azas pemerataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini telah disajikan analisis mengenai kemanfaatan model kemitraan keperawatan komunitas terhadap: keperawatan spesialis komunitas, sistem pendidikan keperawatan komunitas, regulasi, sistem pelayanan kesehatan, dan masyarakat serta implikasi model terhadap pengembangan kebijakan keperawatan komunitas dan promosi kesehatan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;" &gt;DAFTAR PUSTAKA:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anderson, E.T. &amp; J. McFarlane, 2000. Community as Partner Theory and Practice in Nursing 3rd Ed. Philadelphia: Lippincott Williams &amp;amp; Wilkins.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Black, M. 2002. A Handbook on Advocacy – Child Domestic Workers: Finding a Voice. Anti-Slavery International. Sussex, UK: The Printed Word.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bracht, N. (Ed.). 1990. Health promotion at the community level. Newbury Park, CA: Sage.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Co, M.J. 2004. The Formal Institutional Framework of Entrepreneurship in the Philippines: Lessons for Developing Countries. The Journal of Entrepreneurship, 13 (2): 185-203.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cohen, E. 1996 Nurse Case Management in the 21st Century. St. Louis: Mosby-Year Book. Inc.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cohen, D., de la Vega, R., &amp;amp; Watson, G. 2001. Advocacy for Social Justice: A Global Action and Reflection Guide. Bloomfield, CT: Kumarian Press.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Community Health Nurses Association of Canada. 2003. Canadian community health nursing standards of practice. Ottawa: Author.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Depkes RI. 2004a. Kajian Sistem Pembiayaan, Pendataan dan Kontribusi APBD untuk Kesinambungan Pelayanan Keluarga Miskin (Exit Strategy). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Depkes RI. 2004b. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Depkes RI. 2005. Kemitraan. Pusat Promosi Kesehatan http://www. promokes.go.id, diunduh pada tanggal 25 September 2005.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-116843652190813003?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/116843652190813003/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=116843652190813003' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116843652190813003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116843652190813003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2007/01/model-kemitraan-keperawatan-komunitas_10.html' title='Model Kemitraan Keperawatan Komunitas Dalam Pengembangan Kesehatan Masyarakat'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-116187850301888168</id><published>2006-10-26T22:59:00.000+07:00</published><updated>2006-10-26T23:01:43.153+07:00</updated><title type='text'>P-PROCESS</title><content type='html'>Agar pengembangan program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) lebih efisien dan efektif perlu dilakukan 5 tahap :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bondanp.multiply.com/photos/photo/3/3"&gt;Gb.1. P - PROCESS&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Kelima tahapan ini saling berkait dan merupakan proses yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TAHAP I : ANALISIS KHALAYAK DAN PROGRAM&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;1.Meninjau khalayak  potensial &lt;br /&gt;2.Mengkaji kebijaksanaan dan program yang ada&lt;br /&gt;3.Mencari lembaga atau organisasi yang potensial untuk mendukung program  &lt;br /&gt;4.Mengevaluasi sumber daya KIE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam analisis khalayak sasaran yang ditinjau adalah :&lt;br /&gt;Ø Khalayak sasaran (lingkungan sosial) untuk  menentukan faktor-faktor demografi, geografi, ekonomi, dan sosial yang berpengaruh terhadap kegiatan KIE&lt;br /&gt;Dalam analisis program yang ditinjau adalah :&lt;br /&gt;Ø Kebijaksanaan, program dan kegiatan-kegiatan yang telah ada&lt;br /&gt;Ø Kemampuan lembaga atau organisasi yang potensial untuk mendukung program&lt;br /&gt;Ø Kapasitas sumber daya KIE untuk bisa digunakan &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TAHAP II : PENYUSUNAN RANCANGAN PROGRAM  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Menentukan tujuan komunikasi&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi khalayak sasaran &lt;br /&gt;3. Mengembangkan pesan&lt;br /&gt;4. Memilih media&lt;br /&gt;5. Merencanakan dukungan, penguatan interpersonal&lt;br /&gt;6. Menyusun rencana kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan rancangan program dapat diidentifikasi dan ditentukan melalui 8 komponen rumusan :&lt;br /&gt;Ø Menentukan tujuan&lt;br /&gt;Ø Mengidentifikasikan khalayak sasaran&lt;br /&gt;Ø Pengembangan pesan&lt;br /&gt;Ø Pemilihan media&lt;br /&gt;Ø Memperkuat dukungan antar pribadi&lt;br /&gt;Ø Jadwal kerja&lt;br /&gt;Ø Anggaran&lt;br /&gt;Ø Struktur organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TAHAP III : PENGEMBANGAN, UJI COBA, PENYEMPURNAAN DAN PRODUKSI MEDIA  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Mengembangkan konsep pesan&lt;br /&gt;2. Melakukan pre-test atau uji coba terhadap khalayak sasaran&lt;br /&gt;3. Merumuskan pesan lengkap dan bentuk kemasannya&lt;br /&gt;4. Melakukan pre-test atau uji coba tahap lanjutan terhadap khalayak sasaran&lt;br /&gt;5. Melakukan uji ulang terhadap bahan KIE yang ada (sudah pernah dibuat dan akan diproduksi ulang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TAHAP IV : PENERAPAN DAN PEMANTAUAN  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Mengelola iklim organisasi&lt;br /&gt;2. Menerapkan rencana kegiatan&lt;br /&gt;3. Memantau hasil program&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelola program harus terampil dalam memutuskan tiga hal :&lt;br /&gt;Ø Mengelola iklim organisasi : pendekatan untuk menjangkau sasaran program harus belajar dari pengalaman, tidak mengkritik&lt;br /&gt;Ø Mengelola manusia : mengetahui kapan harus memberi petunjuk, kapan harus mendelegasikan tanggungjawab dan kapan harus mendorong staf untuk berkarya yang kreatif&lt;br /&gt;Ø Mengelola tugas : mendorong dalam mengejar kegiatan yang produktif dan menghentikan kegiatan yang tidak produktif serta mengetahui bahwa menghentikan kegiatan yang tidak produktif seringkali lebih efisien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah penerapan adalah :&lt;br /&gt;Ø Memproduksi pesan final dan materi berdasarkan hasil pre-test&lt;br /&gt;Ø Menjadwalkan dan mengintegrasikan penyebaran materi melalui jalur yang efektif untuk mendapatkan dampak yang maksimal&lt;br /&gt;Ø Melatih tenaga yang akan menggunakan materi KIE&lt;br /&gt;Ø Mengedarkan jadwal penerapan program dan laporan-laporan secara luas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah pemantauan adalah :&lt;br /&gt;Ø Memantau jumlah produksi bahan KIE&lt;br /&gt;Ø Memantau penyebaran di media dan melalaui komunikasi antar pribadi&lt;br /&gt;Ø Memantau struktur internal dan ketaatan petugas, jadwal kerja dan anggaran&lt;br /&gt;Ø Memantau dan memperkuat hubungan kerja dengan lembaga lain termasuk petugas kesehatan dan organisasi yang telah mendukung maupun yang belum&lt;br /&gt;Ø Membuat revisi yang diperlukan untuk penyempurnaan rancangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TAHAP V : EVALUASI DAN RANCANG ULANG &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Mengukur dampak keseluruhan&lt;br /&gt;2. Menyusun rancangan ulang untuk periode berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah – langkah yang ditempuh adalah :&lt;br /&gt;Ø Mengukur dan melacak kesadaran, pengenalan, pemahaman, mengingat kembali dan praktek dengan menggunakan teknik riset yang sesuai dan dapat dijangkau untuk mendapatkan umpan balik yang cepat dan tepat&lt;br /&gt;Ø Melakukan analisis hasil yang diperoleh, disesuaikan dengan tujuan yang spesifik saat merancang Program K3  menelaah dan menganalisis kumpulan informasi yang didapat pada setiap tahap proses&lt;br /&gt;Ø Melakukan analisis dampak proyek dari kaca mata khalayak, organisasi penyandang dana dan pihak lain yang terkait&lt;br /&gt;Ø Mengidentifikasi perubahan yang signifikan atau berarti pada lingkup nasional&lt;br /&gt;Ø Mengidentifikasi peluang-peluang dan kelemahan - kelemahan&lt;br /&gt;Ø Mengevaluasi ketrampilan  yang diperoleh personil&lt;br /&gt;Ø Mengestimasi sumber daya yang mendukung di masa yang akan dating&lt;br /&gt;Ø Mendesain ulang kegiatan-kegiatan KIE secara berkesinambungan&lt;br /&gt;Ø Melakukan penilaian ulang data untuk digunakan pada program baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* BERKESINAMBUNGAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ø Buat rancangan dalam bentuk proses yang berkesinambungan&lt;br /&gt;Ø Selalu sesuaikan dengan perubahan menurut kebutuhan khalayak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PRINSIP-PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN KIE DENGAN PENDEKATAN P-PROCESS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pendekatan interdisipliner &lt;br /&gt;2. Koordinasi dengan pihak penyedia layanan&lt;br /&gt;3. Segmentasi khalayak sasaran&lt;br /&gt;4. Pre-test  dengan khalayak sasaran&lt;br /&gt;5. Jalur ganda untuk memperkuat&lt;br /&gt;6. Keterlibatan lintas sector&lt;br /&gt;7. Pemantauan secara sistimatis dan penyesuaian&lt;br /&gt;8. Kesinambungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adaptasi dari The Johns Hopkins University, Population Communication Services, Center for Communication Programs (JHU/PCS)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-116187850301888168?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/116187850301888168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=116187850301888168' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116187850301888168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116187850301888168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2006/10/p-process_26.html' title='P-PROCESS'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-116133357522375536</id><published>2006-10-20T15:37:00.000+07:00</published><updated>2006-10-20T15:39:43.113+07:00</updated><title type='text'>Rapid Health Assessment (RHA) Pasca Gempa Bumi 27 Mei 2006 di  Kabupaten Bantul, Yogyakarta</title><content type='html'>Gempa tektonik telah mengguncang wilayah Propinsi D.I. Yogyakarta dan sekitarnya pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 pukul 5:53:58. Menurut laporan &lt;em&gt;National Earthquake Information Center, United States Geological Survey &lt;/em&gt;(USGS), gempa berkekuatan 5,9 SR tersebut terletak di wilayah daratan Kabupaten Bantul (25 km arah Timur Laut Kota Yogyakarta) pada 7,962°LS dan 110,458°BT di kedalaman 10 km.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tersebut memiliki dampak yang cukup signifikan bagi status kesehatan masyarakat di wilayah gempa terutama Kabupaten Bantul. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya penanggulangan masalah kesehatan melalui langkah-langkah tanggap darurat. Salah satu upaya tersebut adalah dilaksanakannya penilaian cepat (&lt;em&gt;rapid health assessment&lt;/em&gt;/RHA) untuk mengetahui besaran masalah kesehatan yang dihadapi dan kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah bencana. Hasil penilaian cepat ini dapat digunakan untuk memantapkan berbagai upaya kesehatan pada tahap tanggap darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wujud tanggap darurat terhadap bencana ini, Politeknik Kesehatan Yoyakarta beserta relawan dari Politeknik Kesehatan dan jajaran kesehatan yang lainnya mengambil inisiatif penanggulangan dalam bentuk mendirikan posko kesehatan, imunisasi TT massal dan penilaian cepat. Kegiatan ini dimulai pada tanggal 29 Mei s.d. 15 Juni 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian cepat kesehatan dilakukan pada tanggal 15 Juni 2006 hanya di lima kecamatan terpilih di wilayah Bantul yaitu : Kecamatan Pleret, Banguntapan, Jetis, Pundong, dan Sewon. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengetahui besar masalah kesehatan dan risiko penyakit yang akan datang sebagai akibat bencana gempa. Kajian assesmen kesehatan akibat bencana di Provinsi DIY melipui aspek keadan umum dan lingkungan, derajad kesehatan, sarana kesehatan dan bantuan kesehatan. Hasil kajian ini diharapkan dapat digunakan oleh berbagai pihak terkait dalam upaya bersama memulihkan sistem kesehatan di Provinsi DIY khususnya.&lt;br /&gt;Tercatat 55,6% Puskesmas Induk dan Perawatan dari 27 unit yang ada di Kabupaten Bantul mengalami kerusakan berat, begitu juga dengan kondisi Puskesmas Pembantu (53,6%) dan Rumah Dinas Dokter dan Paramedis (64,8%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rerata umur responden 28 tahun (IK95% : 26 – 30). Sebagian besar responden adalah perempuan (52,9%) dan sebagai ibu rumah tangga (73,3%). Hampir sepertiga responden pernah mengenyam pendidikan SD (31,9%) dan SLTP (31,4%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Responden yang memiliki anggota keluarga cedera akibat gempa bumi sebesar 40,0% (IK95%: 29,26 - 50,74). Sebagian besar letak cedera korban bencana gempa bumi berada di daerah kepala (15,7%; IK95% : 5,13 - 26,28), tangan (11,3%; IK95% 4,85 - 17,66) dan kaki (11,1%; IK95% : 8,01 - 14,26). Pada saat survei dilakukan 3,4% (IK95% : 1,33 - 5,56) anggota keluarga yang cedera mengalami infeksi dan perlu penanganan perawatan luka yang lebih adekuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survei memperlihatkan masih banyak masyarakat yang mengobati dirinya sendiri di rumah (30,2%; IK 95% : 3,80 - 56,57) atau bahkan luka didiamkan saja (6,6%; IK 95% : 2,95 - 10,26). Anggota keluarga responden yang sedang menjalani rawat inap di fasilitas kesehatan sebesar 7,7% (IK 95% : 2,93 - 12,54), anggota keluarga yang menjalani rawat jalan di fasilitas kesehatan sebesar 13,8% (IK 95% : 8,61 - 18,93).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga yang memiliki ibu hamil pada saat survei dilakukan sebesar 29,1% (IK 95%: 25,09 – 34,07) dengan rata-rata usia ibu hamil 29,4 tahun (IK 95%: 25,87 - 32,85). Mereka memiliki rata-rata umur kehamilan 21,4 bulan (IK 95%: 16,93 -25,87). Terdapat 16,0%( IK 95%:13,49 - 18,51) ibu hamil yang menderita status gizi kurang (KEK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga yang memiliki ibu baru melahirkan hanya 5,24% (IK95%: 2,31 - 8,17), dimana waktu bersalin sebagian besar ditolong oleh dokter (72,73%; IK95% : 70,35 - 75,11) di rumah sakit (72,73%; IK95% : 70,36 - 75,10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar responden memiliki anak balita (63,55%; IK95%: 2,31 - 8,17), dengan rata-rata usia balita 28,9 bulan. Namun terdapat anak balita yang menderita gizi kurang (20,8%;IK95%:19,99 - 21,64) dan buruk (4,6%; IK95%: 3,74 - 5,40) yang perlu mendapat perhatian dan monitoring lebih besar bagi petugas kesehatan.&lt;br /&gt;Pada saat survei dilakukan, ketersediaan cadangan bahan makanan pokok masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga untuk 14,1 hari (IK95%: 7,53 - 20,63), sedangkan bahan makanan lain masih bisa mencukupi untuk kebutuhan selama satu minggu kecuali buah-buahan (3,0 hari;IK95%: 0,75 - 5,17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa bumi dahsyat telah menghancurkan sebagian besar rumah penduduk di lokasi survei atau 81,8% (IK95%: 48,55 - 114,99). Bahkan tidak ada rumah yang tidak rusak meskipun hanya rusak ringan (3,1%; IK95% : -1,30 – 7,44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar penduduk masih mengandalkan sumber air bersih dari sumur (70,4%; IK95% : 44,74 - 96,03), meskipun ada sebagian kecil penduduk dengan kualitas fisik sumur yang tidak memenuhi syarat kesehatan (4,8%; IK95% : -14,63 - 24,16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dua minggu setelah kejadian gempa bumi tanggal 27 Mei 2006, sudah banyak lingkungan responden yang telah mendapatkan bantuan kesehatan dari berbagai instansi atau LSM namun bantuan pengasapan (fogging) untuk mengurangi populasi nyamuk baru 47,6% (IK95% : 39,71-55,53), penyemprotan (spraying) untuk membunuh bibit penyakit berbahaya 20,0% (IK9%% : 2,71-37,29), dan upaya pengolahan air hanya 21,9% (IK95% : -5,00-48,81).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data di lapangan maka perlu disusun rekomendasi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelayanan Kesehatan Masyarakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Merencanakan kegiatan Puskesmas keliling atau perawat keliling (mobile nursing) untuk kurun waktu tertentu sebagai dukungan sementara terpenuhinya pelayanan kesehatan masyarakat. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perlu tenaga fisioterapi untuk memberikan pelayanan perawatan pemulihan bagi penduduk pasca cedera.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perlu pemenuhan ketersediaan bahan pangan bagi penduduk kelompok berisiko terkena masalah kesehatan, khusunya program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Revitalisasi pelayanan Bidan di Desa untuk mendukung program Kesehatan Ibu dan Anak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Revitalisasi tenaga Higien Sanitasi untuk menangani sanitasi lingkungan yang tidak sehat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perlu penanganan psikiatri bagi masyarakat yang mengalami trauma.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Melaksanakan tindak lanjut asesmen kesehatan dengan melakukan surveilans penyakit menular untuk memperkuat sistem surveilans rutin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempertimbangkan langkah antisipasi munculnya penyakit diare, typhus abdominalis, DHF, campak, dan tetanus mengingat sanitasi lingkungan yang kurang higienis. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kemampuan sumber daya kesehatan untuk mendukung tahap rehabilitasi, revitalisasi dan rekonstruksi bidang kesehatan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Membangun kembali dan merenovasi Puskesmas dan Puskesmas Pembantu yang hancur dan rusak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melengkapi Puskesmas dan Puskesmas Pembantu dengan peralatan yang sesuai standard.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-116133357522375536?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/116133357522375536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=116133357522375536' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133357522375536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133357522375536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2006/10/rapid-health-assessment-rha-pasca.html' title='Rapid Health Assessment (RHA) Pasca Gempa Bumi 27 Mei 2006 di  Kabupaten Bantul, Yogyakarta'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-116133321130978962</id><published>2006-10-20T15:32:00.001+07:00</published><updated>2008-06-25T15:21:22.516+07:00</updated><title type='text'>Pengaruh Umur, Depresi dan Demensia Terhadap Disabilitas Fungsional Lansia (Adaptasi Model Sistem Neuman)</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;ABSTRACT&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Objective&lt;/strong&gt; To predict the influences of age, depression and dementia on the functional disability of an elderly using Neuman System Model perspectives.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Method &lt;/strong&gt;The study design was a cross-sectional. 70 elderly was choosen as a subject at Panti Sosial Tresna Werdha Abiyoso and Budi Dharma Province D.I. Yogyakarta. Depression was assessed using the Geriatric Depression Scale 15-Item (GDS-15), dementia was assessed using the Mini-Mental State Examination (MMSE), and functional disability was assessed using the Groningen Activity Restriction Scale (GARS).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Results &lt;/strong&gt;The mean age was 70.59 (95%CI, 68.97–72.27); 44.3% severe-moderate depressed; 55.7% mild depressed; 11.4% cognitive impairment; 90.0% with activities of daily living (ADL) independently and 10.0% with ADL fully independently but with some difficulty. The correlation analysis at α=0.05 showed that age (r=0.426; r2=18.2%; p=0.000), depression (r=0.313; r2=9.8%; p=0.008), and dementia (r=-0.512; r2=26.2%; p=0,000) had the significant relationship with functional disability of elderly. The multiple linear regressions at α=0.05 showed that regression model was functional disability = 16.906 + 0.223*Age + 0.443*[GDS-15] scores – 0.499*MMSE scores (r=0.609; r2=37.1%; p=0.000).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Conclusions &lt;/strong&gt;Age, depression and dementia had significant influence to functional disability among elderly. Age, depression and dementia that caused functional disability impairment among elderly can be described as an intra-personal environment that acts like a stressor. Nursing intervention methods that can help prevent depression and dementia need to be established. Furthermore, a comprehensive study on NSM testing is needed.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Key words: age, depression, dementia, functional disability, elderly, Neuman Systems Model&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kelompok lansia dipandang sebagai kelompok masyarakat yang berisiko mengalami gangguan kesehatan. Masalah keperawatan yang menonjol pada kelompok tersebut adalah meningkatnya disabilitas fungsional fisik. Disabilitas fungsional pada lansia merupakan respons tubuh sejalan dengan bertambahnya umur seseorang dan proses kemunduran yang diikuti dengan munculnya gangguan fisiologis, penurunan fungsi, gangguan kognitif, gangguan afektif, dan gangguan psikososial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lansia yang mengalami depresi akan mengakibatkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-harinya (Miller, 1995; Lueckenotte, 2000; Hall &amp;amp; Hassett, 2002), sedangkan lansia yang mengalami demensia dilaporkan juga memiliki defisit aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) dan aktivitas instrument kehidupan sehari-hari (AIKS) (Jorm, 1994). Sebaliknya, keterbatasan lansia dalam memenuhi aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) dapat menjadi salah satu faktor penyebab munculnya depresi (Eliopoulos, 1997; Roberts, Kaplan, Shema &amp;amp; Strawbridge, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disabilitas fungsional lansia sebagai efek dari perubahan fisiologis (umur depresi dan demensia) memungkinkan untuk dijelaskan melalui Model Sistem Neuman (MSN). Dalam kerangka pikir MSN, realitas seseorang, keluarga, atau komunitas dipandang sebagai subyek yang memiliki aspek multidimensional dan bersifat unik. Sehingga, proses penuaan lansia banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis, psikologis, perkembangan, sosiobudaya dan spiritual (Reed, 1993).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penelitian telah mencoba mengaplikasikan kerangka konseptual keperawatan MSN (Lowry &amp;amp; Anderson,1993; Gigliotti,1999; Stepans &amp;amp; Fuller,1999; Villarruel, Bishop, Simpson, Jemmott, &amp;amp; Fawcett, 2001; Fawcett &amp;amp; Gigliotti, 2001; Stepans &amp;amp; Knight; 2002) dalam beberapa kondisi dengan struktur konseptual-teori-empiris. MSN memiliki banyak interrelasi konsep sehingga derivasi teori konseptual tersebut lebih bersifat kontekstual. Oleh karenanya, peneliti mencoba mengintegrasikan proses perubahan disabilitas fungsional lansia dengan MSN sebagai salah satu teori dasar keperawatan komunitas sehingga dapat digunakan sebagai studi pendahuluan terhadap penelitian-penelitian mengenai disabilitas fungsional yang lebih kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Metodologi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan desain potong lintang yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh umur, depresi dan demensia terhadap disabilitas fungsional lansia dalam perspektif MSN. Disabilitas fungsional lansia difokuskan pada keterbatasan lansia dalam pemenuhan kebutuhan AKS dan atau AIKS. Peneliti mencoba memprediksi pengaruh variabel umur sebagai salah satu faktor endogen pada proses penuaan, depresi dan demensia sebagai faktor eksogen terhadap perubahan variabel disabilitas fungsional lansia dengan menggunakan uji regresi linear berganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi terjangkau adalah lansia yang rentan mengalami keterbatasan fungsional di panti werdha. Sampel diambil secara acak di dua panti werdha, yaitu: PSTW Abiyoso dan PSTW Budhi Dharma Propinsi D.I. Yogyakarta. Kriteria inklusi responden, yaitu: (1) lansia berusia di atas atau sama dengan 60 tahun; (2) lansia tidak dalam kondisi sakit parah / terminal; dan (3) lansia bersedia menjadi responden. Penentuan besar sampel dilakukan dengan perhitungan pengujian hipotesis untuk sebuah rata-rata populasi (Lemeshow, Hosmer, Klar &amp;amp; Lwanga, 1990) sehingga didapatkan besar sampel 70 responden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrumen Skala Depresi Geriatri/&lt;em&gt;Geriatric Depression Scale 15-Item&lt;/em&gt; (GDS-15) (Cordingley, Challis, Mozley, Bagley, Price, Burns, &amp;amp; Huxley, 2000) dan Set Data Minimal Untuk Skala Depresi/&lt;em&gt;Minimum Data Set-based Depression Rating Scale&lt;/em&gt; (MDSDRS) (Burrows, Morris, Simon, Hirdes, &amp;amp; Phillips, 2000) digunakan untuk mengukur status depresi lansia, instrumen Penilaian Status Mental Mini/&lt;em&gt;Mini-Mental State Examination&lt;/em&gt; (MMSE) (Yellowlees, 2002) dan Kuesioner Singkat Untuk Status Mental/&lt;em&gt;Short Portable Mental Status Questionnaire &lt;/em&gt;(SPMSQ) (Roccaforte, Burke, Bayer, &amp;amp; Wengel, 1994) digunakan untuk mengukur status demensia lansia, serta instrumen Skala Keterbatasan Aktivitas Groningen/&lt;em&gt;Groningen Activity Restriction Scale&lt;/em&gt; (GARS) (Suurmeijer, Doeglas, Briançon, Krol, Sanderman, Guillemin, Bjelle, &amp;amp; Heuvel, 1994) khusus untuk mengukur disabilitas fungsional lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian, diketahui uji reliabilitas interrater Kappa-Cohen menunjukkan semua alat ukur memiliki kesepatan yang sama (p=0,000). Untuk pengukuran status depresi, peneliti memilih menggunakan GDS-15 (sensitivitas 88,9%; spesifisitas 47,8%) karena memiliki tingkat akurasi (sensitivitas dan spesifisitas maksimum) lebih tinggi dibanding MDSDRS (sensitivitas 42,9%; spesifisitas 100,0%). Peneliti memilih alat ukur MMSE (sensitivitas 100,0%; spesifisitas 90,0%) untuk mengukur status demensia lansia karena akurasinya lebih tinggi dibanding alat ukur SPMSQ (sensitivitas 85,0%; spesifisitas 75,0%). Sedangkan alat ukur GARS tidak menggunakan alat ukur pembanding sehingga peneliti memilih GARS untuk mengukur status disabilitas fungsional lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil uji statistik, peneliti selanjutnya melakukan analisis deskriptif untuk menjelaskan disabilitas fungsional lansia sebagai mekanisme respons perubahan variabel umur, depresi, dan demensia dalam perspektif MSN. Interpretasi interaksi antara lansia dengan lingkungannya dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) menyusun model teoritis hubungan stresor (umur, status depresi, dan status demensia) dan respons (disabilitas fungsional), dan (2) menyusun matriks proses keperawatan berdasarkan kerangka kerja MSN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Hasil dan Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.1. Karakteristik Responden&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia memiliki umur paling rendah 60 tahun dan maksimum berusia 90 tahun. Rata-rata umur responden di kedua panti wredha adalah 70,59 tahun (interval kepercayaan 95%: 68,97 – 72,27). Sebagian besar (55,7%) responden berjenis kelamin perempuan sedangkan sisanya (44,3%) adalah lansia pria. Sebagian besar (48,4%) responden tidak pernah mengenyam bangku sekolah di tingkat mana pun sedangkan 42,9% lainnya hanya mengenyam pendidikan sampai setingkat sekolah dasar atau sekolah rakyat. Sebagian kecil dari responden yang memiliki pendidikan terakhir setingkat SLTP. Status janda memiliki proporsi terbesar (50,0%) diantara responden di PSTW Abiyoso dan PSTW Budi Dharma. Persentase lansia duda hanya 40,0%, namun ada sebagian kecil (10,0%) dari mereka yang sama sekali belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan observasi di lokasi penelitian diketahui bahwa sebagian besar (67,1%) lansia belum memiliki keterbatasan fisik namun sudah dijumpai sebagian kecil responden mengalami keterbatasan fisik. Dua puluh tiga responden yang mengalami keterbatasan fisik umumnya menggunakan alat bantu, yaitu : tongkat 69,6%, kacamata 21,7%, kruk 4,3%, dan tripod 4,3%. Setelah disabilitas fungsional lansia diukur menggunakan Skala GARS dengan rentang nilai 17-68, maka hasil pengukuran didapatkan nilai minimum 17 dan nilai maksimum 36 dengan rata-rata skor sebesar 21,89 (IK95%: 20,55-23,23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status depresi lansia diukur oleh peneliti dengan menggunakan instrumen terstruktur GDS-15 dengan rentang nilai 0 s.d. 15. Hasil pengukuran didapatkan nilai minimum 0 dan nilai maksimum 9, dari rentang tersebut diketahui rata-rata skor yang didapatkan adalah 3,63 (IK95%: 3,03-4,22). Status demensia lansia diukur menggunakan instrumen MMSE dengan rentang nilai 0 - 30. Hasil pengukuran didapatkan nilai minimum 14 dan nilai maksimum 30, dari rentang tersebut diketahui rata-rata skor yang didapatkan adalah 24,84 (IK95%: 23,83-25,86).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.2. Hubungan variabel depresi, umur, dan demensia dengan disabilitas fungsional&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisis statistik ternyata kombinasi umur, status depresi dan status demensia memiliki pengaruh yang kuat (r=0,609) terhadap disabilitas fungsional. Variabel demensia menyumbang variasi disabilitas fungsional lansia tertinggi (Beta standardized = -0,378) dibanding variabel umur (Beta standardized = 0,272), dan variabel depresi (Beta standardized = 0,196). Perhitungan determinasi koefisien korelasi (r2) model regresi menghasilkan nilai 0,371 sehingga dapat dikatakan bahwa model regresi memberikan sumbangan efektif terhadap variasi skor GARS lansia sebesar 37,1% sedangkan sisanya (62,9%) merupakan kontribusi faktor-faktor lainnya, yaitu : perilaku tak sehat, dukungan sosial kurang, dan peningkatan risiko morbiditas secara fisik (Lenze, et al., 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan berikut adalah keterkaitan kombinasi ketiga variabel terhadap disabilitas fungsional lansia. Pertama, status demensia merupakan faktor utama pada kasus disabilitas fungsioanal lansia. Temuan tersebut sejalan dengan studi McGuire, Ford, dan Ajani&lt;a class="sdendnoteanc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=26261962#sdendnote6sym" name="sdendnote6anc"&gt;vi&lt;/a&gt;(2006), bahwa gangguan fungsi kognitif memiliki risiko yang lebih berat dibanding gangguan fungsi afektif. Fungsi kognitif ditemukan sebagai indikator mortalitas dan terdapat pada banyak kasus disabilitas fungsional. Perubahan fungsi kognitif terlihat sebagai gejala awal faktor neurologis dan medis sebelum manifestasi gangguan perilaku sosial muncul (gangguan AKS, gangguan perilaku okupasional, dan gangguan partisipasi sosial)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, proses penuaan secara normal (penuaan primer) berhubungan dengan kemunduran kapasitas fisiologis, misalnya kekuatan otot, kapasitas aerobik, koordinasi neuromotorik, dan fleksibilitas. Peningkatan disabilitas fungsional yang terkait dengan usia tersebut memiliki risiko terhadap aktivitas fisik yang terbatas. Namun beberapa penelitian Lunney, Lynn &amp;amp; Hogan, 2002; Lunney, Lynn, Foley, Lipson &amp;amp; Guralnik, 2003; Leon, Glass, &amp;amp; Berkman, 2003, menegaskan bahwa proses penuaan sekunder (faktor eksogen) lebih mempercepat proses disabilitas fungsional lansia dibanding penuaan primer (faktor endogen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, relevan dengan penelitian Lenze et al. (2001) serta Penninx, Guralnik, Ferrucci, Simonsick, Daeg dan Wallace (1998) bahwa mekanisme pengaruh depresi terhadap disabilitas fisik dapat dibagi menjadi dua penyebab, yaitu : (1) depresi menyebabkan peningkatan risiko disabilitas fisik dan (2) disabilitas fisik menyebabkan depresi. Depresi di kalangan lansia yang tinggal di panti wredha cenderung mengarah pada kondisi yang kronis, karena potensi diri dan dukungan sosial dari lingkungannya kurang adekuat untuk mengembalikan pada kondisi semula. Pada akhirnya, depresi kronis menyebabkan terganggunya fungsi organ sehingga muncul disabilitas fungsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti menemukan beberapa keterbatasan fisik yang berisiko menimbulkan gejala depresi, misalnya: gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan mobilisasi, kesulitan berpakaian, berjalan terganggu, kesulitan toileting, kesulitan mandi, kesulitan merapikan diri, pola tidur terganggu, kelemahan otot ekstrimitas bawah, dan kelemahan otot ekstrimitas atas (lihat Tabel 2). Ketidaksesuaian antara keinginan dengan fungsi psikomotor dapat mengakibatkan depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kombinasi ketiga variabel bebas tersebut di atas akan bersifat sinergis terhadap munculnya gejala disabilitas fisik lansia. Model regresi tersebut konsisten dengan temuan berbagai studi Harris, Kovar, Suzman, Kleinman, dan Feldman, 1989; Guralnik, La Croix, dan Abbott, 1993; Rozzini, Frisoni, Ferrucci, Barbisoni, Bertozzi, dan Trabucchi, 1997; Andersen-Ranberg, Christensen, Jeune, Skytthe, Vasegaard, dan Vaupel, 1999; Lee dan Shinkai, 2003; Jitapunkul, Kunanusont, Phoolcharoen, Suriyawongpaisal, dan Ebrahim, 2003; Gool, Kempen, Penninx, Deeg, Beekman, dan Eijk 2003; Furner, Giloth, Arguelles, Miles dan Goldberg, 2004. Dari uraian tersebut kiranya dapat dikatakan bahwa kombinasi umur, status depresi, dan status demensia telah terbukti memiliki hubungan yang bermakna (F=12,997; p=0,000) dengan disabilitas fungsional lansia di PSTW Abiyoso dan PSTW Budi Dharma. Artinya skor GARS atau tingkat disabilitas lansia dapat diprediksi melalui formula : Disabilitas Fungsional Lansia = 16,906 + 0,223*Umur + 0,443*Skor [GDS-15] - 0,499*Skor MMSE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.3. Hubungan stresor depresi, umur, dan demensia dengan respons disabilitas fungsional&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Urutan besar pengaruh stresor demensia, umur, dan depresi terhadap disabilitas fungsional direpresentasikan dengan besar ukuran panah ketika mempenetrasi ke dalam garis pertahanan klien (Skema 1). Masing-masing garis pertahanan memiliki variabel-variebel fisiologis, psikologis, sosio-budaya, spiritual, dan perkembangan. Demensia, umur dan depresi dalam konteks penelitian ini, memainkan peran penting dalam perubahan variabel fisiologis lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Skema 1.&lt;br /&gt;Model teoritis hubungan stresor demensia, depresi dan umur &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;dengan respons disabilitas fungsional pada lansia&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;Faktor antioksidan, sistem kekebalan tubuh, kondisi membrane mukosa dan silia epitel yang berperan sebagai penghalang (barrier) masuknya bibit penyakit merupakan variabel-varibel yang menjaga Garis Pertahanan Fleksibel (GPF) sistem klien. Apabila GPF sukses memberikan proteksi bagi sistem klien maka lansia memiliki kondisi kesehatan yang prima dan produktif (menua aktif). Apabila, stressor berhasil melakukan penetrasi pada ring sistem berikutnya, maka lansia mengalami suatu kondisi yang dapat disejajarkan dengan proses menua patologis atau lansia memiliki risiko mengalami disabilitas fungsional tidak sesuai dengan umur kronologisnya.&lt;br /&gt;Pertahanan berikutnya berada pada Garis Pertahanan Normal (GPN) yang didukung oleh sistem tubuh yang berfungsi secara normal, yaitu: sistem persyarafan, respirasi, kardiovaskuler, perkemihan, integumen, gastrointestinal, muskuloskeletal, penginderaan. Apabila upaya pemulihan (rekonstitusi) sistem klien berhasil mempertahankan diri dari penetrasi stresor maka klien akan kembali kepada kondisi sebelumnya dan kembali memiliki kapasitas fungsional yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila GPN tidak bisa membendung penetrasi stressor maka Garis Perlawanan (GP) melakukan aktifasi mekanisme keseimbangan (kompensatori) dan atau perubahan fungsi sistem. Apabila mekanisme kompensatori GP tidak berhasil, maka akan muncul respon disabilitas fungsional pada lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.4. Matriks proses keperawatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Matriks proses keperawatan disusun berdasarkan integrasi MSN ke dalam proses keperawatan dengan tetap berpedoman pada model teoritis (Skema 1). Fawcett (2004) menegaskan MSN dapat diaplikasikan pada berbagai area keperawatan dan pemanfaatannya masih bersifat kontekstual sehingga masih diperlukan interpretasi lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keterbatasan dan Implikasi Penelitian&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan, sebagai berikut : (1) Peneliti tidak dapat mengambil variabel-variabel yang kemungkinan memiliki keterkaitan dengan disabilitas fungsional lansia secara komprehensif sehingga peneliti hanya memanfaatkan data penelitian yang telah dikumpulkan dari tahap pre-test; (2) Penelitian ini hanya menggambarkan karakteristik lansia yang tinggal di panti wredha sehingga kurang menggambarkan karakteristik populasi lansia secara keseluruhan; dan (3) Instrumen GARS belum dilakukan uji validitas muka kepada ahli atau uji re-translate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini memiliki implikasi yang penting bagi ranah pelayanan, pendidikan dan penelitian keperawatan. Perawat perlu mengaplikasikan model konseptual MSN dalam proses keperawatan sesuai dengan ranah pelayanannya (individu, keluarga, atau komunitas). Perawat perlu mengembangkan instrumen pengukuran berdasarkan konsep MSN dengan memperhatikan aspek kesederhanaan, kemudahan, akurasi (valid dan reliabel), serta cocok untuk diaplikasikan sesuai dengan kondisi setempat. Intervensi keperawatan merupakan upaya fasilitasi perawat terhadap klien untuk mengembalikan keseimbangan dalam dirinya (rekonstitusi) sehingga perawat perlu menggunakan pendekatan prevensi primer, sekunder dan tersier. Peneliti keperawatan perlu meningkatkan kemampuan diri dalam menganalisis model konseptual keperawatan. Mengingat, mengadaptasi MSN sebagai grand theory untuk menjelaskan konsep-konsep yang umum digunakan dalam dunia keperawatan, perlu diderivasi dengan menggunakan teori-teori lain&lt;em&gt; (middle range theory)&lt;/em&gt; dan diterjemahkan melalui instrumen empiris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan dan Saran&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh umur, status depresi dan status demensia terhadap disabilitas fungsional lansia di PSTW Abiyoso dan PSTW Budi Dharma dapat disimpulkan bahwa : (1) kombinasi umur, status depresi dan status demensia dapat digunakan untuk memprediksi disabilitas fungsional lansia dengan persamaan regresi, sebagai berikut : Disabilitas Fungsional Lansia (Skor GARS) = 16,906 + 0,223*Umur + 0,443*Skor GDS15 - 0,499*Skor MMSE; (2) kontribusi terbesar variabel bebas terhadap variasi disabilitas fungsional lansia berturut-turut adalah demensia, umur dan depresi. Temuan penelitian sejalan dan memperkuat berbagai studi tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap disabilitas fungsional pada lansia; dan (3) dalam perspektif MSN, penyebab penurunan disabilitas fungsional: status demensia, umur, dan status depresi dapat dijelaskan sebagai stresor. Respon terhadap stresor diartikan sebagai proses rekonstitusi. Intervensi untuk membantu lansia memperbaiki dan mengoptimalkan disabilitas fungsional fisiknya dikategorikan sebagai upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti mengharapkan perawat dapat menggunakan proses keperawatan berdasarkan aplikasi MSN di semua area keperawatan, baik pada tataran pelayanan individu, keluarga, kelompok khusus maupun komunitas. Perawat perlu melakukan upaya-upaya prevensi untuk mengurangi risiko disabilitas fisik pada lansia, sebagai berikut: (1) Prevensi primer dengan memperkuat GPF atau memberikan pendidik-an kesehatan kepada lansia dan keluarga tentang: menurunkan risiko stress, latihan kebugaran secara rutin dan teratur, latihan Gerak Latih Otak (GLO), mengaktifkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial ke-masyarakatan, mencari teman berdiskusi atau mengobrol, meman-faatkan pelayanan kesehatan, memanfaatkan asuransi kesehatan/ jaminan sosial, meningkatkan praktek ibadah sehari-hari; (2) Prevensi sekunder dengan memperkuat GP internal atau melakukan intervensi keperawatan dengan penemuan kasus secara dini dan penatalaksanaan gejala awal demensia dan depresi yang muncul; dan (3) Prevensi tersier dengan melindungi upaya rekonstitusi lansia, yaitu: mendorong lansia untuk patuh mengikuti program pengobatan dan rehabilitasi, pendidikan kesehatan kepada lansia dan keluarga untuk mencegah kasus terulang dan melihara stabilitas klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelola panti wredha perlu memberikan Senam Gerak Latih Otak, terapi lingkungan &lt;em&gt;(milleu therapy),&lt;/em&gt; terapi perilaku &lt;em&gt;(Cognitive Behavior Therapy)&lt;/em&gt; untuk memulihkan daya ingat lansia, sedangkan psikoterapi untuk memulihkan status depresinya. Organisasi profesi keperawatan perlu menyusun kompetensi profesi perawat komunitas dan perawat gerontik serta mengembangkan program pendidikan berkelanjutan bagi perawat profesional untuk meningkatkan kompetensi perawat komunitas dalam perawatan lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;CATATAN:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Untuk permintaan hasil penelitian selengkapnya dapat didownload dari linkage berikut:&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20Depan.pdf"&gt;Halaman Depan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20BAB%20I.pdf"&gt;BAB I&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20BAB%20II.pdf"&gt;BAB II&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20BAB%20II%20kerangka%20teori.pdf"&gt;BAB II (Kerangka Teori)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20BAB%20III.pdf"&gt;BAB III&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20BAB%20IV.pdf"&gt;BAB IV&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20BAB%20V.pdf"&gt;BAB V&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20BAB%20VI.pdf"&gt;BAB VI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20BAB%20VII.pdf"&gt;BAB VII&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;10. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20Daftar%20Pustaka.pdf"&gt;Daftar Pustaka&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;11. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FTesis%20Lampiran.pdf"&gt;Lampiran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;12. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FPublikasi.pdf"&gt;Publikasi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;13. &lt;a href="http://web.sharekingdom.com/file.php?action=download&amp;amp;userid=585&amp;amp;file=Tulisan%20seminar%2FBondan%20Palestin%20CV%20Tesis.pdf"&gt;My CV&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;strong&gt;Kepustakaan : &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Andersen-Ranberg, K., Christensen, K., Jeune, B., Skytthe, A., Vasegaard, L., &amp;amp; Vaupel, J.W. (1999). Declining Physical Abilities with Age: a Cross-sectional Study of Older Twins and Centenarians in Denmark. Age and Ageing, 28: 373-377.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Burrows, A.B., Morris, J.N., Simon, S.E., Hirdes, J.P., &amp;amp; Phillips, C. (2000). Development of a Minimum Data Set-based depression rating scale for use in nursing homes. Age and Ageing, 29: 165-172.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Eliopoulos, C. (1997). Gerontological Nursing, Philadelphia: Lippincott-Raven Pub.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Fawcett, J. (2004). Conceptual Models of Nursing: International in Scope and Substance? The Case of the Neuman Systems Model. Nursing Science Quarterly, 17(1): 50-54.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Fawcett, J. &amp;amp; Gigliotti, E. (2001). Using Conceptual Models of Nursing to Guide Nursing Research: The Case of the Neuman Systems Model. Nursing Science Quarterly, 14(4): 339-345.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Furner, S.E., Giloth, B.E., Arguelles, L., Miles, T.P., &amp;amp; Goldberg, J.H. (2004). A Co-Twin Control Study of Physical Function in Elderly African American Women. Jou Aging and Health, 16(1): 28-43.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gigliotti, E. (1999). Women’s Multiple Role Stress: Testing Neuman’s Flexible Line of Defense. Nursing Science Quarterly, 12(1): 36-44.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gool, C.H., Kempen, G.I.J.M., Penninx, B.W.J.H., Deeg, D.J.H., Beekman, A.T.F., &amp;amp; van Eijk, J.T.M. (2003). Relationship between changes in depressive symptoms and unhealthy lifestyles in late middle aged and older persons: results from the Longitudinal Aging Study Amsterdam. Age and Ageing, 32: 81-87.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Guralnik, JM., La Croix, A., &amp;amp; Abbott, RD. (1993). Maintaining Mobility in Late Life. Demographic Characteristics and Chronic Conditions. Am J Epidemiol, 137:845-857.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Harris, T., Kovar, M.G., Suzman, R., Kleinman, J.C., &amp;amp; Feldman, J.J. (1989). Longitudinal Study of Physical Ability in the Oldest-old. Am J Public Health, 79: 698-702.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hall, K.A. &amp;amp; Hassett, A.M. (2002). MJA Practice Essentials — Mental Health : 13. Assessing and managing old age psychiatric disorders in community practice, Med. Jou. of Australia. http://www.mja.com.au. Diunduh pada tanggal 14 November 2003.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jitapunkul, S., Kunanusont, C., Phoolcharoen, W., Suriyawongpaisal, P., &amp;amp; Ebrahim, S. (2003). Disability-free life expectancy of elderly people in a population undergoing demographic and epidemiologic transition. Age and Ageing, 32: 401-405.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jorm, A.F. (1994). Disability in dementia: assessment, prevention, and rehabilitation. Disabil Rehabil., 16: 98–109.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lee, Y. &amp;amp; Shinkai, S. (2003). A comparison of correlates of self-rated health and functional disability of older persons in the Far East: Japan and Korea. Archives of Gerontology and Geriatrics, 37(1): 63-76.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lemeshow S., Hosmer Jr. D.W., Klar J., &amp;amp; Lwanga S.K. (1990). Adequacy of Sample Size in Health Studies. Chichester : John Wiley &amp;amp; Sons Ltd.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lenze, E.J., Rogers, J.C., Martire, L.M., Mulsant, B.H., Rollman, B.L., Dew, M.A., Schulz, R., &amp;amp; Reynolds III, C.F. (2001). &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The Association of Late-Life Depression and Anxiety With Physical Disability A Review of the Literature and Prospectus for Future Research. Am J Geriatr Psychiatry, 9:113–135.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Leon, C.F.M., Glass, T.A., &amp;amp; Berkman, L.F. (2003). Social Engagement and Disability in a Community Population of Older Adults. Am J Epidemiol, 157(7):633–642.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lowry, L.W. &amp;amp; Anderson, B. (1993). Neuman's Framework and Ventilator Dependency: A Pilot Study. Nursing Science Quarterly, 6(4): 195-200.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lueckenotte, A.G. (2000). Gerontologic Nursing. St. Louis: Mosby-Year Book Inc.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lunney, JR., Lynn, J., Foley, DJ., Lipson, S., &amp;amp; Guralnik, JM. (2003). Patterns of Functional Decline at the End of Life. JAMA, 289(18): 2387-2392.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lunney, J.R., Lynn, J., &amp;amp; Hogan, C. (2002). Profiles of Older Medicare Decedents. J Am Geriatr Soc, 50: 1108-1112.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;McGuire, L.C., Ford, E.S., &amp;amp; Ajani, U.A. (2006). Cognitive Functioning as a Predictor of Functional Disability in Later Life. Am J Geriatr Psychiatry, 14(1): 36-42.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Miller, C.A. (1995). Nursing Care of Older Adults Theory and Practice (2nd ed.). Philadelphia : JB. Lippincott Co.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Neuman, B. &amp;amp; Fawcett, J. (2002). The Neuman systems model (4th ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penninx, B.W.J.H., Guralnik, J.M., Ferrucci, L., Simonsick, Daeg, &amp;amp; Wallace. (1998). Depressive Symptoms and Physical Decline in Community-Dwelling Older Persons. JAMA, 279(21): 1720-1726.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Reed, K.S. (1993). Adapting the Neuman System Model for Family Nursing. Nursing Science Quarterly, 6: 93-97.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Roberts, R.E., Kaplan, G.A., Shema, S.J., &amp;amp; Strawbridge, W.J. (1997). Does growing old increase the risk for depression?. Am J Psychiatry, 154(10):1384-1390.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Roccaforte, W.H., Burke, W.J., Bayer, B.L., &amp;amp; Wengel, S.P. (1994). Reliability and validity of the Short Portable Mental Status Questionnaire administered by telephone. J Geriatr Psychiatry Neurol, 7(1): 33-38.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rozzini, R., Frisoni, G.B., Ferrucci, L., Barbisoni, P., Bertozzi, B., &amp;amp; Trabucchi, M. (1997). The effect of chronic diseases on physical function. Comparison between activities of daily living scales and the Physical Performance Test. Age and Ageing, 26: 281-287.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Stepans, M.B.F. &amp;amp; Fuller, S. G. (1999). Measuring infant exposure to environmental tobacco smoke. Clinical Nursing Research, 8(3): 198-218.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Stepans, M.B.F. &amp;amp; Knight, J.R. (2002). Application of Neuman’s Framework: Infant Exposure to Environmental Tobacco Smoke. Nursing Science Quarterly, 15(4): 327-334.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sutcliffe, C., Cordingley, L., Challis, D., Mozley, C., Bagley, H., Price, L., Burns, A., &amp;amp; Huxley P. (2000). A new version of the geriatric depression scale for nursing and residential home populations: The Geriatric Depression Scale (Residential) (GDS-12R). International Psychogeriatrics, 12: 173-181.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Suurmeijer, Th.B.P.M, Doeglas, D.M., Mourn T., Briançon, S., Krol, B., Sanderman, R., Guillemin, F., Bjelle, A., &amp;amp; Heuvel, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;W.J.A. (1994). The Groningen Activity Restriction Scale for measuring disability: Its utility in international comparisons. Am J Public Health, 84: 1270-1273. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Villarruel, A.M., Bishop, T.L., Simpson, E.M., Jemmott, L.S., &amp;amp; Fawcett, J. (2001). Borrowed Theories, Shared Theories, and the Advancement of Nursing Knowledge. Nursing Science Quarterly, 14(2): 158-163.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yellowlees, P. (2002). MJA Practice Essentials — Mental Health : 1. Psychiatric assessment in community practice, Med. Jou. of Australia. http://www.mja.com.au. Diunduh pada tanggal 14 November 2003.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-116133321130978962?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/116133321130978962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=116133321130978962' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133321130978962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133321130978962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2006/10/pengaruh-umur-depresi-dan-demensia.html' title='Pengaruh Umur, Depresi dan Demensia Terhadap Disabilitas Fungsional Lansia (Adaptasi Model Sistem Neuman)'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-116133308498812396</id><published>2006-10-20T15:29:00.000+07:00</published><updated>2006-10-20T15:31:25.413+07:00</updated><title type='text'>Pembedayaan Suami Melalui Reorientasi &amp; Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/9/2749/1600/mejeng.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/9/2749/320/mejeng.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;Pemerintahan yang lalu telah mencanangkan Gerakan Sayang Ibu (GSI) pada tanggal 22 Desember 1996. Dengan gerakan tersebut diharapkan Angka Kematian Ibu (AKI) yang pada akhir pelita keenam sebesar 225 per 100.000 kelahiran hidup menurun menjadi 80 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2018 atau pada akhir Pembangunan Jangka Panjang Kedua (Abdullah Cholil et al, 1998).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;GSI bermaksud untuk memberdayakan masyarakat dan pemerintah agar ikut berpartisipasi dalam upaya meningkatkan kualitas hidup wanita terutama dalam percepatan penurunan angka kesakitan dan kematian ibu yang selanjutnya sebagai investasi untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih sehat dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya gerakan-gerakan yang telah banyak dicanangkan selama ini, setelah kurang lebih 4 tahun berjalan, ternyata gaung gerakan tersebut kian melemah dan akhirnya mati. Nampaknya, semua gerakan tersebut, termasuk GSI merupakan kegiatan yang bersifat top down, berorientasi pada proyek dan kurang aspiratif pada kebutuhan masyarakat lokal atau dapat dikatakan kurang menyentuh dan menjawab persoalan mendasar yang lebih dianggap sebagai prioritas kebutuhan masyarakat setempat. Sehingga dalam perjalanannya tidak panjang dan langgeng. Oleh karena itu kegiatan yang telah ada perlu dilakukan reorientasi dan revitalisasi agar GSI dapat berlanjut dan langgeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan program perlindungan kesehatan reproduksi wanita tidak lepas dari peranan sang suami oleh karena itu target utama GSI di tingkat keluarga adalah pemberdayaan suami agar lebih perhatian terhadap istri. Upaya untuk meningkatkan partisipasi suami tersebut perlu dicari terobosan baru dengan memperhatikan faktor-faktor spesifik yang mempengaruhinya sehingga dapat menimbulkan kesadaran dan kemauan dari para suami untuk lebih memberdayakan dirinya dalam berbagi tanggung jawab &lt;em&gt;(sharing responsibility)&lt;/em&gt; hal-hal yang biasa dilakukan oleh istrinya. Beberapa faktor yang mempengaruhi partisipasi suami dalam perlindungan kesehatan reproduksi istri (ibu), antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Budaya&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di berbagai wilayah di Indonesia terutama di dalam masyarakat yang masih tradisional (patrilineal) menganggap istri adalah &lt;em&gt;konco wingking&lt;/em&gt;, yang artinya bahwa kaum wanita tidak sederajat dengan kaum pria, dan wanita hanyalah bertugas untuk melayani kebutuhan dan keinginan suami saja. Anggapan seperti ini mempengaruhi perlakuan suami terhadap kesehatan reproduksi istri, misal : suami lebih dominan dalam mengambil keputusan dan tidak berbagi tanggung jawab dalam ber-KB; kualitas dan kuantitas makanan yang lebih baik dibanding istri maupun anak karena menganggap suamilah yang mencari nafkah dan sebagai kepala rumah tangga sehingga asupan zat gizi mikro untuk istri kurang; suami tidak empati dan peduli dengan keadaan ibu yang sedang hamil maupun menyusui anak, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis ada beberapa cara untuk merubah budaya tersebut, yaitu antara lain :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Persepsi mengenai kesetaraan gender perlu diberikan dan disosialisasikan sejak dini melalui lembaga formal (sekolah) maupun non formal (kelompok masyarakat), dan diaplikasikan ke dalam praktek kehidupan sehari-hari. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyuluhan pada sarana maupun tempat dimana pria sering berkumpul dan berinteraksi (misal : tempat kerja, club, tukang cukur, dan lain-lain).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berikan informasi sesering mungkin dengan stimulus yang menarik perhatian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masyarakat Indonesia pada umumnya masih mempunyai perasaan malu dan sungkan kepada lingkungan sekitar, oleh karena itu dalam pelaksanaan GSI perlu dipikirkan sesuatu aturan atau kegiatan yang dapat memotivasi kepala keluarga untuk segera merealisasikan kepedulian pada istrinya. Satgas GSI di tingkat desa perlu membuat tanda sedemikian rupa yang berwarna merah, kuning atau hijau serta diletakkan di atas pintu depan sebagai isyarat bahwa keluarga tersebut memiliki ibu hamil yang sehat, perlu perhatian ataupun perlu kewaspadaan. Diharapkan apabila tanda berwarna merah ataupun kuning suami sebagai kepala keluarga akan mempunyai beban psikologis untuk segera memeriksakan istrinya yang hamil ke petugas kesehatan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendapatan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada masyarakat kebanyakan, 75% - 100% penghasilannya dipergunakan untuk membiayai keperluan hidupnya bahkan banyak keluarga rendah yang setiap bulan bersaldo kurang. Persoalan ekonomi keluarga merupakan prioritas utama dalam pemenuhannya sehingga semua krisis yang seharusnya ditanggulangi di tingkat keluarga pada akhirnya kalah dengan prioritas kebutuhan hidupnya sehari-hari, misalnya ibu hamil tidak diperiksakan ke pelayanan kesehatan karena tidak mempunyai kemampuan untuk membayar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Atas dasar faktor tersebut di atas maka prioritas kegiatan GSI di tingkat keluarga dalam pemberdayaan suami tidak hanya terbatas pada kegiatan yang bersifat anjuran (advocacy) saja seperti yang ada selama ini, akan tetapi lebih bersifat holistik. Kegiatan tersebut diharapkan tidak saja menjawab permasalahan kesehatan ibu secara Nasional akan tetapi yang lebih penting dapat menyentuh dan ikut menyelesaikan persoalan mendasar di tingkat keluarga yaitu ekonomi sehingga gerakan tersebut bukan hanya sebagai keinginan tetapi lebih sebagai kebutuhan karena ikut membantu meningkatkan ekonomi keluarga. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara konkrit dapat dikemukakan bahwa pemberdayaan suami perlu dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi keluarga sehingga kepala keluarga tidak mempunyai alasan untuk tidak memperhatikan kesehatan istrinya karena permasalahan keuangan. Pemberdayaan ekonomi keluarga dengan jalan membentuk kelompok usaha yang didasarkan pada sumber daya yang tersedia di sekitarnya serta mencari solusi pemasarannya sekaligus (misal : kelompok usaha gula merah, alat rumah tangga, pertanian, perkebunan, dan lain-lain).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tingkat pendidikan &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tingkat pendidikan akan mempengaruhi wawasan dan pengetahuan suami sebagai kepala rumah tangga. Semakin rendah pendidikan suami maka akses terhadap informasi kesehatan istrinya akan berkurang sehingga suami akan kesulitan untuk mengambil keputusan secara efektif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhirnya, pandangan baru yang perlu diperkenalkan dan lebih disosialisasikan kembali untuk memberdayakan kaum suami mendasarkan pada pengertian bahwa :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Suami memainkan peranan yang sangat penting, terutama dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan kesehatan reproduksi pasangannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suami sangat berkepentingan terhadap kesehatan reproduksi pasangannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saling pengertian serta kesetimbangan peranan antara kedua pasangan dapat membantu meningkatkan perilaku yang kondusif terhadap peningkatan kesehatan reproduksi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pasangan yang selalu berkomunikasi tentang planning keluarga maupun kesehatan reproduksi antara satu dengan lainnya akan mendapatkan keputusan yang lebih efektif dan lebih baik.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Semarang, Maret 2000&lt;/p&gt;&lt;p&gt;KEPUSTAKAAN:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Abdullah Cholil, Meiwita B. Iskandar, Rosalia Sciortino, “The Life Saver : The Mother Friendly Movement in Indonesia”, The State Ministry for the Role of Women, Republic of Indonesia and the Ford Foundation, Jakarta, 1998.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-116133308498812396?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/116133308498812396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=116133308498812396' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133308498812396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133308498812396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2006/10/pembedayaan-suami-melalui-reorientasi_20.html' title='Pembedayaan Suami Melalui Reorientasi &amp; Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-116133269946744982</id><published>2006-10-20T15:20:00.000+07:00</published><updated>2006-10-20T15:25:01.806+07:00</updated><title type='text'>Pengaruh Terapi Okupasional Terhadap Penurunan Tingkat Depresi dan Peningkatan Pemenuhan Kebutuhan Sehari-Hari pada Lansia</title><content type='html'>&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;blockquote id="83fd99f6"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/9/2749/1600/Grafik%202%20Okupasional.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/9/2749/320/Grafik%202%20Okupasional.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/9/2749/1600/Grafik%201%20Okupasional.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 196px" height="62" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/9/2749/320/Grafik%201%20Okupasional.jpg" width="70" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/9/2749/1600/Abi%20sayang%20Dila.0.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ABSTRACT&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Objective &lt;/strong&gt;To establish if a brief programme of domiciliary occupational therapy could improve the Activities of Daily Living (ADL) and decrease depression among elderly people.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Design &lt;/strong&gt;One group before and after intervention design.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Setting &lt;/strong&gt;PSTW Abiyoso Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Subjects &lt;/strong&gt;31patients with depression disorder.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Intervention &lt;/strong&gt;Four weeks domiciliary occupational therapy or routine follow up.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Main outcome measures &lt;/strong&gt;The Barthel activities of daily living index and Geriatric Depression Scale&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Results &lt;/strong&gt;By four weeks elderly who needs helped for his ADL (12.9%) changed to independent state and they who unable for his ADL (3.2%) changed to needs help. These patterns were statistically significant (P=0.0125). Elderly with moderate depression disorder increased to mild state (12.9%). These patterns were statistically significant too (P=0.023).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Conclusion &lt;/strong&gt;The functional outcome and satisfaction of patients with depression can be improved by a brief occupational therapy programme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Key words : occupational therapy, Activities of Daily Living (ADL), depression&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Team: Bondan Palestin, Yustiana Olfah, Mariyono Sedyo Winarso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-116133269946744982?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/116133269946744982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=116133269946744982' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133269946744982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133269946744982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2006/10/pengaruh-terapi-okupasional-terhadap.html' title='Pengaruh Terapi Okupasional Terhadap Penurunan Tingkat Depresi dan Peningkatan Pemenuhan Kebutuhan Sehari-Hari pada Lansia'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-116133228903274855</id><published>2006-10-20T15:03:00.000+07:00</published><updated>2006-10-20T15:18:10.613+07:00</updated><title type='text'>Konsep Duka Cita Menurut Model Betty Neuman</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/9/2749/1600/Neuman.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/9/2749/320/Neuman.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;table id="HB_Mail_Container" height="100%" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%" border="0" unselectable="on"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr height="100%" unselectable="on" width="100%"&gt;&lt;td id="HB_Focus_Element" valign="top" width="100%" background="" height="250" unselectable="off"&gt;&lt;strong&gt;ABSTRACT&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Much has been written in the professional and popular literature about grief. The multiplicity of sources for information about the phenomenon often leads to confusion regarding terminology and process. In addition, assessment and intervention methods show the phenomenon as unidimensional despite evidence to the contrary. Because nursing routinely deals with grief, it is important that a framework be developed to help understand the process and guide appropriate interventions. The Neuman systems model is particularly well suited as a framework because concepts found in the model are similar to descriptions of the concept of grief. An analHysis of the grief concept using the Neuman model is presented, with perinatal grief presented as an example.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keywords: concept analysis, grief, Neuman systems model, perinatal grief&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr unselectable="on" hb_tag="1"&gt;&lt;td style="FONT-SIZE: 1pt" height="1" unselectable="on"&gt;&lt;div id="hotbar_promo"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konsep kehilangan dan berduka (duka cita) telah secara luas dipublikasikan di berbagai textbook maupun jurnal sejak 50 tahun yang lalu. Dari pemikiran klasik Bowlby (1980) tentang perasaan cinta dan kehilangan (attachment and loss) sampai dengan penjelasan mengenai kepedihan (poignant) dari C.S. Lewis (1994). Perawat jarang sekali mendalami perasaan duka cita yang sedang dialami oleh kliennya, meskipun duka cita adalah sebuah pengalaman universal dalam diri manusia. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian mengenai struktur pengalaman duka cita yang dialami oleh klien dan pengkajian tentang kompleksitas perilaku seseorang yang terkait dengan pengalaman duka cita agar kita dapat memahami proses duka cita tersebut dan menyusunnya dalam terminologi yang terukur. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tulisan ini berupaya untuk menyajikan konsep duka cita berdasarkan pendekatan dengan model Neuman (Neuman,1982). Penggunaan model asuhan keperawatan yang berorientasi pada proses secara holistik akan dapat membantu kita untuk memahami secara jelas mengenai proses, perilaku, dan tanggapan manusia terhadap duka cita yang sedang dialaminya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BATASAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Duka cita bermakna kesedihan yang mendalam disebabkan karena kehilangan seseorang yang dicintainya (misal kematian). Menurut Cowles dan Rodgers (2000), duka cita dapat digambarkan sebagai berikut : &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Duka cita dilihat sebagai suatu keadaan yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Duka cita tidak berbanding lurus dengan keadaan emosi, pikiran maupun perilaku seseorang. Duka cita adalah suatu proses yang ditandai dengan beberapa tahapan atau bagian dari aktivitas untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu : (1) menolak &lt;em&gt;(denial); &lt;/em&gt;(2) marah &lt;em&gt;(anger); &lt;/em&gt;(3) tawar-menawar &lt;em&gt;(bargaining); &lt;/em&gt;(4) depresi &lt;em&gt;(depression); &lt;/em&gt;dan (5) menerima &lt;em&gt;(acceptance) &lt;/em&gt;(TLC, 2004) . Pekerjaan duka cita terdiri dari berbagai tugas yang dihubungkan dengan situasi ketika seseorang melewati dampak dan efek dari perasaan kehilangan yang telah dialaminya. Duka cita berpotensi untuk berlangsung tanpa batas waktu. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengalaman duka cita bersifat individu dan dipengaruhi oleh banyak faktor, kemudian dapat mempengaruhi aspek kehidupan lainnya. Duka cita lebih dari sekedar tetesan air mata, dimana ia memanifestasikan dirinya sendiri dalam kesadaran, fisik, tingkah laku, jiwa, psikologis, dan kehidupan sosial seseorang, seperti halnya perilaku emosional.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Duka cita bersifat normatif namun tidak ada kesepakatan universal yang bisa menjelaskan sejauhmana kondisi normalnya. Perawat seringkali merasakan adanya sesuatu yang membatasi duka cita klien sehingga tidak sesuai dengan apa yang perawat pikirkan; penghalang tersebut berasal dari latar belakang sosial budaya klien yang mendorong terciptanya berbagai macam respon duka cita (Cowles&amp; Rodgers, 2000, pp. 109-110).Dengan memanfaatkan literatur dari berbagai disiplin ilmu sebagai basis analisis, Cowles and Rodgers (1991) mendefinisikan duka cita sebagai “suatu proses dinamis, menyebar, dan sangat individual dengan komponen yang bersifat normatif” (p. 121). Atribut duka cita yang dikembangkan mencakup hal-hal sebagai berikut : dinamis, proses, individual, menyebar, dan normatif (Cowles &amp;amp; Rodgers, 2000). Namun atribut-atribut tersebut belum menghasilkan suatu variabel yang dapat diukur. Menurut Reed (2003), perlu dilakukan eksplorasi lebih lanjut tentang berbagai aspek duka cita yang lebih spesifik dan operasional. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PARADIGMA KEPERAWATAN DALAM MODEL SISTEM NEUMAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Model sistem Neuman (Neuman &amp; Fawcett, 2002) mempunyai empat komponen utama yang dapat digambarkan sebagai interaksi antar ranah (domain), yaitu : orang, lingkungan, kesehatan, dan ilmu keperawatan. Komponen dan terminologi yang terkait dengan ranah-ranah tersebut adalah : &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sistem klien : struktur dasar, garis penolakan, garis pertahanan normal, dan garis pertahanan fleksibel.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lingkungan : internal, eksternal, diciptakan, dan stressor.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesehatan : rentang sehat-sakit &lt;em&gt;(wellness-illness continuum)&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keperawatan : upaya pencegahan &lt;em&gt;(preventif), &lt;/em&gt;konstitusi ulang &lt;em&gt;(reconstitution), &lt;/em&gt;promosi kesehatan .&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Neuman (1995) menguraikan model keperawatan sebagai suatu konsep berdasarkan sistem yang komprehensif. Hal ini menempatkan klien dalam suatu perspektif sistem yang holistik dan multi-dimensi. Model digambarkan sebagai gabungan dari lima variabel yang saling berinteraksi, idealnya berfungsi secara harmonis dan stabil dalam kaitannya dengan stressor lingkungan internal maupun eksternal yang sedang dirasakan pada saat tertentu oleh klien sebagai sebuah sistem. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Manusia (Klien)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sistem klien terdiri dari satu rangkaian lingkaran konsentris yang mengelilingi dan melindungi struktur dasar &lt;em&gt;(basic structure).&lt;/em&gt; Tingkatan dari masing-masing lingkaran memiliki tugas pertahanan spesifik dan terdiri dari lima variabel, yaitu : (1) fisiologis, (2) psikologis, (3) perkembangan, (4) sosial budaya, dan (5) rohani. Lingkaran terjauh atau garis pertahanan fleksibel &lt;em&gt;(flexible line of defense)&lt;/em&gt; merupakan pertahanan awal untuk melawan stressor dan penyangga kondisi kesehatan yang normal. Garis pertahanan normal &lt;em&gt;(normal line of defense)&lt;/em&gt; adalah basis yang dimanfaatkan oleh sistem klien untuk menghindari dampak dari stressor, dimana tergantung dari kondisi kesehatan seseorang. Garis-garis perlawanan &lt;em&gt;(lines of resistance) &lt;/em&gt;melindungi struktur dasar bilamana suatu stressor dapat melampaui garis pertahanan fleksibel dan garis pertahanan normal (Neuman, 1995).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Variabel-variabel yang membangun sistem klien, menurut Neuman (1995) antara lain : variabel fisiologis, psikologis, sosial budaya, rohani, dan perkembangan. Variabel-variabel tersebut dibentuk berdasarkan pengalaman masa lalu dan material yang sudah ada dalam struktur dasar, mereka saling berinteraksi satu sama lain dan unik dalam setiap sistem klien. Susunan variabel kemudian akan diteruskan melalui keluarga dan masyarakat, dengan jalan tersebut sistem klien memelihara karakteristiknya dari satu generasi ke generasi lainnya (Reed, 2003).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Lingkungan&lt;em&gt; (Stressor)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Neuman (1995), stressor dalam konteks lingkungan klien dapat disebabkan oleh berbagai faktor eksternal atau internal, dan dapat berdampak negatif maupun positif bagi seseorang. Stressor dapat dirasakan oleh klien secara berulang, sehingga klien akan merespon dan akan memodifikasi atau mengubahnya. Terdapat tiga hal yang dapat membedakan dampak stressor terhadap sistem klien, yaitu : kekuatan stressor, jumlah stressor, dan elastisitas garis pertahanan fleksibel. Stressor lingkungan dapat diklasifikasikan sebagai : (1) intra-personal, (2) inter-personal, dan (3) ekstra-personal. Keberadaannya dalam diri klien sama halnya dengan stressor yang ada di luar sistem klien.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Keperawatan (Rekonstitusi)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rekonstitusi menggambarkan suatu upaya pengembalian dan perbaikan stabilitas sistem yang selalu menyertai tindakan perawatan reaksi stress klien, dimana dapat menghasilkan tingkat kesehatan yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada sebelumnya  (Neuman, 1995). Sebelumnya Neuman (1989) mendefinisikan rekonstitusi sebagai suatu kondisi adaptasi terhadap stressor lingkungan internal maupun eksternal, dimana dapat dimulai dari derajat atau tingkat reaksi apapun. Rekonstitusi ditandai dengan beberapa tahapan aktivitas untuk menuju tujuan yang diinginkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;MENGINTEGRASIKAN MODEL SISTEM NEUMAN DENGAN KONSEP DUKA CITA &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Model Sistem Neuman (1982) dapat digunakan untuk menjelaskan kerangka konsep duka cita. Variabel yang tidak bisa dipisahkan dalam sistem klien, yaitu : fisiologis, psikologis, rohani, perkembangan, dan sosial budaya, dapat digunakan untuk menguraikan atribut dari duka cita. Kehilangan di masa lalu dapat dijelaskan sebagai sebuah stressor, dan akibat dari duka cita diartikan sebagai suatu proses yang serupa dengan konsep Neuman yaitu rekonstitusi. Intervensi untuk membantu klien dalam menghadapi pengalaman duka cita dapat dikategorikan sebagai upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier (Reed, 2003).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penggunaan terminologi dari teori Neuman untuk menguraikan konsep duka cita dimulai dengan terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang muncul sebelumnya. Dalam terminologi Neuman, kejadian di masa lalu merupakan stressor, dan dalam kasus duka cita, stressor adalah perasaan kehilangan. Perasaan kehilangan mungkin bersifat intra-personal (misalnya : kehilangan salah satu anggota badan, kehilangan peran atau fungsi), interpersonal (misalnya : berpisah dengan pasangannya, anak, atau orangtua), atau ekstra-personal (misalnya: hilangnya pekerjaan, rumah, atau hilangnya lingkungan yang dikenal). Neuman (1995) menyatakan bahwa dampak dari stressor dapat didasarkan pada dua hal, yaitu : kekuatan stressor dan banyaknya stressor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Modifikasi terhadap respon duka cita diidentifikasi sebagai kombinasi dari beberapa pengalaman yang bersifat individual dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang terdiri dari hubungan antara orang yang berduka dengan obyek yang hilang, sifat alami dari kehilangan, dan kehadiran sistem pendukung (support system). Faktor-faktor lain memiliki efek yang kuat pada perasaan duka cita, seperti pengalaman individu yang sama sebelumnya, kepercayaan spiritual dan budaya yang dianut. Penjelasan mengenai modifikasi respon duka cita sama halnya dengan gagasan Neuman mengenai interaksi antar variabel (fisik, psikologis, sosial budaya, perkembangan, dan rohani). Kombinasi beberapa variabel yang unik pada diri seseorang (pengalaman sebelumnya dengan duka cita, nilai-nilai, kepercayaan spiritual, status fisiologis, batasan sosial budaya, dan yang lainnya) dapat dibandingkan dengan variabel-variabel yang menyusun garis pertahanan normal (normal lines of defense) dan garis perlawanan. Masing-masing garis pertahanan dan garis perlawanan memodifikasi pada tingkatan tertentu dimana stressor mempunyai efek yang negatif pada diri seseorang. Garis pertahanan normal membantu sistem klien untuk menyesuaikan dengan stres akibat kehilangan; garis perlawanan bertindak sebagai kekuatan untuk membantu klien kembali ke kondisi yang stabil. Faktor yang lain, seperti pengalaman individu sebelumnya dengan perasaan kehilangan dan duka cita, budaya, dan kepercayaan religius menjadi bagian dari struktur dasar individu. Garis pertahanan dan perlawanan melindungi struktur dasar dari gangguan stres yang menimpa individu (Reed, 1993).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cowles dan Rodgers (1993) sebelumnya telah mendefinisikan kondisi respon seseorang yang normal terhadap perasaan duka cita. Namun, penjelasan mengenai batasan normal dan batas waktu proses duka cita tersebut sebagian besar didasarkan pada pandangan dan pengetahuan perawat bukan berasal dari klien yang sedang mengalaminya sendiri. Reed (2003) mencoba untuk mendeskripsikannya tidak hanya sebatas pada respon normal saja, namun sampai pada cakupan respon itu sendiri. Serupa dengan Neuman (1995) yang telah menggunakan teori rentang sehat-sakit (wellness-illness continuum) untuk mendefinisikan batasan sehat. Dimana, rentang sehat-sakit menempatkan kondisi kesehatan seseorang yang optimal pada titik tertentu dan kondisi sakit pada titik yang lain. Kesehatan klien disamakan dengan kemampuan klien untuk memelihara stabilitas yang optimal dan hal itu dilihat sebagai batasan normal. Respon terhadap perasaan duka cita, selanjutnya dapat ditentukan dari efek kehilangan pada tingkat energi tertentu yang dibutuhkan untuk memelihara stabilitas klien. Berbagai macam tingkatan reaksi duka cita dapat diamati, tergantung pada kemampuan untuk mengelola perasaan kehilangan dan efeknya dalam kehidupan klien (Reed, 2003).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akibat dari perasaan duka cita bagi seseorang adalah penyusunan karakter baru dan penetapan kenyataan baru. Proses kerja duka cita, melibatkan interaksi antara klien dan lingkungan sekitarnya. Menurut Dyer (2001), proses kerja duka cita dapat disimpulkan sesuai dengan akronim TEAR, yaitu : &lt;/p&gt;&lt;p&gt;     T = To accept the reality of the loss&lt;br /&gt;     E = Experience the pain of the loss&lt;br /&gt;     A = Adjust to the new environment without the lost object&lt;br /&gt;     R = Reinvest in the new reality&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sesuai dengan gagasan Neuman mengenai rekonstitusi dimana tujuannya adalah untuk mengembalikan sistem klien pada kondisi yang stabil. Rekonstitusi dapat dijelaskan sebagai proses kerja duka cita, penyusunan karakter baru, dan penetapan kenyataan baru. Sistem klien berupaya untuk mengembalikan keadaannya pada kondisi yang stabil, atau mengoptimalkan dirinya untuk mencapai daerah di luar garis pertahanan normal. Dengan kata lain, seseorang akan mencoba untuk mengatasi perasaan dukanya agar lebih baik atau normal (sehat).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KASUS PENERAPAN KONSEP DUKA CITA &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berikut kita berikan contoh pengkajian duka cita pada ibu yang mengalami abortus dengan menggunakan pendekatan Model Sistem Neuman. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Contoh kasus : &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah keluarga yang bahagia sedang menantikan kehadiran anak pertama mereka. Sang ibu telah mengandung dua bulan. Namun, suatu saat ibu mengalami perdarahan dan menurut dokter kehamilan tersebut tidak bisa dipertahankan. Oleh karena itu dilakukan aborsi untuk menyelamatkan jiwa ibunya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada kasus di atas, perasaan duka cita dari kedua pasangan tersebut memiliki karakteristik yang kompleks. Misalnya, sang ibu berduka karena calon bayinya tidak bisa dipertahankan (kehilangan inter-personal), atau hilangnya harapan terhadap kehamilan yang telah ditunggu-tunggu (kehilangan intra-personal), atau barangkali merasa bersalah kepada anggota keluarga lainnya karena tidak sesuai harapan mereka (kehilangan extra-personal). Ketika kita akan menentukan tingkat pengaruh kehilangan pada diri seseorang, kita juga harus mengkaji dampak dari perasaan kehilangan tersebut pada kehidupan mereka sehari-hari; cara mereka mengatasi kesedihannya; atau nilai-nilai dan kepercayaan yang dianut mengenai kehilangan.  Secara umum kita akan mengkaji fungsi dari masing-masing garis pertahanan fleksibel, garis pertahanan normal, garis perlawanan, dan struktur dasar. Pengkajian harus meliputi banyak aspek, meliputi : aspek fisiologis, spiritual, psikologis, perkembangan, dan sosial budaya. Sebagai contoh, pertanyaan yang perlu disampaikan adalah : (a) Apakah makna kehilangan bagi orang tua? (aspek spiritual); (b) Bagaimana rencana keluarga selanjutnya? (aspek perkembangan); (c) Bagaimana perasaan duka cita ditunjukkan oleh anggota keluarga? (aspek sosial budaya); (d) Apakah keluarga melakukan perenungan? Apakah mereka mengalami kelemahan memori dan kesadaran?, Apakah mereka kehilangan harga diri? (aspek kejiwaan); dan (e) Gejala fisik apakah yang mereka rasakan? (aspek fisiologis).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk membantu kedua pasangan tersebut mencapai rekonstitusi, dukungan inter-personal maupun ekstra-personal merupakan dua hal penting yang perlu dikaji. Siapakah anggota keluarga yang dapat memberikan dukungan positif? Apakah sistem pendukung secara kultural dapat diterima oleh kedua pasangan? (Mann et al, 1999). Setiap orangtua akan memberikan reaksi yang berbeda, tergantung pada struktur dasar yang dimilikinya. Sebuah penelitian telah membuktikan adanya perbedaan respon berdasarkan jender terhadap perasaan kehilangan pada masa perinatal (Adler &amp; Boxley, 1985; Gilbert, 1989), maka respon terhadap pengalaman duka cita bagi masing-masing orang tidak akan sama, termasuk rentang waktu pemulihannya pun berbeda. Perbedaan dalam proses duka cita tentu akan memberikan stres tambahan di antara para orang tua. Selanjutnya, faktor-faktor ekstra-personal berpotensi memberika dampak bagi mereka. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah dilakukan pengkajian secara menyeluruh, selanjutnya tahapan perencanaan, intervensi, dan evaluasi akan menggunakan proses yang sama. Perangkat penilaian akan mengukur hal-hal yang akan berdampak secara khusus pada aspek-aspek fisiologis, psikologis, rohani, sosial budaya, dan perkembangan. Misalnya, aspek sosial budaya akan mempengaruhi jenis intervensi yang bisa diterima oleh keluarga. Kehilangan pada masa perinatal merupakan suatu pengalaman yang sangat pribadi bagi banyak orang. Pemahaman mengenai arti dan pengalaman pribadi akan sangat membantu petugas kesehatan untuk menentukan intervensi yang spesifik dan terbaik. Intervensi terhadap gangguan fisiologis yang dapat menghalangi proses rekonstitusi bisa juga diberikan tergantung kondisi klien, misalnya perubahan pola tidur, nutrisi, dan sebagainya. Selanjutnya, perawat perlu mempertimbangkan aspek perkembangan seseorang dari perasaan berduka. Intervensi yang sesuai untuk ibu muda primigravida tentunya akan sangat berbeda dengan ibu yang telah memiliki anak sebelumnya (Mann et al., 1999).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PENUTUP&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penggunaan model konsep keperawatan untuk menganalisis suatu konsep tertentu dapat memberikan pedoman bagi kita dalam pengembangan perangkat penilaian dan pengukuran yang lebih spesifik, andal &lt;em&gt;(reliable) &lt;/em&gt;dan akurat. Sebab fokus utama keperawatan adalah klien, lingkungan, dan kesehatan. Model keperawatan memberikan kerangka pikir holistik dan tak terpisahkan untuk menilai konsep-konsep yang menarik perhatian bagi profesi perawat. Sudut pandang yang holistik seperti itu penting sekali digunakan bila perawat berhadapan dengan variabel yang bersifat multidimensional, misalnya duka cita, nyeri, takut, marah, atau hal-hal lain yang penting dalam asuhan keperawatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam praktek pelayanan keperawatan, penggunaan model keperawatan akan membantu perawat dalam mendefinisikan area penilaian dan memberikan pedoman untuk menentukan standar outcome yang sesuai. Ketika perawat melakukan sebuah riset keperawatan, maka model konseptual akan membantu dalam menyusun struktur yang logis dan konsisten dengan asumsi-asumsi yang sdh ada, terutama dalam menyusun berbagai instrumen, metode, dan indikator hasil pengukuran. Sebab banyak dari konsep-konsep keperawatan yang justru menggunakan atau dijelaskan dengan pendekatan disiplin ilmu lain. Seharusnya, kita dapat mendeskripsikan suatu terminologi dengan perspektif ilmu keperawatan. Reformulasi informasi hasil penelitian ke dalam model keperawatan dapat memperkuat tubuh ilmu pengetahuan &lt;em&gt;(body of knowledge)&lt;/em&gt; keperawatan sehingga akan lebih mudah mempelajari dan memahami manusia beserta implikasinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KEPUSTAKAAN :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Adler, J. D., &amp; Boxley, R. L. (1985). The psychological reactions to infertility: Sex roles and coping styles. Sex Roles, 12, 271-279.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bowlby, J. (1980). Attachment and loss. New York: Basic Books.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cowles, K., &amp;amp; Rodgers, B. (1991). The concept of grief: A foundation for nursing research and practice. Research in Nursing &amp; Health, 14, 119-127.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cowles, K., &amp;amp; Rodgers, B. (1993). The concept of grief: An evolutionary perspective. In B. Rodgers &amp; K. Knafl (Eds.), Concept development in nursing (pp. 93-106). Philadelphia:.W.B. Saunders.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cowles, K., &amp;amp; Rodgers, B. (2000). The concept of grief: An evolutionary perspective. In B. Rodgers &amp; K. Knafl (Eds.), Concept development in nursing (2nd ed., pp. 103-117). Philadelphia: W.B. Saunders.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dyer, K. A. (2001) Dealing with Death &amp;amp; Dying in Medical Education and Practice , http://www.journeyofhearts.org/jofh/kirstimd/AMSA/cross_cult.htm  [diakses tanggal 3 Desember 2004]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gilbert, K. (1989). Interactive grief and coping in the marital dyad. Death Studies, 13, 605-626.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lewis, C. S. (1994). A grief observed. San Francisco: HarperSanFrancisco.&lt;br /&gt;Mann, R., Abercrombie, P., DeJoseph, J., Norbeck, J., &amp; Smith, R. (1999). The personal experience of pregnancy for African-American women. Journal of Transcultural Nursing, 10, 297-305.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Neuman. B. (1982). The Neuman systems model: Application to nursing education and practice. New York: Appleton-Century-Crofts.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Neuman, B. (1989). The Neuman systems model (2nd ed.). Norwalk, CT: Appleton-Lange.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Neuman, B. (1995). The Neuman systems model (3rd ed.). Norwalk, CT: Appleton-Lange.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Neuman, B., &amp;amp; Fawcett, J. (2002). The Neuman systems model (4th ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Reed, K. S. (1993). Betty Neuman: The Neuman systems model. Newbury Park, CA: Sage.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Reed, K. S. (2003). Grief is More Than Tears, Nursing Science Quarterly, 16 (1), 77-81.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rodgers, B. L. (1993). Concept analysis: An evolutionary view. In B. Rodgers &amp; K. Knafl (Eds.), Concept development in nursing: Foundations, techniques, and applications (pp. 73-92). Philadelphia:Saunders.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;TLC Group. (2004) Beware the 5 Stages of "Grief",  http://www.counselingforloss.com/article8.htm [diakses tanggal 3 Desember 2004]&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-116133228903274855?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/116133228903274855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=116133228903274855' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133228903274855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133228903274855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2006/10/konsep-duka-cita-menurut-model-betty.html' title='Konsep Duka Cita Menurut Model Betty Neuman'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-116133070668761002</id><published>2006-10-20T14:51:00.000+07:00</published><updated>2006-10-20T14:51:48.006+07:00</updated><title type='text'>Ranah Penelitian Keperawatan Gerontik</title><content type='html'>ABSTRACT &lt;br /&gt;&lt;em&gt;The population aged over 60 years in Indonesia is expanding rapidly. So there are increasing demands on nursing services that this will bring, but little is known about the research for health needs of this elderly population. In the other hands, the development and utilization of nursing knowledge is essential for continued improvement in the geriatric care. This paper aims to elicit views from a wide range of service user representatives regarding their priorities for research and development in relation to the organization and delivery of the geriatric nursing services. This paper identifies areas of commonality and misalignment in relation to the geriatric nursing. Six broad priority areas for building research evidence are identified and issues relating to achieving these priorities are outlined, i.e.: (1) approaches to care, evaluation and effectiveness of individual, group interventions or new approaches to care; (2) outcomes of specific clinical interventions; (3) organizational factors that affect service delivery and workforce; (4) social factors that affect health; (5) quality of life and psychosocial health interventions; and (6) health promotion. &lt;br /&gt;Keywords: Geriatric, Nursing Research Themes, Evidence-Based Practice &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;Proses menua (aging) merupakan suatu perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial akan saling berinteraksi satu sama laini. Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu, kelemahan (impairment), keterbatasan fungsional (functional limitations), ketidakmampuan (disability), dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduranii­, iii, iv. ­ &lt;br /&gt;Transisi demografi pada kelompok lansia terkait dengan status kesehatan lansia yang lebih terjamin, sehingga usia harapan hidup lansia lebih tinggi dibanding masa-masa sebelumnyav. Pertambahan jumlah lansia di Indonesia dalam kurun waktu tahun 1990 – 2025, tergolong tercepat di duniavi. Pada tahun 2002, jumlah lansia di Indonesia berjumlah 16 juta dan diproyeksikan akan bertambah menjadi 25,5 juta pada tahun 2020 atau sebesar 11,37 % penduduk dan ini merupakan peringkat keempat dunia, dibawah Cina, India dan Amerika Serikatvii. Sedangkan umur harapan hidup berdasarkan sensus BPS tahun 1998 masing-masing untuk pria 63 tahun dan perempuan 67 tahun. Angka di atas berbeda dengan kajian WHO (1999), dimana usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata adalah 59,7 tahun dan menempati urutan ke-103 dunia viii. &lt;br /&gt;Data statistik tersebut mengisyaratkan pentingnya pengembangan keperawatan gerontik di Indonesia. Walaupun secara historis, jauh sebelum keperawatan gerontik berkembang menjadi sebuah spesialisasi pada dasarnya keperawatan memiliki peran yang besar terhadap pemberian pelayanan keperawatan bagi lansia. Fokus asuhan keperawatan pada lansia ditujukan pada dua kelompok lansia, yaitu (1) lansia yang sehat dan produktif, dan (2) lansia yang memiliki kerentanan tubuh dengan ditandai kondisi fisik yang mulai melemah, sakit-sakitan, dan daya pikir menurunix. Pemberian asuhan keperawatan bagi kedua kelompok tersebut bertujuan untuk memenuhi harapan-harapan yang diinginkan oleh lansia yaitu memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan produktif dalam tiga dimensi, yaitu fisik, fungsional, dan kognitif. Berbagai penelitian melaporkan bahwa peningkatan kualitas ketiga dimensi tersebut dapat meningkatkan harapan hidup lansia yang lebih sehat5, x, xi, xii, xiii, xiv. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENELITIAN DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN &lt;br /&gt;Pengembangan dan pemanfaatan ilmu keperawatan merupakan bagian yang esensial dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan termasuk pula keperawatan gerontik. Peningkatan kualitas tersebut hendaknya sejalan dengan penerapan praktik keperawatan yang didasarkan pada fakta (evidence-based practice for nursing). Menurut Loiselle et. al (2004), praktik keperawatan berdasarkan fakta merupakan upaya pemanfaatan hasil penelitian (fakta empiris) klinik keperawatan yang terbaik guna menentukan sebuah keputusan dalam intervensi keperawatanxv. Praktik keperawatan berdasarkan fakta memberikan kerangka kerja dan proses penggabungan hasil penelitian dan preferensi klien yang sistematis dalam pengambilan keputusan klinik, baik di tingkat individu maupun organisasi pelayanan kesehatanxvi. Fakta empiris tersebut bersumber dari temuan penelitian-penelitian keperawatan yang relevan. Fakta terbaiklah yang akan digunakan sebagai pedoman dalam menentukan pendekatan terhadap klien, keputusan klinik, dan tindakan keperawatan. Sedangkan fakta terbaik adalah rangkaian tindakan yang paling efisien, efektif, dan aman bagi klien. Bila perawat telah memiliki budaya kerja yang ilmiah, dimana ia selalu mencari pembenaran tindakan yang dilakukannya melalui pemanfaatan hasil-hasil penelitian maka diharapkan akan didapatkan hasil perawatan yang lebih baik. Karena dalam praktik keperawatan tidak ada ruang sedikit pun yang diperkenankan bagi tindakan trial and error. &lt;br /&gt;Menerapkan hasil penelitian dalam pelayanan kesehatan merupakan upaya signifikan dalam memperbaiki pelayanan kesehatan yang berorientasi pada efektifitas biaya (cost effectiveness). Meningkatkan penelitian keperawatan dan menerapkan hasilnya dalam praktek keperawatan merupakan kebutuhan mendesak untuk membangun praktek keperawatan yang efektif. Menurut studi terhadap berbagai laporan penelitian keperawatan (meta-analysis) yang dilakukan oleh Heater, Beckker, dan Olson (1988), menyatakan bahwa pasien yang mendapatkan intervensi keperawatan yang bersumber dari penelitian memiliki out come yang lebih baik bila dibandingkan dengan pasien yang hanya mendapatkan intervensi standar xvii. &lt;br /&gt;Terdapat banyak model proses penerapan hasil penelitian dalam lingkup pelayanan keperawatan yang telah disusun oleh para ahli, misalnya model Rosswurm dan Larrabeexviii, model Iowaxix, model Children’s Hospital of Philadelphiaxx, model Auroraxxi, model Stetlerxxii, model Diffusion of Innovationxxiii, model Research Nurse Intern Programxxiv, atau model Process of Research Utilizationxxv. Berikut adalah salah satu model penerapan hasil penelitian keperawatan yang paling banyak digunakanxxvi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1. Model Penerapan Hasil Penelitian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi dari Rosswurm MA &amp; Larrabee JH. Image J Nurs Sch 1999;31:317–22. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRIORITAS PENELITIAN BIDANG KEPERAWATAN GERONTIK &lt;br /&gt;Keperawatan gerontik secara holistik menggabungkan aspek pengetahuan dan ketrampilan dari berbagai macam disiplin ilmu dalam mempertahankan kondisi kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual lansia (Lihat Gambar 2). Hal ini diupayakan untuk memfasilitasi lansia ke arah perkembangan kesehatan yang lebih optimum, dengan pendekatan pada pemulihan kesehatan, memaksimalkan kualitas hidup lansia baik dalam kondisi sehat, sakit maupun kelemahan serta memberikan rasa aman, nyaman, terutama dalam menghadapi kematian. &lt;br /&gt;Gambar 2. Sistem Informasi Keperawatan Gerontik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Eliopoulos C., (1997) &lt;br /&gt;Penelitian keperawatan gerontik diharapkan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pengembangan teknik maupun mutu pelayanan dengan berbagai pendekatan di atas. Namun dalam menyusun prioritas penelitian, perlu diseimbangkan antara kebutuhan untuk menambah ilmu dan wawasan baru dengan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas, efektifitas, efisiensi, dan kepatutan pelayanan. &lt;br /&gt;Dalam mengembangkan penelitian tersebut, kita terlebih dahulu perlu mengetahui aspek-aspek kritis yang ada dalam keperawatan gerontik. Tulisan ini mencoba untuk merangkaikan usulan prioritas penelitian di bidang keperawatan gerontik. Ada enam aspek utama yang perlu dikaji mengingat sampai saat ini penelitian-penelitian keperawatan terutama di dalam negeri masih sedikit, dan apabila ada penelitian tersebut jarang dipublikasikan xxvii. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1. Area Penelitian Keperawatan Gerontik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO. AREA PRIORITAS SUB AREA PRIORITAS &lt;br /&gt;1. &lt;br /&gt;Pelayanan, evaluasi dan efektivitas intervensi terhadap individu maupun kelompok atau metode baru dalam pelayanan keperawatan &lt;br /&gt;Ventilasi dan sirkulasi &lt;br /&gt;Nutrisi &lt;br /&gt;Ekskresi &lt;br /&gt;Aktifitas dan istirahat &lt;br /&gt;Stimulasi mental &lt;br /&gt;Tidur &lt;br /&gt;Masalah kardiovaskuler &lt;br /&gt;Masalah penyakit vaskulerisasi perifer &lt;br /&gt;Masalah respiratori &lt;br /&gt;Masalah gastrointestinal &lt;br /&gt;Masalah diabetes &lt;br /&gt;Masalah muskuloskeletal &lt;br /&gt;Masalah genitourinary &lt;br /&gt;Masalah neurology &lt;br /&gt;Masalah menurunnya fungsi sensorik &lt;br /&gt;Masalah dermatology &lt;br /&gt;Masalah kesehatan mental &lt;br /&gt;Tindakan operatif &amp; dampaknya &lt;br /&gt;Paliative care &lt;br /&gt;Manajemen nyeri &lt;br /&gt;Rehabilitasi &lt;br /&gt;Perawatan diri dan higienitas &lt;br /&gt;Pengawasan menelan obat &lt;br /&gt;2. &lt;br /&gt;Parameter &amp; hasil (outcome) intervensi klinis yang spesifik &lt;br /&gt;Diagnosis keperawatan yang spesifik &lt;br /&gt;Pengembangan alat ukur geriatrik (contoh Iowa Index of Geriatric Assessment Tools dapat diakses di http://www.uiowa.edu) &lt;br /&gt;3. &lt;br /&gt;Faktor-faktor organisasi yang berdampak pada sistem pelayanan dan kinerja &lt;br /&gt;Peran kolaborasi &lt;br /&gt;Model perawatan di rumah (home care) &lt;br /&gt;Model perawatan di rumah sakit (hospital care) &lt;br /&gt;Model perawatan di panti jompo (institutional care) &lt;br /&gt;Model perawatan jangka panjang (long-term care) &lt;br /&gt;Nursing agency &lt;br /&gt;Team work &lt;br /&gt;NO. &lt;br /&gt;AREA PRIORITAS &lt;br /&gt;SUB AREA PRIORITAS &lt;br /&gt;4. &lt;br /&gt;Faktor-faktor sosial yang berdampak pada tingkat kesehatan lansia &lt;br /&gt;Aspek legal : kebijakan &amp; regulasi &lt;br /&gt;Kelenturan kesehatan yang berbasis budaya &amp; kepercayaan &lt;br /&gt;Sosial ekonomi &lt;br /&gt;Konsep-konsep gerontologi (aspek kesehatan, aspek spiritual, aspek etika dan moral, aspek nutrisi, aspek psikologis, aspek fisiologis, &amp; aspek sosial) &lt;br /&gt;5. &lt;br /&gt;Kualitas hidup (quality of life) dan intervensi kesehatan psikososial &lt;br /&gt;Penilaian status fungsional &lt;br /&gt;Psikologis &lt;br /&gt;Senile dementia &lt;br /&gt;Olah raga &lt;br /&gt;Rekreasi &lt;br /&gt;Upaya preventif terhadap risiko kecelakaan &lt;br /&gt;Interaksi sosial &lt;br /&gt;Spiritual &lt;br /&gt;Manajemen Stress &lt;br /&gt;Sakaratul maut &lt;br /&gt;Support keluarga &lt;br /&gt;Aktifitas dan disfungsi seksual &lt;br /&gt;6. &lt;br /&gt;Promosi kesehatan &lt;br /&gt;Pesan &lt;br /&gt;Teknologi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP &lt;br /&gt;Mengingat proyeksi penduduk lansia pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 11,37 % penduduk Indonesia, maka keperawatan gerontik memiliki potensi kerja yang cukup besar di masa mendatang. Perawat perlu membudayakan kegiatan penelitian dan pemanfaatan hasil-hasilnya dalam praktik klinik keperawatan untuk mempersiapkan pelayanan yang prima. Praktik yang bersifat evidence-based harus dibuat sebagai bagian integral dari kebijakan organisatoris pelayanan kesehatan pada semua tingkatan agar langkah-langkah tersebut dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan tersebutxxviii. Budaya ilmiah juga dapat dimanfaatkan sebagai strategi akuntabilitas publik, justifikasi tindakan keperawatan, dan bahan pengambilan keputusan. Kesadaran menejer keperawatan terhadap nilai penelitian yang potensial akan memberikan dampak yang menguntungkan bagi organisasi, misalnya kinerja keperawatan yang meningkat dan out come klien yang optimal19. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REFERENSI : &lt;br /&gt;Kuntjoro ZS. (2002a). Masalah Kesehatan Jiwa Lansia. http://www.e-psikologi.com/usia/ 160402.htm. Diakses : 16 April 2002. &lt;br /&gt;ii Setiabudhi T &amp; Hardywinoto. (1999). Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek, Menjaga Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. &lt;br /&gt;iii Eliopoulos C. (1997). Gerontological Nursing. Philadelphia: Lippincott-Raven Pub. &lt;br /&gt;iv Hogan DB. Effects of Age and Disease on Disability in the Very Elderly. Clinical Geriatrics Online, http://www.mmhc.com/cg/1093.shtml (diakses: 17 November 2003). &lt;br /&gt;v Brayne, C., FE Matthews, MA McGee, &amp; C Jagger. (2001). Health and Ill-health in the Older Population in England and Wales. Age and Ageing, 30: 53-62. &lt;br /&gt;vi Kompas, 25 Maret 2002. &lt;br /&gt;vii Chen AJ &amp; Jones G. (1989). Ageing in Asean: Its Socio-Economic Consequences. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. &lt;br /&gt;viii Kuntjoro Z.S. (2002b). Gangguan Psikologis dan Perilaku pada Demensia. http://www.e-psikologi.com/usia/170602b.htm. Diakses: 17 Juni 2002. &lt;br /&gt;ix Chappel, Neena L, Laurel AS, &amp; Blanford AA. (1986). Aging and Health Care: a Social Perspective. Toronto: Holt, Rinehart and Winston of Canada. &lt;br /&gt;x Carver, DJ, CA Chapman, VS Thomas, KJ Stadnyk, &amp; K Rockwood. (1999). Validity and Reliability of the Medical Outcomes Study Short Form-20 Questionnaire as a Measure of Quality of Life in Elderly People Living at Home. Age and Ageing, 28: 167-74. &lt;br /&gt;xi Malone, M., A. Hill, &amp; G Smith. (2002). Three-month Follow Up of Patients Discharged from a Geriatric Day Hospital. Age and Ageing, 31: 471-5. &lt;br /&gt;xii Laukkanen, P., P Karppi, E Heikkinen, &amp; M Kauppinen. (2001). Coping with Activities of Daily Living in Different Care Settings. Age and Ageing, 30: 489-94. &lt;br /&gt;xiii Hillerås, PK, AF Jorm, A Herlitz, &amp; B Winblad. (1999). Activity Patterns in Very Old People: a Survey of Cognitively Intact Subjects Aged 90 Years or Older. Age and Ageing, 28: 147-52. &lt;br /&gt;xiv Sauvaget, C, C Jagger, &amp; AJ Arthur. (2001). Active and Cognitive Impairment-free Life Expectancies: Results from the Melton Mowbray 75+ Health Checks. Age and Ageing, 30: 509-15. &lt;br /&gt;xv Loiselle, CG., JP McGrath, DF Polit, &amp; CT Beck. (2004). Canadian Essentials of Nursing Research. Philadelphia: Lippincott Williams &amp; Wilkins. &lt;br /&gt;xvi Newman, M., I Papadopoulos, &amp; R Melifonwu. (2000). Developing organisational systems and culture to support evidence­based practice: the experience of the Evidence­Based Ward Project. Evidence-Based Nursing, Vol. 3 October: 103-5. &lt;br /&gt;xvii Heater BS, Becker AM, &amp; Olson RK. (1988). Nursing interventions and patient outcomes: A meta-analysis of studies. Nursing Research, 37(5): 303-7. &lt;br /&gt;xviii Rosswurm, MA. &amp; Larrabee JH. (1999). A model for change to evidence-based practice. Image J Nurs Sch, 31:317–22. &lt;br /&gt;xix Titler MG, Kleiber C, Rakel B, Budreau G, Everett LQ, Steelman V, Buckwalter KC, Tripp-Reimer T, &amp; Goode C. (2001). The Iowa Model of Evidence-Based Practice to Promote Quality Care. Critical Care Nursing Clinics of North America, 13(4): 497-509. &lt;br /&gt;xx Barnsteiner JH, Ford N, &amp; Howe C. (1995). Research utilization in a metropolitan children’s hospital. Nurs Clin North Am, 30: 447–55. &lt;br /&gt;xxi Van Mullem C, Burke LJ, Dohmeyer K, et al. (1999). Strategic planning for research use in nursing practice. J Nurs Adm, 29: 38–45. &lt;br /&gt;xxii Stetler CB. (1994). Refinement of the Stetler/Marram model for application of research findings to practice. Nursing Outlook; 42:15–25. &lt;br /&gt;xxiii Pearcey P, &amp; Draper P. (1996). Using the diffusion of innovation model to influence practice: a case study. J Adv Nurs, 23: 714-21. &lt;br /&gt;xxiv Warren JJ, Heermann JA. (1998). The Research Nurse Intern program. A model for research dissemination and utilization. J Nurs Adm. 28: 39–45. &lt;br /&gt;xxv Hunt JM. (1996). Barriers to research utilization. J Adv Nurs. 23: 423–5. &lt;br /&gt;xxvi Mohide, EA, &amp; B. King. (2003). Building a Foundation for Evidence-based Practice: Experiences in a Tertiary Hospital. Evidence Based Nursing Vol. 6 October: 100–3. &lt;br /&gt;xxvii Ross F, Mackenzie A, &amp; Smith E. (2003). Identifying Research Priorities for Nursing and Midwifery Service Delivery and Organisation : A study undertaken for the Nursing and Midwifery Subgroup of the National Co-ordinating Centre for NHS Service Delivery and Organisation R &amp; D (NCCSDO). London: NCCSDO. &lt;br /&gt;xxviii McGuire, J. M. (1990). Putting nursing research findings into practice: Research utilization as an aspect of the management of change. Journal of Advanced Nursing, 15(2): 614-20. &lt;br /&gt;Kuntjoro ZS. (2002a). Masalah Kesehatan Jiwa Lansia. http://www.e-psikologi.com/usia/ 160402.htm. Diakses : 16 April 2002. &lt;br /&gt;ii Setiabudhi T &amp; Hardywinoto. (1999). Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek, Menjaga Keseimbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. &lt;br /&gt;iii Eliopoulos C. (1997). Gerontological Nursing. Philadelphia: Lippincott-Raven Pub. &lt;br /&gt;iv Hogan DB. Effects of Age and Disease on Disability in the Very Elderly. Clinical Geriatrics Online, http://www.mmhc.com/cg/1093.shtml (diakses: 17 November 2003). &lt;br /&gt;v Brayne, C., FE Matthews, MA McGee, &amp; C Jagger. (2001). Health and Ill-health in the Older Population in England and Wales. Age and Ageing, 30: 53-62. &lt;br /&gt;vi Kompas, 25 Maret 2002. &lt;br /&gt;vii Chen AJ &amp; Jones G. (1989). Ageing in Asean: Its Socio-Economic Consequences. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. &lt;br /&gt;viii Kuntjoro Z.S. (2002b). Gangguan Psikologis dan Perilaku pada Demensia. http://www.e-psikologi.com/usia/170602b.htm. Diakses: 17 Juni 2002. &lt;br /&gt;ix Chappel, Neena L, Laurel AS, &amp; Blanford AA. (1986). Aging and Health Care: a Social Perspective. Toronto: Holt, Rinehart and Winston of Canada. &lt;br /&gt;x Carver, DJ, CA Chapman, VS Thomas, KJ Stadnyk, &amp; K Rockwood. (1999). Validity and Reliability of the Medical Outcomes Study Short Form-20 Questionnaire as a Measure of Quality of Life in Elderly People Living at Home. Age and Ageing, 28: 167-74. &lt;br /&gt;xi Malone, M., A. Hill, &amp; G Smith. (2002). Three-month Follow Up of Patients Discharged from a Geriatric Day Hospital. Age and Ageing, 31: 471-5. &lt;br /&gt;xii Laukkanen, P., P Karppi, E Heikkinen, &amp; M Kauppinen. (2001). Coping with Activities of Daily Living in Different Care Settings. Age and Ageing, 30: 489-94. &lt;br /&gt;xiii Hillerås, PK, AF Jorm, A Herlitz, &amp; B Winblad. (1999). Activity Patterns in Very Old People: a Survey of Cognitively Intact Subjects Aged 90 Years or Older. Age and Ageing, 28: 147-52. &lt;br /&gt;xiv Sauvaget, C, C Jagger, &amp; AJ Arthur. (2001). Active and Cognitive Impairment-free Life Expectancies: Results from the Melton Mowbray 75+ Health Checks. Age and Ageing, 30: 509-15. &lt;br /&gt;xv Loiselle, CG., JP McGrath, DF Polit, &amp; CT Beck. (2004). Canadian Essentials of Nursing Research. Philadelphia: Lippincott Williams &amp; Wilkins. &lt;br /&gt;xvi Newman, M., I Papadopoulos, &amp; R Melifonwu. (2000). Developing organisational systems and culture to support evidence­based practice: the experience of the Evidence­Based Ward Project. Evidence-Based Nursing, Vol. 3 October: 103-5. &lt;br /&gt;xvii Heater BS, Becker AM, &amp; Olson RK. (1988). Nursing interventions and patient outcomes: A meta-analysis of studies. Nursing Research, 37(5): 303-7. &lt;br /&gt;xviii Rosswurm, MA. &amp; Larrabee JH. (1999). A model for change to evidence-based practice. Image J Nurs Sch, 31:317–22. &lt;br /&gt;xix Titler MG, Kleiber C, Rakel B, Budreau G, Everett LQ, Steelman V, Buckwalter KC, Tripp-Reimer T, &amp; Goode C. (2001). The Iowa Model of Evidence-Based Practice to Promote Quality Care. Critical Care Nursing Clinics of North America, 13(4): 497-509. &lt;br /&gt;xx Barnsteiner JH, Ford N, &amp; Howe C. (1995). Research utilization in a metropolitan children’s hospital. Nurs Clin North Am, 30: 447–55. &lt;br /&gt;xxi Van Mullem C, Burke LJ, Dohmeyer K, et al. (1999). Strategic planning for research use in nursing practice. J Nurs Adm, 29: 38–45. &lt;br /&gt;xxii Stetler CB. (1994). Refinement of the Stetler/Marram model for application of research findings to practice. Nursing Outlook; 42:15–25. &lt;br /&gt;xxiii Pearcey P, &amp; Draper P. (1996). Using the diffusion of innovation model to influence practice: a case study. J Adv Nurs, 23: 714-21. &lt;br /&gt;xxiv Warren JJ, Heermann JA. (1998). The Research Nurse Intern program. A model for research dissemination and utilization. J Nurs Adm. 28: 39–45. &lt;br /&gt;xxv Hunt JM. (1996). Barriers to research utilization. J Adv Nurs. 23: 423–5. &lt;br /&gt;xxvi Mohide, EA, &amp; B. King. (2003). Building a Foundation for Evidence-based Practice: Experiences in a Tertiary Hospital. Evidence Based Nursing Vol. 6 October: 100–3. &lt;br /&gt;xxvii Ross F, Mackenzie A, &amp; Smith E. (2003). Identifying Research Priorities for Nursing and Midwifery Service Delivery and Organisation : A study undertaken for the Nursing and Midwifery Subgroup of the National Co-ordinating Centre for NHS Service Delivery and Organisation R &amp; D (NCCSDO). London: NCCSDO. &lt;br /&gt;xxviii McGuire, J. M. (1990). Putting nursing research findings into practice: Research utilization as an aspect of the management of change. Journal of Advanced Nursing, 15(2): 614-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-116133070668761002?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/116133070668761002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=116133070668761002' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133070668761002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116133070668761002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2006/10/ranah-penelitian-keperawatan-gerontik_20.html' title='Ranah Penelitian Keperawatan Gerontik'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-36263569.post-116121298604315160</id><published>2006-10-19T06:07:00.000+07:00</published><updated>2006-10-19T06:09:46.046+07:00</updated><title type='text'>Pembedayaan Suami Melalui Reorientasi &amp; Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu</title><content type='html'>Pemerintahan yang lalu telah mencanangkan Gerakan Sayang Ibu (GSI) pada tanggal 22 Desember 1996. Dengan gerakan tersebut diharapkan Angka Kematian Ibu (AKI) yang pada akhir pelita keenam sebesar 225 per 100.000 kelahiran hidup menurun menjadi 80 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2018 atau pada akhir Pembangunan Jangka Panjang Kedua (Abdullah Cholil et al, 1998). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;GSI bermaksud untuk memberdayakan masyarakat dan pemerintah agar ikut berpartisipasi dalam upaya meningkatkan kualitas hidup wanita terutama dalam percepatan penurunan angka kesakitan dan kematian ibu yang selanjutnya sebagai investasi untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih sehat dan berkualitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya gerakan-gerakan yang telah banyak dicanangkan selama ini, setelah kurang lebih 4 tahun berjalan, ternyata gaung gerakan tersebut kian melemah dan akhirnya mati. Nampaknya, semua gerakan tersebut, termasuk GSI merupakan kegiatan yang bersifat top down, berorientasi pada proyek dan kurang aspiratif pada kebutuhan masyarakat lokal atau dapat dikatakan kurang menyentuh dan menjawab persoalan mendasar yang lebih dianggap sebagai prioritas kebutuhan masyarakat setempat. Sehingga dalam perjalanannya tidak panjang dan langgeng. Oleh karena itu kegiatan yang telah ada perlu dilakukan reorientasi dan revitalisasi agar GSI dapat berlanjut dan langgeng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan program perlindungan kesehatan reproduksi wanita tidak lepas dari peranan sang suami oleh karena itu target utama GSI di tingkat keluarga adalah pemberdayaan suami agar lebih perhatian terhadap istri. Upaya untuk meningkatkan partisipasi suami tersebut perlu dicari terobosan baru dengan memperhatikan faktor-faktor spesifik yang mempengaruhinya sehingga dapat menimbulkan kesadaran dan kemauan dari para suami untuk lebih memberdayakan dirinya dalam berbagi tanggung jawab (sharing responsibility) hal-hal yang biasa dilakukan oleh istrinya. Beberapa faktor yang mempengaruhi partisipasi suami dalam perlindungan kesehatan reproduksi istri (ibu), antara lain adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di berbagai wilayah di Indonesia terutama di dalam masyarakat yang masih tradisional (patrilineal) menganggap istri adalah konco wingking, yang artinya bahwa kaum wanita tidak sederajat dengan kaum pria, dan wanita hanyalah bertugas untuk melayani kebutuhan dan keinginan suami saja. Anggapan seperti ini mempengaruhi perlakuan suami terhadap kesehatan reproduksi istri, misal : suami lebih dominan dalam mengambil keputusan dan tidak berbagi tanggung jawab dalam ber-KB; kualitas dan kuantitas makanan yang lebih baik dibanding istri maupun anak karena menganggap suamilah yang mencari nafkah dan sebagai kepala rumah tangga sehingga asupan zat gizi mikro untuk istri kurang; suami tidak empati dan peduli dengan keadaan ibu yang sedang hamil maupun menyusui anak, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis ada beberapa cara untuk merubah budaya tersebut, yaitu antara lain : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi mengenai kesetaraan gender perlu diberikan dan disosialisasikan sejak dini melalui lembaga formal (sekolah) maupun non formal (kelompok masyarakat), dan diaplikasikan ke dalam praktek kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;Penyuluhan pada sarana maupun tempat dimana pria sering berkumpul dan berinteraksi (misal : tempat kerja, club, tukang cukur, dan lain-lain).&lt;br /&gt;Berikan informasi sesering mungkin dengan stimulus yang menarik perhatian.&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia pada umumnya masih mempunyai perasaan malu dan sungkan kepada lingkungan sekitar, oleh karena itu dalam pelaksanaan GSI perlu dipikirkan sesuatu aturan atau kegiatan yang dapat memotivasi kepala keluarga untuk segera merealisasikan kepedulian pada istrinya. Satgas GSI di tingkat desa perlu membuat tanda sedemikian rupa yang berwarna merah, kuning atau hijau serta diletakkan di atas pintu depan sebagai isyarat bahwa keluarga tersebut memiliki ibu hamil yang sehat, perlu perhatian ataupun perlu kewaspadaan. Diharapkan apabila tanda berwarna merah ataupun kuning suami sebagai kepala keluarga akan mempunyai beban psikologis untuk segera memeriksakan istrinya yang hamil ke petugas kesehatan.&lt;br /&gt;Pendapatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masyarakat kebanyakan, 75% - 100% penghasilannya dipergunakan untuk membiayai keperluan hidupnya bahkan banyak keluarga rendah yang setiap bulan bersaldo kurang. Persoalan ekonomi keluarga merupakan prioritas utama dalam pemenuhannya sehingga semua krisis yang seharusnya ditanggulangi di tingkat keluarga pada akhirnya kalah dengan prioritas kebutuhan hidupnya sehari-hari, misalnya ibu hamil tidak diperiksakan ke pelayanan kesehatan karena tidak mempunyai kemampuan untuk membayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar faktor tersebut di atas maka prioritas kegiatan GSI di tingkat keluarga dalam pemberdayaan suami tidak hanya terbatas pada kegiatan yang bersifat anjuran (advocacy) saja seperti yang ada selama ini, akan tetapi lebih bersifat holistik. Kegiatan tersebut diharapkan tidak saja menjawab permasalahan kesehatan ibu secara Nasional akan tetapi yang lebih penting dapat menyentuh dan ikut menyelesaikan persoalan mendasar di tingkat keluarga yaitu ekonomi sehingga gerakan tersebut bukan hanya sebagai keinginan tetapi lebih sebagai kebutuhan karena ikut membantu meningkatkan ekonomi keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konkrit dapat dikemukakan bahwa pemberdayaan suami perlu dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi keluarga sehingga kepala keluarga tidak mempunyai alasan untuk tidak memperhatikan kesehatan istrinya karena permasalahan keuangan. Pemberdayaan ekonomi keluarga dengan jalan membentuk kelompok usaha yang didasarkan pada sumber daya yang tersedia di sekitarnya serta mencari solusi pemasarannya sekaligus (misal : kelompok usaha gula merah, alat rumah tangga, pertanian, perkebunan, dan lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pendidikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pendidikan akan mempengaruhi wawasan dan pengetahuan suami sebagai kepala rumah tangga. Semakin rendah pendidikan suami maka akses terhadap informasi kesehatan istrinya akan berkurang sehingga suami akan kesulitan untuk mengambil keputusan secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pandangan baru yang perlu diperkenalkan dan lebih disosialisasikan kembali untuk memberdayakan kaum suami mendasarkan pada pengertian bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami memainkan peranan yang sangat penting, terutama dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan kesehatan reproduksi pasangannya.&lt;br /&gt;Suami sangat berkepentingan terhadap kesehatan reproduksi pasangannya.&lt;br /&gt;Saling pengertian serta kesetimbangan peranan antara kedua pasangan dapat membantu meningkatkan perilaku yang kondusif terhadap peningkatan kesehatan reproduksi.&lt;br /&gt;Pasangan yang selalu berkomunikasi tentang planning keluarga maupun kesehatan reproduksi antara satu dengan lainnya akan mendapatkan keputusan yang lebih efektif dan lebih baik.&lt;br /&gt;Semarang, Maret 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPUSTAKAAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah Cholil, Meiwita B. Iskandar, Rosalia Sciortino, “The Life Saver : The Mother Friendly Movement in Indonesia”, The State Ministry for the Role of Women, Republic of Indonesia and the Ford Foundation, Jakarta, 1998.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/36263569-116121298604315160?l=bondankomunitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/feeds/116121298604315160/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=36263569&amp;postID=116121298604315160' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116121298604315160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/36263569/posts/default/116121298604315160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bondankomunitas.blogspot.com/2006/10/pembedayaan-suami-melalui-reorientasi.html' title='Pembedayaan Suami Melalui Reorientasi &amp; Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu'/><author><name>Bondan Palestin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12753641214096126877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-xBG0Ua1yyb4/TnQTbUpNBOI/AAAAAAAAAHs/475ba2aMnNk/s220/IMG_6841.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
